|| 95. Azhar Ajakin Date? ||

81 35 120
                                        

Keesokan harinya, suasana di ruang tamu apartemen kembali ramai. Mereka semua sedang berkumpul di meja makan dengan buku-buku dan laptop terbuka, sibuk mengerjakan tugas Bahasa Inggris bersama. Azalea, Rifano, Randra, dan Qilla asyik berdiskusi, sementara Donia mengetik materi tugas di laptopnya dengan fokus. Azhar, yang duduk di sebelahnya, sesekali mencuri pandang ke arah Donia, terlihat agak gelisah.

Azhar merasa ini adalah momen yang tepat. Dengan suasana santai dan sepertinya tak ada yang terlalu memperhatikan, ia memberanikan diri mendekat ke arah Donia yang duduk di sebelahnya.

“Don,” panggil Azhar dengan suara pelan.

Donia menoleh, tersenyum setelah tertawa bersama yang lain. “Hmm? Ada apa, Zhar?”

Azhar tampak sedikit canggung, menggaruk-garuk belakang kepalanya. “Mau nggak, kita keluar berdua aja? Semacam ya, ngedate gitu.”

Donia terdiam sejenak, sedikit terkejut, memastikan Azhar serius. Wajahnya berubah dari santai menjadi sedikit penasaran, namun ia tetap tersenyum.

“Serius, Zhar?” tanyanya dengan tawa kecil, meskipun ada kehangatan dalam pandangannya.

Azhar tersenyum tipis, merasa lega karena Donia tak menolak. “Iya, serius. Maksud gua, kita udah sering bareng sama yang lain, tapi gua kepikiran buat jalan cuma sama lo. Gimana?”

Donia menatap Azhar beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum lebar, mengangguk pelan. “Boleh juga sih. Tapi kita ke mana?”

Azhar tertawa kecil, senang karena Donia menerima ajakannya. “Hmm, gua bakal cari tempat yang seru. Gimana kalau Sabtu sore? Jadi nggak bentrok sama jadwal lain.”

Donia mengangguk lagi, terlihat bersemangat. “Deal. Sabtu sore, ya.”

Azhar tersenyum puas. “Oke, gua bakal cari tempat yang bagus dulu.”

Namun tiba-tiba, Randra yang sedari tadi tampak fokus pada laptopnya malah ikut menyelak, memperhatikan percakapan mereka dengan tawa kecil. “Lo gimana sih, Zhar? Mau ngajak jalan tapi belum tahu mau ke mana?”

Azhar hanya tertawa gugup. “Gua takut Donia nggak suka tempat yang gua pilih.”

Donia tertawa pelan mendengar kekhawatiran Azhar. “Santai aja kali, Zhar. Mau ke mana aja juga gua mau. Kan lo yang ajak.”

Qilla menyelipkan komentar dengan nada menggoda. “Duh, kayak anak baru pacaran. Gembel banget deh lo, Zhar. Kayak nggak pernah date sama cewek aja.”

Cintya, yang sejak tadi mendengarkan percakapan mereka, juga menambahkan dengan nada bercanda, “Padahal punya mantan, tapi kok ngajak cewek jalan aja panik?”

Azhar menggaruk kepalanya, berusaha menjelaskan sambil tertawa kecil. “Kalian tuh nggak ngerti. Kalau sama mantan, mereka yang biasanya ajak gua duluan dan mereka juga yang siapin mau ke mana. Dan Donia ini... ini pertama kali gua bener-bener ajakin cewek date. Jadi ya… gua agak bingung.”

Semua temannya hanya bisa menghela napas, gemas melihat tingkah Azhar. Mereka tersenyum lebar, merasa terharu dan senang melihat Azhar akhirnya berani mengambil langkah maju dengan Donia.

Rifano akhirnya berkomentar dengan nada serius tapi penuh candaan. “Ya udah, bro. Mumpung Donia udah setuju, lo jangan panik. Kita semua support kok. Lo atur aja nanti, yakin deh Donia bakal suka.”

Azhar tersenyum lebar, merasa didukung oleh teman-temannya. Dia pun menoleh ke Donia dan tersenyum penuh rasa syukur. Donia membalas senyumannya dengan lembut, membuat suasana terasa hangat dan mendebarkan sekaligus. Sekarang, Azhar benar-benar merasa yakin bahwa rencana date mereka akan jadi momen spesial yang tak terlupakan.

Setelah diskusi tugas selesai, mereka semua mulai beranjak dari meja makan. Suasana riuh berganti menjadi lebih santai ketika satu per satu teman-teman mulai pamit dan beranjak keluar apartemen. Hanya Donia dan Azhar yang masih tertinggal di ruang tamu, membuat suasana menjadi lebih canggung tapi tetap nyaman.

“Jadi, Sabtu ya?” Azhar kembali memastikan sambil memainkan ujung buku yang ada di depannya.

Donia mengangguk, senyum kecil tersungging di wajahnya. “Iya, jangan sampai lupa ya.”

Azhar mengangguk semangat. “Tenang aja. Gua bakal nyari tempat yang bener-bener seru buat kita.”

Suasana pun kembali hening, namun hening yang menyenangkan. Mereka menikmati momen itu, sampai akhirnya Donia berdiri dan bersiap untuk pulang. Namun, sebelum benar-benar berbalik, Donia menoleh sekali lagi ke arah Azhar, kali ini dengan tatapan yang sedikit lebih lembut.

“Thanks, Zhar,” katanya pelan, membuat Azhar menatapnya bingung.

“Thanks buat apa?” Azhar mengernyit, penasaran.

“Buat ngajak gua keluar,” jawab Donia sambil tersenyum. “Mungkin keliatannya sepele, tapi gua seneng banget. Jarang ada yang ngajak gua keluar tanpa ada alasan lain selain emang pengen jalan bareng.”

Azhar tersenyum lebar, merasa lebih percaya diri. “Gua juga seneng kok. Mungkin ini juga yang pertama kali gua berani ngajak cewek cuma buat sekadar jalan.”

Donia tertawa kecil, lalu melambaikan tangan. “Oke, gua pulang dulu ya. Besok jangan lupa tugasnya selesaiin, jangan gara-gara mikirin tempat date kita malah lupa.”

Azhar hanya tertawa sambil mengangguk, menatap kepergian Donia dengan perasaan senang yang mengalir hangat di dadanya.

Bersambunggg

Brandon [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang