Setelah Candy pulang. Brandon izin pamit ke kamarnya. "Aku ke kamar dulu, Yah!"
"Oke, istirahat yang cukup ya, Brandon!" jawabnya.
"Iya, ayah!" balas Brandon. Brandon melangkah menuju kamarnya. Namun, ayahnya berbicara lagi dengan Brandon. Untung saja, Brandon masih di tangga. Jadi Brandon mendengar panggilan dari ayahnya.
"Brandon!"
Brandon berhenti menaiki tangga. Dia melihat ke ayahnya. Lalu Ayah menoleh ke arah Brandon dan berkata. "Maafin, ayah! Ayah menyepakatin kamu untuk melanjutkan perusahaan yang berada Di Singapure!"
"Tidak apa-apa, Ayah! Sebenarnya aku gak mau! Tapi, yaudahlah aku nurutin permintaan ayah!"
"Makasih, ya! Udah mau turutin permintaan ayah! Kalau gitu kamu istirahat," balas ayahnya sambil tersenyum ke arah Brandon. Lalu ayah pergi menuju ruangan kantornya. Karena, masih banyak yang harus diurus.
Brandon melanjutkan menaiki anak tangganya. Dan sampailah Brandon di kamarnya. Dia langsung merebahkan dirinya di kasur yang empuk itu.
Di kediaman rumah Brandon. Brandon terus berpikir gimana cara membatalkan sepakatannya. Tapi, dia juga berjanji kepada ayahnya yang tadi. Dan Brandon hanya pasrah.
"Hm, gak bakal bisa ketemu Donia selama-lamanya," gumam Brandon sambil memandang ke lampu kamarnya yang berada di atas.
Setelah itu, Brandon bangun dari tempat tidurnya dan mengganti pakaian yang santai. Namun, nyaman di pakai buat pergi. Ya, Brandon mau pergi ke suatu tempat.
Setelah berganti pakaian, Brandon langsung turun dari kamarnya dan pergi menuju ruang bagasi. Dia memilih mobil kesayangannya dan setelah itu dia pergi ke rumah yang dia ingin temui.
B
eberapa menit setelah mobilnya berhenti di depan rumah megah itu, Brandon keluar dengan langkah mantap. Angin menyapu wajahnya, membawa aroma dingin yang tak ia hiraukan. Dengan satu ketukan bel, ia berharap sesuatu. Harapan untuk memperbaiki sesuatu yang telah retak.
Pintu terbuka. Daniel berdiri di sana, siluetnya tegas di bawah sorot lampu teras. Wajahnya menunjukkan keterkejutan sejenak, sebelum segera berubah menjadi dingin dan penuh ketidakramahan.
"Apa yang kau mau?" tanyanya dengan suara rendah namun penuh ketegasan, matanya menusuk tajam ke arah Brandon.
"Aku ingin bertemu Donia," jawab Brandon, tanpa ragu.
"Dia ada di kamarnya. Tapi, kurasa kau sebaiknya pergi saja," balas Daniel, suaranya memotong seperti pisau. Tanpa menunggu jawaban, dia mulai menutup pintu, tapi tangan Brandon sigap menahannya.
"Daniel, aku tidak bisa pergi. Aku ingin menghabiskan waktu bersamanya. Aku harus bicara dengannya," ucap Brandon, nadanya memohon namun tetap tegas.
Daniel mendengus, menatapnya dengan pandangan yang penuh rasa muak. "Kau sudah menyia-nyiakan dia. Kau pikir aku akan membiarkanmu begitu saja datang dan merusak semuanya lagi?"
Brandon menghela napas, tangan kirinya tetap menahan pintu yang hampir tertutup. "Aku tahu aku salah. Tapi, aku di sini untuk memperbaiki kesalahanku. Izinkan aku, Daniel. Hanya itu yang aku minta."
Daniel menatapnya, menimbang kata-kata itu. Namun, amarah masih membara di matanya. "Jika kau benar-benar peduli padanya, kenapa kau pergi saat dia membutuhkanmu?"
Kata-kata itu menghantam Brandon. Untuk pertama kalinya, ia terdiam, terjebak antara pembelaan diri dan rasa bersalah yang menyesakkan dada. Namun, dalam keheningan itu, ia tahu bahwa ia harus menjawab. Tidak dengan kata-kata, tapi dengan tindakan.
"Ada urusan tadi!" jawab Brandon jujur. Memang tadi Brandon ada urusan mendadak dan urusan itu yang membuat Brandon frustasi.
Daniel melihat wajah Brandon. Di wajah Brandon sama sekali tidak ada wajah berbohong dan akhirnya dia memaafkan perbuataan Brandon.
"Oke, dimaafin. Ayok masuk, biar Donianya di panggilin dulu!" pinta Daniel sambil masuk ke dalam rumah dan Brandon segera mengikuti Daniel dari belakang.
Brandon menduduki dirinya disofa. Lalu Daniel ikut duduk di sebrang Brandon. Daniel membuka pembicaraan terlebih dahulu "Donianya mau diajak pergi? Kan dia masih sakit!"
"Hanya untuk hari ini dan besok," jawab Brandon sedih. Inilah satu-satunya cara untuk bisa menghabiskan waktu bersama Donia.
Daniel sempat terheran dengan jawabannya Brandon. Dia tidak mengerti maksudnya Brandon apa. Lalu dia bertanya. "Maksudnya?"
Sampai di sini dulu ya!
Jangan lupa beri vote:)
KAMU SEDANG MEMBACA
Brandon [TAMAT]
RomanceBrandon terang - terangan menyukai Donia, tapi saat hubungan mereka mulai tumbuh, Brandon tiba- tiba pergi ke luar negeri tanpa kabar. Bertahun - tahun kemudian, saat hampir lulus kuliah, ia kembali masih dengan rasa yang sama, dan satu harapan semo...
![Brandon [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/251426311-64-k595558.jpg)