|| 54. Sikap Brandon ||

448 86 73
                                        

Setelah melangkah keluar dari mobil, Donia dan Brandon berjalan menuju mall yang ramai, udara sore yang hangat terasa nyaman meskipun di tengah keramaian. Pemandangan di sekitar mereka penuh dengan orang-orang yang beraktivitas, namun Donia hanya fokus pada Brandon yang berjalan di sampingnya.

"Mau ke mana dulu?" tanya Brandon, suaranya terdengar tenang namun penuh perhatian.

Donia sempat terdiam sejenak, memikirkan tempat yang paling ia inginkan untuk dikunjungi. Kemudian, senyumnya muncul. "Gimana kalau playzone dulu?" jawabnya, tanpa ragu. Keputusan itu langsung membuat Brandon mengangguk dengan antusias.

Tanpa berkata banyak lagi, Brandon segera menghampiri Donia dan meraih tangan kanannya. "Ayok," ajaknya dengan nada santai namun penuh kehangatan. Tangan Donia tiba-tiba digenggam erat oleh Brandon, dan meskipun suasana mall yang ramai, dunia di sekitar mereka seakan menghilang. Hanya ada mereka berdua, berjalan bersama, tangan yang saling menggenggam.

Donia terkejut, tubuhnya sempat kaku sesaat. "Ah, gila! Kenapa sikap Brandon bikin aku gemes sih?" batinnya, berusaha menenangkan diri. Tapi hatinya, ah, hatinya berdebar tak terkendali. "Aduh, abang Daniel! Hati Donia deg-deg'an banget."

Namun meskipun ada kegelisahan di dalam dirinya, Donia tidak bisa menahan senyumnya. Dia terus mengikuti langkah Brandon, sambil diam-diam melihat tangan mereka yang terjalin erat. "Tolongin adekmu ini, abang Daniel," pikirnya, berbisik pada kakaknya yang tak bisa ia panggil saat ini.

Setelah beberapa waktu berjalan, mereka akhirnya sampai di playzone. Donia menyukainya, dan Brandon tahu betul itu. Mereka menghabiskan waktu bermain, tertawa, dan menikmati kebersamaan mereka. Hari itu terasa sempurna, apalagi bagi Donia yang merasa sedikit lebih dekat dengan Brandon daripada sebelumnya.

Namun, tidak hanya playzone yang menjadi tujuan mereka. Setelah puas bermain, Brandon menarik Donia ke bagian lain mall yang lebih tenang, tempat di mana kalung-kalung indah bertebaran. Donia merasa sedikit bingung. "Dia ngapain ngajak aku pergi ke tempat kalung ya?" pikirnya. Apa Brandon berniat membeli kalung untuk seseorang? Tapi siapa?

Ketika mereka masuk ke dalam toko kalung yang penuh dengan kemilau perhiasan, Donia tak bisa menahan kekagumannya. Kalung-kalung yang terpajang begitu cantik dan memikat. Ia menoleh ke Brandon yang berdiri di seberang sana, matanya mencari-cari sesuatu yang sempurna.

"Kau mau yang mana?" tanya Brandon sambil tersenyum, tatapannya lembut dan penuh perhatian.

Donia terkejut dan sedikit kebingungan. "Hah? Apa?" jawabnya, masih tidak percaya dengan pertanyaan tersebut.

Brandon mendekat, tatapannya tetap hangat, "Kamu mau kalung yang mana?" tanyanya lagi, kali ini lebih dekat, semakin membuat Donia merasa gugup.

"E-emang kamu beliin buat a-aku?" tanya Donia dengan serius, merasa jantungnya berdegup kencang. Brandon hanya mengangguk perlahan, senyum tipis menghiasi bibirnya.

Dengan sedikit kebingungan, Donia mengalihkan pandangannya, merasa tak enak jika harus memilih. "Hm, terserah kamu deh! Aku bingung mau yang mana," jawabnya. Tak ada yang lebih mudah bagi Donia selain membiarkan Brandon memilihkan sesuatu yang istimewa untuknya.

"Oke, aku bantu cariin ya?" Tanya Brandon, matanya berkilau, dan Donia hanya bisa mengangguk, merasakan ketulusan dalam setiap kata yang diucapkan.

Saat Brandon mulai mencari kalung yang paling cocok untuknya, Donia tetap berdiri di sana, namun hatinya tidak bisa berhenti berdebar. "Aduh, kenapa sih sikap Brandon bikin aku melting?" gumamnya, memegangi dadanya yang terasa sangat penuh dengan perasaan yang sulit dijelaskan.

Di antara deretan kalung yang berkilauan, Donia hanya bisa tersenyum dengan malu, merasakan getaran halus di dalam hatinya. Seakan dunia di sekelilingnya terhenti, hanya ada dirinya dan Brandon, dan perasaan yang mulai menghangat di dalam hatinya.

Bersambungg...

Share ke teman-teman yuk, buat mereka baca cerita ini!

Brandon [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang