Malam itu, Brandon dan Donia duduk di balkon rumah baru mereka yang sederhana namun nyaman, sebuah tempat yang kini menjadi simbol awal dari kehidupan baru yang mereka jalani bersama.
Dari ketinggian tempat tinggal mereka, lampu-lampu kota bersinar jauh di bawah sana, membentuk lautan cahaya yang berkilauan tenang, seolah menjadi saksi bisu kebersamaan dua insan yang tengah merangkai mimpi. Angin malam yang sejuk berembus lembut, menyentuh kulit mereka seperti belaian alam yang turut merestui langkah awal ini.
Setelah seharian penuh aktivitas melelahkan memindahkan barang-barang, menata ulang perabotan, menyapu debu, dan menyesuaikan diri dengan ruang baru akhirnya mereka bisa mencuri waktu untuk sekadar duduk berdampingan, melepaskan penat dan menyelami kehangatan kebersamaan setelah seminggu penuh kesibukan yang nyaris tak memberi celah untuk bernapas.
"Tahu gak, Don? Aku baru sadar kalau kita bener-bener hidup bareng sekarang," kata Brandon pelan, sambil menyandarkan punggungnya pada kursi balkon yang dingin namun terasa nyaman, seakan menjadi saksi awal dari kisah rumah tangga mereka.
Donia tersenyum lembut, menikmati hangatnya secangkir teh yang baru saja ia seduh, aroma melatinya berpadu manis dengan udara malam yang damai.
"Iya, rasanya aneh tapi juga menyenangkan. Gak perlu nunggu weekend buat ketemu, kita tiap hari bisa ketemu," katanya dengan tawa ceria yang meluncur begitu alami, seolah tawa itu telah lama ingin keluar dari balik lelahnya hari-hari.
Brandon menoleh, menatap wajah Donia yang terlihat begitu cantik malam itu, dengan rambut panjangnya yang terurai alami dan senyum yang memancarkan ketulusan. "Aku suka banget kita punya waktu lebih banyak sekarang. Gimana kalau kita rencanain liburan?"
Donia mengangkat alisnya, menatap Brandon dengan rasa penasaran yang tulus. "Liburan? Ke mana?"
Brandon menghela napas sejenak, seolah membayangkan tempat yang bisa menjadi pelarian sementara dari rutinitas. "Ke tempat yang gak jauh, tapi bisa nge-refresh kita berdua. Aku cuma butuh waktu sama kamu, jauh dari pekerjaan dan segala keribetan dunia luar."
Donia terdiam sejenak, mencerna kalimat suaminya, lalu tertawa kecil dengan nada menggoda. "Satu minggu setelah menikah, kamu udah mikirin liburan? Gak takut kita kehabisan topik obrolan?"
"Tenang aja," jawab Brandon, senyumnya merekah dengan gaya nakal khas dirinya. "Kita masih punya banyak waktu untuk saling kenal lebih dalam, kok. Dan aku yakin, kamu nggak akan pernah kehabisan cerita."
Mereka berdua tertawa bersama, tawa yang ringan namun penuh makna, mencairkan segala kelelahan dan menyatukan rasa dalam ketulusan yang tak perlu banyak kata. Namun, tepat saat suasana terasa begitu sempurna, sesuatu yang tak terduga tiba-tiba terjadi.
Sebuah suara keras terdengar dari dalam rumah, membuat Brandon langsung berdiri dan melangkah cepat ke dalam dengan dahi mengernyit.
"Apa sih itu?" gumamnya dengan nada bingung dan sedikit panik.
Donia yang juga penasaran mengikuti di belakangnya, dan keduanya segera melihat ke arah rak buku yang baru saja mereka susun beberapa jam lalu. Ternyata, salah satu buku besar yang berat terjatuh, dan sialnya, menimpa sebuah vas bunga kesayangan Donia yang langsung pecah berkeping-keping di lantai.
"Aduh, itu bukunya jatuh! Ayo, kita bersihkan!" ujar Donia sambil mendekat dengan langkah cepat.
Brandon menahan tawa melihat kekacauan kecil itu, lalu berjalan ke arah rak sambil menggeleng pelan. "Baru beberapa hari tinggal bareng, udah kayak begini. Seru juga, ya."
Donia ikut tertawa, meski sedikit menyesal melihat vas bunganya rusak. Ia mulai memungut pecahan kecil satu per satu. "Ya ampun, baru juga mulai, udah kayak rumah tangga yang penuh masalah kecil."
Brandon ikut jongkok di samping Donia, membantu membersihkan serpihan dengan hati-hati. "Gak masalah. Kita kan bisa selesaikan segala hal bersama. Lagian, ini baru permulaan. Masih banyak momen seru, dan mungkin berantakan, yang bakal kita hadapi bareng-bareng, kan?"
Setelah semuanya beres dan lantai kembali bersih dari serpihan kaca, mereka kembali duduk, kali ini di sofa ruang tamu yang belum sepenuhnya tertata. Donia tiba-tiba menggenggam tangan Brandon, hangat dan erat, lalu menatapnya dengan senyum yang dalam.
"Gak apa-apa, kok," katanya lirih. "Aku suka momen kayak gini. Momen nggak terduga, yang bikin kita ketawa bareng, walaupun sedikit berantakan."
Brandon membalas genggaman itu dengan lembut, menatap mata istrinya dengan penuh keyakinan. "Aku juga. Ini baru awal, Don. Aku janji akan selalu ada buat kamu, baik saat momen seru, maupun saat kita harus bersihin pecahan vas bunga."
Tawa kembali memenuhi ruangan kecil itu, menciptakan suasana yang hangat dan akrab, seolah rumah baru mereka langsung dipenuhi dengan cinta yang nyata. Meskipun ruangan masih terlihat sedikit berantakan dan belum sepenuhnya rapi, hati mereka terasa utuh, penuh, dan bahagia.
Malam itu, di antara gelas teh yang mulai dingin dan rak buku yang masih miring, mereka menyadari satu hal penting kebahagiaan sejati tidak datang dari kesempurnaan, melainkan dari momen-momen kecil, sederhana, dan tidak terduga momen yang akan mereka kenang selamanya sebagai bagian dari kisah cinta yang mereka bangun bersama dari nol, dengan tawa, dengan kerja sama, dan dengan cinta yang tak pernah setengah-setengah.
Happy endingg
Makasihh udah baca sampai tamat, maaf kalau kebanyakan part hehe. Jangan lupa baca ceritaku yang lain yaaa see youu
KAMU SEDANG MEMBACA
Brandon [TAMAT]
RomanceBrandon terang - terangan menyukai Donia, tapi saat hubungan mereka mulai tumbuh, Brandon tiba- tiba pergi ke luar negeri tanpa kabar. Bertahun - tahun kemudian, saat hampir lulus kuliah, ia kembali masih dengan rasa yang sama, dan satu harapan semo...
![Brandon [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/251426311-64-k595558.jpg)