Di Kantin...
Matahari mulai merangkak naik, memberikan cahaya hangat yang menembus jendela kantin sekolah. Suasana di kantin pagi ini cukup ramai, namun di sudut ruangan, Brandon, Ryan, dan Arvin duduk di meja panjang. Mereka sedang menunggu makanan yang dipesan Arvin. Aroma mie goreng dan ayam goreng memenuhi udara, menambah rasa lapar mereka.
"Kenapa lama banget sih, Vin?" Ryan mengeluh, mengetukkan jarinya ke meja dengan ritme tak beraturan. Brandon hanya diam, sibuk menatap layar ponselnya.
Tak lama, Arvin datang dengan dua nampan penuh makanan. Dia meletakkannya dengan hati-hati di meja sebelum duduk di samping Ryan. "Hei, Brandon! Jadi kalian beneran jadian, ya?" tanyanya sambil melirik Brandon dengan penuh rasa ingin tahu.
Brandon mendongak, tatapannya datar seperti biasa. "Gak. Aku cuma menyatakan perasaan, itu aja." Ia mengambil sepiring nasi goreng dari nampan dan mulai makan tanpa ekspresi.
Ryan mengangkat alisnya, tak puas dengan jawaban itu. "Cuma menyatakan aja? Gak mungkin, sih. Kalau Donia gak spesial, kenapa kamu mau repot-repot?"
Brandon mengabaikan komentar itu, fokus pada makanannya. Arvin dan Ryan saling berpandangan, sepakat untuk tidak memaksa Brandon menjelaskan lebih jauh. Mereka tahu sifat sahabat mereka yang satu ini—tertutup dan enggan bicara soal perasaannya.
"Nanti jadi jalan, kan?" tanya Ryan sambil menyeruput minuman dinginnya.
"Tentu," jawab Brandon singkat, tanpa menoleh.
Arvin terkekeh. "Tumben ngajak kita jalan? Biasanya kalau kita ajakin malah ribuan alasan keluar dari mulutmu."
Brandon mendongak sedikit. "Pengen aja habisin waktu sama kalian. Kenapa? Ada yang salah?"
Ryan dan Arvin langsung menggeleng serempak. "Gak salah, sih," ujar Ryan, senyum kecil terlukis di wajahnya. "Cuma seneng aja akhirnya kamu nyempetin waktu buat kita."
Pembicaraan mereka terputus saat bel masuk berbunyi, menggema di seluruh sekolah. Mereka segera menghabiskan makanan masing-masing sebelum bergegas kembali ke kelas.
****
Setelah Pulang Sekolah
Langit siang mulai meredup, menandai akhir hari sekolah. Di depan kelas Donia, Brandon berdiri dengan sabar, menunggu gadis itu keluar. Donia akhirnya muncul, dengan tas yang tergantung di bahunya. Wajahnya ceria begitu melihat Brandon.
"Hai, ngapain nunggu di sini?" tanya Donia sambil tersenyum kecil.
Brandon mengulurkan tangannya, menggenggam tangan Donia dengan lembut. "Ayo, aku antar pulang," ajaknya.
Donia merasa jantungnya berdegup lebih cepat, tetapi ia tetap mengikuti langkah Brandon menuju parkiran. Mereka menaiki motor Brandon, dan perjalanan pulang terasa begitu singkat karena Donia terlalu sibuk menikmati momen itu.
Setelah mengantarkan Donia ke rumah, Brandon kembali ke rumahnya sendiri. Ia langsung masuk kamar, bersiap untuk rencana malam ini bersama Arvin dan Ryan. Saat ia sedang merapikan rambutnya di depan cermin, pintu kamarnya terbuka. Arvin dan Ryan masuk tanpa mengetuk.
"Masih lama banget, sih? Kita jadi, kan?" tanya Arvin, bersandar di dinding.
Brandon mengambil kunci motornya. "Jadi. Kita mau ke mana?"
Ryan tersenyum jahil. "Balapan aja gimana? Udah lama gak seru-seruan."
"Lu gila, Ry," Arvin memotong cepat. "Masa ngajak Brandon balapan? Dia itu bukan tipe orang yang suka hal kayak gitu."
Namun, Brandon malah tersenyum tipis, langka untuknya. "Kenapa gak? Aku ikut."
Ucapan itu membuat Ryan bersorak, sementara Arvin hanya menggelengkan kepala, menyerah pada keputusan sahabatnya. Ketiganya kemudian keluar, bersiap menuju arena balap favorit mereka.
****
Malam di Arena Balapan
Lampu-lampu jalanan dan suara deru motor memenuhi malam. Brandon, Ryan, dan Arvin berdiri di antara kerumunan anak-anak muda yang membawa motor mereka. Brandon memandang sekeliling dengan ekspresi tenang, sementara Ryan tampak bersemangat.
"Ayo mulai!" Ryan berteriak sambil menyalakan motornya. Brandon dan Arvin mengikuti, suara mesin motor mereka bergemuruh, menantang malam.
Perlombaan dimulai. Brandon memacu motornya dengan kecepatan yang stabil, mengamati lintasan dengan teliti. Angin malam menerpa wajahnya, membawa rasa kebebasan yang jarang ia rasakan.
Brandon hanya mengangkat bahu. "Udah, ayo pulang. Udah malam."
Ketiganya mengakhiri malam itu, pulang ke rumah masing-masing dengan senyum tipis di wajah mereka. Meskipun sibuk, Brandon merasa puas telah menghabiskan waktu bersama teman-temannya.
Bersambung
KAMU SEDANG MEMBACA
Brandon [TAMAT]
RomanceBrandon terang - terangan menyukai Donia, tapi saat hubungan mereka mulai tumbuh, Brandon tiba- tiba pergi ke luar negeri tanpa kabar. Bertahun - tahun kemudian, saat hampir lulus kuliah, ia kembali masih dengan rasa yang sama, dan satu harapan semo...
![Brandon [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/251426311-64-k595558.jpg)