Sore itu, Candy dan ayahnya berada di apartemen keluarga mereka di Singapura. Ruang tamu yang luas dengan desain minimalis modern tampak semakin nyaman oleh sofa empuk berwarna abu-abu tua yang mereka duduki. Cahaya matahari senja yang masuk melalui jendela besar memberikan kehangatan alami, tetapi Candy yang duduk menyilangkan kaki tampak tidak begitu menikmati suasana itu.
“Ayah, kenapa kita malah ke apartemen?” tanyanya sambil menopang dagu dengan tangan, ekspresi cemberut menghiasi wajah manisnya.
Ayahnya mengangkat alis, lalu menjawab dengan nada tenang. “Lalu, mau di mana lagi?”
Candy menghela napas keras, menunjukkan rasa kesal yang tidak bisa ditutupi. “Kok malah nanya balik sih,” gerutunya.
Tanpa menunggu lama, Candy melanjutkan, “Ayah, aku mau ke Brandon dulu!” Suaranya terdengar tegas namun manja, khas seorang putri yang selalu mendapatkan apa yang diinginkannya.
Ayahnya mengernyit, tampak sedikit heran. “Baru saja sampai, sudah mau pergi lagi?” tanyanya, menatap putrinya dengan tatapan penuh kasih sayang bercampur keheranan.
Candy tidak peduli. “Iya, aku pamit dulu ya,” katanya, langsung bangkit dari sofa. Langkahnya cepat, meninggalkan ruang tamu tanpa menunggu jawaban ayahnya.
Tak lama kemudian, Candy sudah berada di dalam mobil keluarga yang dikemudikan oleh sopir pribadinya. Dia menyebutkan tujuannya dengan penuh semangat, “Pak, kita ke rumah Brandon!”
Namun, sopirnya hanya menoleh dengan bingung. “Di mana ya, Non?” tanyanya polos.
Candy memutar bola matanya, menatap sopir itu seolah tidak percaya. “Masa gak tahu sih, Pak?” Nada suaranya meninggi, menunjukkan rasa frustrasi. Namun, beberapa detik kemudian, kesadaran menghantamnya.
Candy menepuk jidatnya, wajahnya menunjukkan ekspresi lucu campur malu. “Oh iya! Ini kan di luar negeri, bukan di negeri gua. Kok gua bisa lupa ya,” gumamnya pada diri sendiri.
Sopir itu tetap diam, menunggu arahan lebih lanjut. Candy menghela napas dalam-dalam, lalu bertanya lagi, “Emang, Bapak gak tahu di mana rumah Brandon William Delson?”
Sopir itu menggelengkan kepala dengan sopan. “Saya tidak tahu, Non. Karena Tuan tidak pernah bertemu dengan keluarga Delson selama di Singapura ini,” jawabnya dengan jujur.
Candy mendesah kesal. “Aish, gua harus turun ini mah buat nanya ke bokap,” gumamnya lagi.
Dia turun dari mobil dengan langkah cepat dan kembali ke ruang tamu. Ayahnya masih duduk di sofa yang sama, kali ini sibuk dengan laptop di pangkuannya. Wajahnya tampak serius, tetapi ia langsung menoleh begitu mendengar langkah kaki Candy yang tergesa-gesa.
“AYAHHH!” teriak Candy sambil berlari ke arah ayahnya.
Ayahnya menoleh, sedikit terkejut. “Loh, kok balik lagi? Gak jadi ke rumah Brandon?” tanyanya dengan nada heran.
Candy mendengus, lalu menjatuhkan tubuhnya di sebelah ayahnya. “Gimana mau ke rumah Brandon, aku aja gak tahu rumahnya di mana!” keluhnya sambil menyandarkan punggungnya ke sofa dengan tangan terlipat di dada.
Ayahnya terkekeh kecil. “Kok bisa? Ayah juga tidak tahu kalau di Singapura rumah Tuan Delson di mana,” jawabnya santai.
Candy langsung bangkit, menatap ayahnya dengan tatapan serius. “Lah, coba Ayah tanya dong!” katanya dengan nada setengah memerintah.
Ayahnya mendesah, tetapi ia menuruti permintaan Candy. Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel, dan segera mencari nomor Tuan Delson. Ia menekan tombol panggil, tetapi panggilan pertama tidak diangkat.
“Tidak diangkat,” gumamnya pelan, hampir tidak terdengar.
Candy, yang berdiri di dekatnya, langsung merespons. “Telepon lagi dong, Ayah!” desaknya sambil mencoba menguping.
Ayahnya hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum kecil, lalu menelepon sekali lagi. Kali ini, dering kedua diangkat. Ia berbicara dengan sopan, “Halo, Pak Delson, maaf mengganggu. Saya ingin bertanya, rumah Bapak di mana ya? Anak saya ingin menemui Brandon.”
Beberapa detik kemudian, percakapan selesai. Ayahnya menutup telepon, lalu mengetik alamat yang baru saja diterima dan mengirimkannya ke nomor Candy.
“Sudah, Ayah kirim alamatnya ke nomor kamu. Pergi sana!” katanya sambil tersenyum kecil.
Candy langsung membuka ponselnya. Begitu melihat alamat tersebut, wajahnya berubah ceria. Ia melompat kecil sambil memeluk ayahnya erat. “Terima kasih, Ayahku tercinta!” katanya dengan suara manja.
Setelah beberapa menit memeluk ayahnya, Candy melepaskannya dan segera berlari ke mobil. Di dalam mobil, ia memperlihatkan alamat itu kepada sopirnya.
“Pak, ini alamatnya!” katanya dengan semangat.
Sopir itu mencatat alamatnya ke dalam ponsel, lalu melihat peta. “Baik, Non. Mobil akan segera berangkat,” katanya sambil menyalakan mesin.
Candy duduk di kursi belakang dengan senyum lebar di wajahnya. “Brandon, aku akan datang,” batinnya penuh harap. Di dalam hati, ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan pria yang selalu menjadi pusat dunianya.
Bersambungg....
KAMU SEDANG MEMBACA
Brandon [TAMAT]
RomanceBrandon terang - terangan menyukai Donia, tapi saat hubungan mereka mulai tumbuh, Brandon tiba- tiba pergi ke luar negeri tanpa kabar. Bertahun - tahun kemudian, saat hampir lulus kuliah, ia kembali masih dengan rasa yang sama, dan satu harapan semo...
![Brandon [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/251426311-64-k595558.jpg)