|| 53. Jalan Bersama ||

422 70 1
                                        

Di dalam mobil yang melaju dengan pelan, suasana terasa sedikit canggung. Donia membuka pintu belakang, berniat duduk di sana, tapi segera menyadari bahwa ada sesuatu yang aneh dengan pilihan tempat duduknya. Brandon yang duduk di kursi depan menatapnya dengan pandangan tajam melalui kaca spion.

"Kenapa kau duduk di belakang?" suara Brandon tegas, meskipun tidak berteriak, cukup untuk membuat Donia merasakan jantungnya berdebar kencang.

Donia yang merasa tak siap dengan pertanyaan itu hanya bisa tersenyum malu, wajahnya sedikit memerah. "L-lagi pengen aja di belakang," jawabnya terbata, berusaha terlihat santai, meskipun hatinya berdebar hebat.

Brandon tetap menatapnya melalui kaca, ekspresinya tak berubah, tetapi suaranya terdengar lebih lembut. "Pindah ke depan. Emang aku supirmu?" katanya, agak menggoda, meskipun ada nada serius yang menyelip di kata-katanya.

Dengan sedikit kebingungan, Donia keluar dari mobil dan pindah ke kursi samping Brandon. Begitu duduk di sampingnya, suasana terasa sedikit lebih nyaman, meskipun ada sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan, seperti ada getaran yang terus menggelitik hatinya.

Donia menoleh ke arah Brandon, penasaran. "Kita mau ke mana?" tanyanya, mencoba untuk memecah keheningan, meskipun dia sebenarnya sudah tahu bahwa jawabannya mungkin tidak akan langsung datang.

Brandon hanya diam, matanya tetap fokus di jalan. Tidak ada jawaban yang keluar dari mulutnya, tapi bagi Donia, itu seperti sebuah isyarat bahwa kehadirannya bersama Brandon sudah cukup, bahwa saat ini yang lebih penting adalah kebersamaan mereka, tanpa harus terlalu banyak kata.

Dengan lembut, Brandon menyalakan mesin mobil dan mulai melaju, mengikuti jalanan yang kosong di depan mereka. Kecepatan mobilnya standar, namun hatinya tidak merasa tenang. Ada sesuatu yang berbeda dalam dirinya saat berada di samping Donia.

Donia, yang tadinya bingung dengan keputusan Brandon untuk mengajak jalan, kini merasa ada sesuatu yang lebih besar mengalir di dalam dirinya. Ada sesuatu yang mengikat hatinya pada Brandon, meskipun semuanya terasa sangat cepat.

"Ada yang nggak beres sih sama Brandon... tapi nggak apa-apa. Aku jadi bisa jalan bareng dia," pikir Donia sambil tersenyum kecil. Dia menoleh ke arah Brandon, menyadari betapa tampannya pria itu saat ini, matanya yang fokus mengemudi, rahangnya yang sedikit tegang, dan cara dia bergerak begitu alami di belakang kemudi.

"Dia ganteng banget, plis," batinnya lagi, bahkan tanpa sadar dirinya memandang Brandon lebih lama dari yang dia kira.

Seketika, jantungnya terasa berdegup kencang. "Apakah... aku sedang jatuh cinta padanya?" pikirnya, jantungnya semakin terasa menggebu. Wajahnya sedikit memerah, dan tubuhnya terasa hangat meskipun udara mobil cukup sejuk.

Donia tidak bisa menahan senyumnya, lalu membuang wajahnya, mengalihkan pandangannya ke luar jendela mobil. Pemandangan yang terbentang di luar cukup indah, langit sore yang mulai berwarna oranye memberi kesan damai. Namun, hatinya tetap tidak bisa menenangkan detakannya.

"Seperti aku sudah jatuh cinta pada Brandon," pikirnya, menyentuh dadanya yang terasa lebih cepat berdetak.

Dia menutup matanya sejenak, mencoba mengendalikan perasaan yang terus menggelora. "Ayo, berhenti deh deg-degannya!" batinnya, meskipun di dalam hatinya masih terus berbisik perasaan yang tidak bisa ia hindari.

Saat itu, Donia tahu bahwa perjalanan ini akan lebih dari sekadar jalan-jalan biasa. Ini adalah perjalanan menuju perasaan yang tak bisa lagi dia tahan.

Bersambungg...

Jangan lupa vote dan koment, share ke teman-teman ya!

Brandon [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang