Beberapa bulan setelah kelulusan mereka, Donia dan Brandon mengambil keputusan besar dalam hidup: melangkah bersama ke jenjang pernikahan. Mereka percaya bahwa cinta yang mereka pupuk selama ini layak diperjuangkan hingga ke pelaminan, dalam komitmen suci yang berlandaskan kasih sayang, pengertian, dan nilai-nilai yang senantiasa mereka junjung tinggi.
Hari yang dinanti akhirnya tiba. Nuansa pernikahan yang mereka pilih bukanlah kemewahan yang mencolok, melainkan kesederhanaan yang sarat makna. Dekorasi yang elegan dan hangat memancarkan suasana penuh cinta.
Donia tampil menawan dalam balutan gaun pengantin putih yang anggun, dilengkapi hijab yang membingkai wajahnya dengan keindahan yang lembut. Senyum tulus menghiasi wajahnya sejak pagi hari senyum yang mencerminkan kebahagiaan mendalam dan keyakinan penuh akan langkah yang diambilnya.
Saat langkahnya mengayun perlahan menuju tempat akad nikah, degup jantungnya terasa kencang. Namun, ada ketenangan yang menyelimuti hatinya, karena ia tahu, pria yang menantinya di sana adalah seseorang yang akan selalu mendampinginya dalam suka dan duka.
Brandon, berdiri gagah dengan busana pengantin berwarna senada dan peci hitam di kepalanya, menanti dengan hati yang bergetar bahagia. Meski gugup, senyumnya tak pernah surut, menyambut kehadiran Donia yang perlahan menghampiri.
Tatapan mereka bersua di tengah ruang yang sakral itu. Dalam sekejap, seluruh dunia seakan menghilang yang tersisa hanyalah dua insan yang siap mengikat janji dalam ikatan suci. Pandangan mereka saling meneguhkan, seolah berkata, “Kita telah sampai di sini, bersama.”
Mereka duduk berdampingan di hadapan penghulu, tangan mereka saling menggenggam erat, seakan menyalurkan semangat dan keyakinan satu sama lain. Doa-doa pun mengalun dari mulut sang penghulu, memohon restu dari Yang Maha Kuasa atas perjalanan hidup baru yang akan mereka tempuh. Setelah khutbah yang penuh nasihat dan harapan, tibalah saat yang paling dinanti yaitu akad nikah. Suasana menjadi hening, khidmat, dan menggetarkan hati.
"Saudara Brandon, apakah Anda bersedia menerima Donia binti sebagai istri yang sah dengan mahar yang telah disepakati?" tanya sang penghulu dengan suara mantap, memecah keheningan yang khidmat.
Brandon menatap ke depan dengan penuh keyakinan, lalu mengangguk sambil tersenyum. Suaranya tenang namun penuh makna, "Saya bersedia."
Kemudian, penghulu mengalihkan pandangannya ke arah Donia yang duduk di samping Brandon. "Dan Saudari Donia, apakah Anda bersedia menerima Brandon bin sebagai suami yang sah dengan segala hak dan kewajibannya?"
Donia menghela napas sejenak, menahan haru. Senyum lembut menghiasi wajahnya yang tampak bersinar oleh kebahagiaan.
"Saya bersedia," jawabnya tulus, penuh keikhlasan.
Detik itu juga, suasana ruangan dipenuhi takbir dan ucapan syukur. Dengan satu akad yang menggetarkan hati, dua insan kini resmi terikat dalam ikatan suci pernikahan. Para tamu yang hadir berdiri, mengucapkan selamat dan mendoakan kebaikan bagi pasangan baru tersebut. Haru dan bahagia berpadu, menciptakan suasana yang tak mudah dilupakan.
Donia dan Brandon saling berpelukan, sejenak melupakan dunia di sekeliling mereka. Dalam pelukan itu, mereka menemukan ketenangan dan kebahagiaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Mereka membisikkan doa dalam hati, memohon kepada Allah agar pernikahan ini menjadi awal dari kehidupan yang dipenuhi berkah dan cinta yang tak lekang oleh waktu.
Acara dilanjutkan dengan resepsi sederhana, namun sarat kehangatan dan cinta. Dekorasi yang minimalis justru membuat suasana terasa lebih intim dan bermakna. Keluarga, kerabat, dan sahabat-sahabat terdekat hadir dengan wajah-wajah bahagia, memberikan pelukan, ucapan selamat, dan doa tulus yang mengalir dari hati.
Di tengah-tengah tawa dan obrolan hangat, Brandon memandang istrinya yang kini duduk di sampingnya. Pandangannya penuh cinta dan syukur. Ia menggenggam tangan Donia, lalu berkata dengan suara pelan namun sangat dalam, "Aku bersyukur bisa menikahimu, Don. Aku berjanji akan selalu menjadi teman hidupmu dalam tawa maupun air mata, dalam kemudahan maupun kesulitan."
Donia menatapnya sambil tersenyum lembut, matanya berkaca-kaca. "Terima kasih, Brandon. Terima kasih sudah mencintaiku dengan sabar dan tulus. Aku juga berjanji akan bersamamu, sekuat yang aku bisa, untuk membangun rumah tangga yang penuh kasih dan keberkahan."
Malam itu ditutup dengan momen kebersamaan yang hangat. Donia dan Brandon dikelilingi oleh orang-orang tercinta, namun di dalam hati mereka berdua hanya ada satu rasa bahagia.
Hari itu akan mereka kenang sebagai hari di mana kehidupan mereka benar-benar dimulai bukan hanya sebagai individu, tetapi sebagai satu kesatuan yang saling melengkapi.
Dengan harapan yang besar dan niat yang tulus, mereka melangkah menuju kehidupan baru. Sebuah perjalanan yang tak selalu mudah, namun mereka yakin, dengan cinta, kesabaran, dan doa, mereka akan mampu membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah rumah yang menjadi tempat pulang, tempat tumbuh, dan tempat cinta bersemi selamanya.
TAMAT
KAMU SEDANG MEMBACA
Brandon [TAMAT]
RomanceBrandon terang - terangan menyukai Donia, tapi saat hubungan mereka mulai tumbuh, Brandon tiba- tiba pergi ke luar negeri tanpa kabar. Bertahun - tahun kemudian, saat hampir lulus kuliah, ia kembali masih dengan rasa yang sama, dan satu harapan semo...
![Brandon [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/251426311-64-k595558.jpg)