Flashback di Perkemahan
Di tengah malam yang sunyi, Aurel duduk di dalam tenda dengan perasaan gelisah yang sulit ia kendalikan. Lampu-lampu kecil dari lentera menggantung di setiap sudut tenda, memberikan cahaya redup yang hanya membuat suasana semakin menegangkan. Suara jangkrik bersahutan dari kejauhan, melengkapi malam yang terasa begitu dingin.
Arvin duduk di sampingnya, sibuk dengan ponselnya, mencoba mengalihkan perhatian dari kekhawatiran yang juga dirasakannya. Namun, Aurel tidak bisa diam. Ia terus menggerakkan kakinya, menatap ke luar tenda seolah-olah berharap Donia tiba-tiba muncul dari balik gelapnya hutan.
"Arvin, aku benar-benar gak bisa diam begini. Donia sendirian di luar sana, dan kita cuma duduk di sini? Ini gak masuk akal," kata Aurel, suaranya dipenuhi rasa cemas.
Arvin menghela napas pelan, mencoba bersabar. "Aurel, kita gak bisa sembarangan. Pembina sudah bilang, kita harus tetap di sini. Kalau kita pergi dan Donia ternyata balik, siapa yang bakal tahu dia di sini?"
Aurel terdiam sejenak, merenungkan kata-kata Arvin. Namun, kekhawatiran di hatinya jauh lebih besar daripada logika. "Tapi gimana kalau dia gak balik, Arvin? Gimana kalau ada sesuatu yang buruk terjadi? Hutan ini kan gak aman. Ada binatang buas, lubang-lubang dalam, atau... atau hal-hal lain yang bahkan gak bisa kita bayangkan."
Arvin menatap Aurel, mencoba menenangkan gadis itu dengan pandangan yang lembut. "Aku ngerti kamu khawatir, tapi kita harus percaya sama pembina dan yang lain. Mereka pasti lagi nyari Donia dengan cara terbaik."
Tapi Aurel tetap gelisah. Ia mulai membayangkan berbagai kemungkinan buruk yang bisa terjadi. Bayangan Donia tersesat, kedinginan, atau bahkan terluka terus menghantui pikirannya. "Arvin... kalau Donia dimakan hewan buas gimana? Atau kalau dia ketemu hantu? Kamu tahu, kan, dia itu anak indigo? Rara pernah cerita, Donia bisa lihat yang kita gak bisa lihat."
Arvin mengerutkan kening. "Kamu serius? Dari mana kamu tahu soal itu?"
Aurel mengangguk yakin. "Rara yang bilang. Waktu mereka nyari kayu bareng, katanya Donia pernah lihat sosok aneh di belakang mereka."
Arvin menghela napas, mencoba menepis rasa takut yang tiba-tiba menjalari pikirannya. "Aurel, aku gak tahu soal itu. Tapi meskipun benar, kita gak bisa biarin rasa takut menguasai kita. Kalau kita juga panik, siapa yang bakal jaga tenda ini?"
Namun, ucapan Arvin tak cukup menenangkan Aurel. Ia menggenggam tangan Arvin erat, matanya mulai memerah, hampir menangis. "Tapi aku gak bisa duduk diam. Aku harus cari Donia!"
Arvin merasa serba salah. Ia tahu Aurel sedang panik, tapi tanggung jawab menjaga tenda juga penting. Setelah beberapa detik kebingungan, ia memutuskan untuk menarik Aurel ke dalam pelukannya.
"Udah, Aurel. Tenang dulu. Kita berdoa, ya? Kita minta supaya Donia ditemukan dengan selamat," bisik Arvin lembut.
Aurel terisak pelan di dada Arvin, mencoba menenangkan diri. Namun, dalam hatinya, ia tetap merasa bersalah. Ia merasa seharusnya ia ikut keluar dan membantu mencari Donia.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan. Aurel memejamkan mata, berusaha meredakan kecemasannya dengan doa. Namun, bayangan Donia yang tersesat masih terus mengusik pikirannya.
"Arvin, aku gak tahan lagi. Kalau dalam sepuluh menit Donia belum ditemukan, aku akan keluar. Aku gak peduli apa kata pembina. Aku gak bisa diem aja," kata Aurel dengan nada tegas.
Arvin terdiam. Ia tahu keputusan Aurel itu berisiko, tapi ia juga tidak ingin membiarkan gadis itu pergi sendirian. "Baiklah. Kalau memang kamu tetap ingin pergi, aku akan ikut. Tapi kita harus hati-hati, jangan sampai pembina tahu."
Aurel mengangguk dengan cepat, merasa lega karena Arvin akhirnya setuju. Mereka mulai merencanakan langkah-langkah yang akan mereka ambil, meskipun rasa takut dan kecemasan tetap menyelimuti hati mereka.
Dalam hati, Aurel terus berharap. "Donia, di mana pun kamu sekarang, semoga kamu baik-baik saja. Kami akan segera menemukanmu."
Bersambung...
KAMU SEDANG MEMBACA
Brandon [TAMAT]
Storie d'AmoreBrandon terang - terangan menyukai Donia, tapi saat hubungan mereka mulai tumbuh, Brandon tiba- tiba pergi ke luar negeri tanpa kabar. Bertahun - tahun kemudian, saat hampir lulus kuliah, ia kembali masih dengan rasa yang sama, dan satu harapan semo...
![Brandon [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/251426311-64-k595558.jpg)