Brandon terang - terangan menyukai Donia, tapi saat hubungan mereka mulai tumbuh, Brandon tiba- tiba pergi ke luar negeri tanpa kabar. Bertahun - tahun kemudian, saat hampir lulus kuliah, ia kembali masih dengan rasa yang sama, dan satu harapan semo...
Saat Ryan menerima ponselnya yang telah diperbaiki, seolah beban berat di hatinya sedikit terangkat. Matanya menatap layar dengan penuh perhatian, tangannya yang sedikit gemetar segera membuka aplikasi WhatsApp, tempat pesan-pesan yang begitu berarti baginya tersimpan. Detik itu, waktu seolah berhenti. Ketakutannya akan kehilangan sesuatu yang tak tergantikan berubah menjadi rasa lega saat ia melihat bahwa semua datanya tetap utuh.
"Bang, ini datanya gak hilang, kan?" tanyanya sekali lagi dengan suara cemas yang tak mampu ia sembunyikan.
Teknisi itu mengangguk sambil tersenyum, menjawab dengan tenang, "Enggak kok, aman sudah saya pastikan."
Ryan menghela napas lega, seperti menemukan sesuatu yang hilang di tengah kegelapan. Ia menatap layar ponselnya lagi, fokus pada satu nama di daftar pesan. Jari-jarinya berhenti di sana, namun ia belum berani membuka. Rasa penasaran yang ia pendam begitu lama kini bergejolak, tetapi ia memilih menahannya, membiarkan rasa itu tetap menjadi misteri untuk sementara waktu.
Sementara itu, Donia dan Raras hanya berdiri di belakang Ryan. Mereka memperhatikannya dalam diam, tak ingin mengganggu momen yang tampak begitu penting bagi teman mereka. Hening menyelimuti, hanya suara obrolan teknisi dengan pelanggan lain yang terdengar samar di kejauhan.
Setelah transaksi selesai dan Ryan memasukkan ponsel serta dompetnya kembali ke kantong celana, ia menoleh ke arah kedua gadis itu. "Udah selesai." Dengan senyum tipis, seperti ingin meyakinkan bahwa semuanya baik-baik saja.
Donia mengangguk pelan. "Syukurlah kalau gitu."
Namun, sebelum percakapan mereka berlanjut, Raras menyela dengan nada sedikit manja, "Sayang, aku laper. Kita makan, yuk!"
Ryan terkekeh kecil mendengar ucapan pacarnya. "Oke, yuk cari makan. Kita ke tempat sushi aja, ya."
Tak butuh waktu lama, mereka bertiga sudah berada di meja favorit di restoran sushi langganan mereka. Aroma khas nasi cuka bercampur ikan segar memenuhi udara, menghangatkan suasana. Donia duduk di samping Raras, sementara Ryan memilih duduk di seberang mereka, merasa lebih nyaman mengalah demi kebersamaan kedua gadis itu.
Ketika hidangan mulai disajikan, obrolan ringan bergulir di antara mereka. Namun, percakapan itu tiba-tiba berubah ketika Raras berbicara sambil mengambil sepotong sushi. "Sayang, Brandon ke mana sih? Kasian Donia. Dia kayaknya butuh kepastian."
Donia terkejut mendengar ucapannya, sumpit yang ia genggam hampir terlepas. Ia segera menoleh ke arah Raras dengan ekspresi bingung. "Kasian? Aku gak kenapa-kenapa, kok." Mencoba tersenyum meski raut wajahnya tak sepenuhnya meyakinkan.
Namun, Raras tak menyerah. Ia menatap Donia dengan pandangan lembut yang penuh perhatian, lalu berkata, "Don, aku tahu kamu bilang nggak apa-apa, tapi aku nggak percaya. Brandon ngilang gitu aja setelah ngomongin perasaan, kamu nggak sedih?"
Ryan yang sejak tadi diam akhirnya ikut bersuara. "Raras, aku beneran nggak tahu Brandon ke mana. Kita sama-sama cari tahu aja nanti." Sambil mengangkat dua jari, mencoba menenangkan situasi.
Tapi Raras tetap tak puas. "Harusnya dia gak pergi gitu aja, Ryan. Perasaan orang tuh nggak main-main."
Donia hanya diam, menyembunyikan perasaannya di balik senyuman kecil yang ia pasang sepanjang waktu. Namun dalam hatinya, pertanyaan demi pertanyaan terus bermunculan, menghantui pikirannya seperti bayangan di malam gelap. Kenapa Brandon pergi begitu saja? Kenapa semua terasa menggantung? Apa dia benar-benar serius dengan ucapannya?
Setelah selesai makan, Ryan mengantar kedua gadis itu pulang satu per satu. Ketika ia akhirnya tiba di rumah, kesunyian menyelimuti dirinya. Ia melangkah ke kamarnya, menutup pintu perlahan, dan duduk di pinggiran kasur. Suara jam dinding terdengar pelan, seolah menghitung setiap detik yang ia lewatkan.
Ryan mengambil ponselnya, membuka aplikasi WhatsApp sekali lagi. Kali ini, ia tidak hanya melihat pesan itu, tetapi mulai mengetik balasan. Kalimat demi kalimat mengalir dari pikirannya, sederhana namun penuh makna. Ketika ia selesai mengetik, ia menatap pesan itu sekali lagi, memastikan semua kata telah tersusun dengan benar sebelum akhirnya ia menekan tombol kirim.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ryan memegang ponselnya erat, menatap nomor baru yang baru saja ia simpan dengan perasaan campur aduk. Brandon, sahabatnya, telah mempercayakan sebuah rahasia besar padanya sesuatu yang Ryan tahu tak akan pernah ia khianati. Keputusan Brandon untuk pergi ke luar negeri adalah langkah besar, dan Ryan berjanji pada dirinya sendiri untuk menjaga rahasia itu rapat-rapat, seberat apa pun godaan untuk menceritakannya.
Setelah menyimpan kontak itu, Ryan melempar ponselnya ke kasur dengan gerakan ringan, seolah mencoba mengalihkan pikirannya. Ia pun merebahkan tubuhnya dengan perlahan, membiarkan punggungnya bertemu dengan kasur yang dingin. Pandangannya terarah ke langit-langit kamar, kosong namun penuh pemikiran.
"Hidup lo berubah banget, Bran," gumamnya lirih, suaranya hampir tak terdengar di tengah keheningan malam. "Gw harap lo baik-baik aja di sana. Gw tunggu lo pulang, bro."
Kata-kata itu meluncur seperti doa, tulus dan penuh harapan. Ryan menarik napas panjang, membiarkan udara malam yang sejuk mengisi paru-parunya sebelum perlahan ia menghembuskannya. Ia mencoba mengusir pikiran yang terlalu berisik di kepalanya, memejamkan mata untuk memberi tubuhnya waktu beristirahat.
Malam itu, di bawah selimut keheningan, Ryan berusaha menemukan ketenangan, sambil menyimpan harapan bahwa sahabatnya akan kembali dengan selamat sama seperti janji yang ia pegang teguh di dalam hatinya.