|| 51. Janji ||

439 74 4
                                        

Brandon menarik napas dalam, membiarkan udara dingin ruang tamu menenangkan detak jantungnya yang tiba-tiba berdebar tak karuan. Keputusannya telah bulat, dan tak ada yang bisa mengubahnya—meskipun ada keengganan yang diam-diam menyelinap di hatinya. Dia akan meninggalkan semuanya, termasuk Donia. Namun sebelum itu, dia ingin memberi Donia satu kejelasan, satu keberanian yang selama ini ia pendam.

Daniel, yang duduk di depannya, memandangi Brandon dengan tatapan tenang namun penuh pertimbangan. "Jadi, kau benar-benar akan pergi ke Singapura dan tak kembali?" tanyanya, suaranya datar namun ada nada rasa ingin tahu yang samar.

Brandon mengangguk perlahan, menundukkan kepalanya. "Iya, aku akan tinggal di sana. Selamanya."

Daniel terdiam sejenak, menyerap informasi itu. Dia memiringkan tubuhnya sedikit ke depan, menatap Brandon dengan saksama. "Donia tahu tentang ini?" tanyanya akhirnya.

Brandon menggeleng cepat. "Jangan beritahu dia. Aku... aku akan menyampaikan sesuatu padanya sendiri besok."

Daniel menyandarkan punggungnya ke sofa, bibirnya melengkung tipis seolah ingin tersenyum, namun tidak. "Kau tahu, Donia menyukaimu."

Pernyataan itu membuat Brandon tersentak. Dia mendongak, menatap Daniel dengan mata membelalak. "Apa itu benar?" tanyanya, suaranya setengah berbisik, seolah takut kata-katanya menguap sebelum sampai.

"Tentu saja benar. Aku kakaknya, aku tahu itu," jawab Daniel dengan nada yakin.

Keheningan mengisi ruang tamu untuk beberapa saat. Brandon menarik napas panjang, lalu berkata dengan nada yang mantap, meskipun ada sedikit gemetar di ujung kalimatnya. "Besok, aku akan menyatakan perasaanku padanya di depan semua orang. Tapi aku tidak akan menjalin hubungan dengannya."

Daniel mengangkat alis. "Kenapa? Bukankah itu yang diinginkan Donia?"

Brandon menunduk, tangan di pangkuannya mengepal pelan. "Karena aku tidak ingin menyakitinya. Aku tahu, hubungan jarak jauh ini akan sulit. Dan aku tidak ingin dia menunggu terlalu lama hanya untuk diriku. Tapi satu hal yang pasti, meskipun aku pergi bersama orang lain, hati ini hanya untuk Donia. Selalu."

Daniel menatap Brandon lama, mempelajari ekspresi tulus di wajahnya. Kata-kata Brandon tidak main-main, dan Daniel mulai percaya bahwa pria di depannya ini memang mencintai adiknya dengan segenap hati. Setelah beberapa saat, Daniel akhirnya mengangguk pelan.

"Kalau begitu, aku akan memberimu syarat," ujar Daniel tiba-tiba, nadanya tegas. "Jika kau masih mencintai Donia di umur 22 tahun, kembalilah. Lakukan apa pun untuk melamarnya. Tapi..." Daniel berhenti sejenak, matanya menyipit sedikit. "Jika sampai umur 25 kau belum kembali, aku akan menjodohkan Donia dengan pria lain."

Brandon mendongak cepat, wajahnya penuh keterkejutan. "Hei, jangan begitu!" serunya setengah bercanda, setengah serius.

Daniel menyeringai kecil, puas melihat reaksi Brandon. "Itu risiko yang harus kau ambil. Aku hanya ingin memastikan Donia bahagia."

Brandon mengangguk dengan mantap, kini tak ada lagi keraguan di wajahnya. "Baik, aku janji. Aku akan kembali sebelum itu terjadi. Aku akan menepati janjiku, Daniel."

Daniel bangkit dari tempat duduknya, menepuk bahu Brandon dengan tangan yang kokoh. "Bagus. Sekarang tunggu sebentar, aku akan memanggil Donia."

Brandon hanya bisa mengangguk sambil tersenyum kecil. Daniel berbalik dan berjalan ke arah tangga. Langkahnya terdengar mantap, kontras dengan hati Donia yang mungkin akan bergemuruh mendengar berita ini. Daniel mengetuk pintu kamar Donia beberapa kali sebelum membukanya perlahan.

"Donia, ada Brandon di ruang tamu. Cepat bersiap-siap. Dia ingin mengajakmu jalan," katanya singkat sebelum menutup pintu kembali.

Saat kembali ke ruang tamu, Daniel melirik Brandon yang duduk dengan ekspresi gelisah namun penuh tekad. Dia duduk kembali di sofa, menyilangkan tangan di dadanya. "Donia sedang bersiap. Tunggulah sebentar."

Brandon mengangguk lagi, kali ini dengan rasa percaya diri yang lebih besar. Besok, dia akan menghadapi Donia dan mengungkapkan semuanya perasaannya, kepergiannya, dan janjinya untuk kembali. Karena untuk Brandon, Donia adalah satu-satunya cahaya yang ingin dia perjuangkan, bahkan di tengah jarak dan waktu yang memisahkan.

Bersambungg...

Jangan lupa vote dan koment! Share ke teman-teman ya buat baca cerita ini!

Brandon [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang