|| 104. Ngelamar ||

174 72 196
                                        

Dua hari menjelang wisuda, sebuah pesan tak terduga masuk ke ponsel Donia. Nama pengirimnya membuat jantungnya berdetak sedikit lebih cepat Brandon.

Ia masih mengingat jelas percakapan terakhir mereka, momen di mana Brandon sempat berjanji akan hadir saat hari istimewa Donia tiba. Janji yang sederhana, namun menyimpan makna mendalam. Meskipun banyak hal belum sempat diungkapkan, komunikasi mereka masih menyisakan jejak yang tak mudah dilupakan.

“Don, kamu udah siap wisuda? Besok adalah hari pentingmu, ya?” tulis Brandon. Kalimatnya pendek, tapi terasa hangat dan penuh perhatian, seolah menyelinap ke dalam ruang hati yang selama ini sengaja dijaga Donia.

Donia, yang baru saja selesai mempersiapkan perlengkapan wisudanya, menatap layar ponsel dengan tatapan kosong sejenak. Ada kejutan kecil di matanya, disusul oleh rasa rindu yang tak sepenuhnya ia sangkal. Seperti biasa, percakapan dengan Brandon membuat hatinya diliputi oleh perasaan yang sulit dijelaskan antara bahagia, harap, dan kehati-hatian yang ia tanam dalam-dalam.

"Siap, tapi masih agak cemas aja. Terima kasih sudah ingat, Brandon," balasnya dengan kalimat yang ringan di permukaan, meski sebenarnya hatinya tengah bergetar oleh kerinduan yang belum tersampaikan.

Brandon membaca balasan itu dengan diam. Ia bisa merasakan ada jeda yang menggantung di antara kata-kata Donia. Mungkin itu cemas karena hari besar sudah di depan mata, atau mungkin... karena ia.

Tapi Brandon tidak membalas lagi. Bukannya tidak peduli, justru karena ia terlalu peduli hingga tak tahu harus berkata apa. Ia menatap layar ponselnya cukup lama, kemudian menghela napas dalam.

"Aku berencana untuk datang, Don. Tapi kalau kamu gak keberatan, aku mungkin datang diam-diam saja, tanpa mengganggu acara kamu. Aku gak mau bikin suasana jadi canggung," gumamnya pelan. Kata-kata itu hanya tertinggal di pikirannya, tak pernah diketik, tak pernah dikirim.

Di dalam hatinya, Brandon benar-benar ingin datang. Ia ingin melihat Donia berdiri dengan bangga di atas panggung, menerima penghargaan atas segala jerih payah dan ketekunannya. Tapi pada saat yang sama, ia diliputi rasa takut, takut kehadirannya justru menimbulkan kegelisahan, atau malah membuka luka lama yang belum benar-benar sembuh.

Donia, di sisi lain, masih memandangi pesan terakhir dari Brandon. Ada bagian dari dirinya yang berharap lebih, barang kali sebuah kepastian bahwa Brandon akan hadir, walau hanya dari kejauhan.

Tapi ia tahu, Brandon bukan tipe yang mudah mengekspresikan perasaannya secara langsung. Ada tembok yang selalu dijaga, bahkan ketika hatinya sendiri sebenarnya ingin lebih dekat.

Meski demikian, dalam diamnya, Donia menyimpan harapan kecil. Ia membayangkan sosok Brandon berdiri di antara kerumunan saat hari wisuda nanti mungkin di pojok ruangan, mungkin hanya menyaksikan dari jauh. Ia tidak tahu pasti. Tapi bayangan itu cukup untuk membuat hatinya terasa hangat. Karena meskipun kata-kata tak lagi sebanyak dulu, perasaan yang dulu pernah tumbuh tampaknya belum sepenuhnya hilang.

Dan dalam keheningan masing-masing, keduanya menyimpan keinginan yang sama untuk tetap hadir, meski dalam cara yang paling diam dan sederhana.

Seiring waktu berjalan, hari wisuda semakin dekat. Donia mempersiapkan diri, dengan teman-temannya yang membantu menata gaun wisudanya, bercanda dan berbagi cerita tentang masa kuliah yang tak lama lagi akan berakhir.

Namun, di hati Donia, ada satu hal yang terus mengganggu kehadiran Brandon. Apakah dia akan benar-benar datang? Ataukah semuanya hanya akan menjadi harapan kosong?

Malam sebelum wisuda, Donia merasa gelisah. Di tengah persiapan, dia mencuri waktu untuk melihat ponselnya. Tidak ada kabar dari Brandon. Hatinya sedikit kecewa, tetapi dia mencoba menenangkan diri. Ia tidak ingin terbawa perasaan, walau dalam hatinya, kehadiran Brandon sangat berarti.

Hari wisuda pun tiba. Donia berdiri di depan cermin, mengenakan toga dan kebaya wisuda yang membuatnya terlihat anggun. Senyum lebar tak bisa ia sembunyikan, meski sedikit perasaan hampa tetap ada. Teman-temannya menyemangatinya, namun pikirannya tetap melayang.

Acara wisuda dimulai. Donia melangkah dengan penuh keyakinan menuju panggung, merasakan detak jantungnya semakin cepat seiring langkahnya yang semakin dekat dengan podium. Meskipun dia tersenyum dan menerima selamat dari berbagai teman dan kolega, hatinya tetap berharap untuk melihat seseorang yang sangat ia harapkan.

Namun, hingga acara selesai, dan momen lempar toga pun berlalu, tak ada tanda-tanda kehadiran Brandon. Donia merasa sedikit hampa. Ia tahu bahwa ini adalah momen besar untuknya, namun kehadiran Brandon yang tak kunjung datang membuat suasana terasa kurang lengkap. Ia menundukkan kepala, berusaha menahan rasa kecewa, tetapi tetap mencoba menikmati hari itu dengan teman-temannya.

Sambil berkumpul bersama teman-temannya, Donia tetap merasa ada yang kurang. Dia mencoba untuk tersenyum dan bersenang-senang, namun perasaan sedihnya tetap menggerogoti. Setelah acara selesai dan teman-temannya mulai berpencar, Donia memutuskan untuk berjalan ke luar dan mencari ketenangan.

Saat ia berjalan sendirian, merenung di luar gedung acara, tiba-tiba ia merasakan ada bahu yang menyentuh dengan lembut. Tanpa berpikir panjang, ia menoleh, dan matanya terbelalak. Di sana, berdiri Brandon, dengan senyum yang penuh arti. Di tangannya, ia membawa bunga, dan di belakang punggungnya, ada sesuatu yang disembunyikan.

"Brandon, kamu datang?" ucap Donia terkejut, namun juga sangat bahagia.

Brandon tersenyum, melepaskan bunga yang ia pegang dan memberikannya pada Donia. "Aku tahu aku terlambat, Don, tapi aku gak ingin kamu merasa sendirian. Aku ingin kamu tahu bahwa aku ada di sini, di momen yang penting ini. Aku minta maaf jika aku membuatmu menunggu terlalu lama."

Donia terdiam sejenak, masih terkejut dengan kedatangannya. Kemudian, dia merasakan ada sesuatu yang berbeda. Tanpa banyak bicara, Brandon mengeluarkan cincin yang telah ia simpan, dan dengan perlahan, berlutut di hadapan Donia.

"Donia, setelah semua waktu yang kita lewati, aku ingin bertanya lagi, apakah kamu bersedia untuk melangkah bersama, menjadi bagian dari hidupku selamanya?" tanyanya dengan suara penuh harap.

Donia menatapnya dengan mata berkaca-kaca, tak bisa berkata-kata, sebelum akhirnya mengangguk pelan. "Aku bersedia, Brandon."

Dengan air mata yang mengalir, Donia merasa akhirnya dia mendapatkan kepastian yang ia tunggu-tunggu. Di hari wisudanya, di momen yang penuh harapan ini, semuanya akhirnya terasa lengkap.

Bersambungg...

Brandon [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang