"Nikah sama Alan itu, berasa nikah sama setan jadi-jadian!"
-Elma Ainayya Gantari
***
Perihal Elma, dan Akalanka.
Elma Ainayya Gantari, gadis yang hobi dijadikan objek guyonan Alan. Di kamus lelaki itu, tiada hari tanpa menjahili Elma.
Setiap menit...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
[ happy reading! ]
🌩️🌩️🌩️
Sang mentari telah lingsir dari peraduan nya. Dengan keadaan kotor, dan cukup terbilang bau, Elma pulang ke-kediaman nya dengan berjalan kaki.
Kira-kira setengah jam sudah dia tempuh untuk pulang ke rumah.
Sesampainya di depan rumah sederhana ber klir putih itu, Elma kemudian membuka gerbang rumah yang sudah terlampau tua.
Terbukti dari cat nya yang terkelupas, juga besi yang telah mengeropos, dan karatan.
Keadaan rumah Elma begitu sunyi, gelap, dan sedikit menyeramkan karena tidak ada penghuni siapa pun selain gadis itu.
Elma seorang anak yatim piatu. Ibu Elma wafat saat dia masih duduk di bangku kelas sepuluh, sedangkan Ayah Elma wafat sejak dia duduk di bangku kelas delapan.
Hidup sendirian sudah terbiasa bagi nya.
Biaya sekolah, dan semua pengeluaran bulanan ditanggung oleh keluarga besar nya.
Soal perihal hutang keluarga nya, kepada keluarga Bratanadipta, itu adalah rahasia keluarga Elma.
Mendiang kedua orang tua Elma, meminta gadis itu supaya tidak memberitahukan kepada keluarga besar.
Dengan alasan, takut merepotkan. Selagi, sanak saudara mereka juga bukan terlahir dari keluarga berada.
Istilahnya, sederhana, tapi masih cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kenapa Elma tidak memilih tinggal bersama mereka saja? Toh, enak. Ga bakal hidup menyepi sendirian jauh dari sanak saudara.
Ya, pertanyaan semacam itu sudah pernah terlontar dari bibir tetangga sekitar yang terkadang merasa kasihan dengan kondisi gadis itu.
Kata Elma, dia tak akan pernah meninggalkan rumah yang sudah tertanam banyak kenangan bersama kedua orang tua nya.
Biarlah dia hidup sendirian, asalkan kilas balik memori bersama kedua orang tua nya itu tak terhapus dari ingatan.
Dengan tampang lusuh, gadis berpenampilan acakadul itu membuka pintu rumah.
Melepas kedua sepatu nya yang bau, dan kotor, kemudian mencuci kaki nya di keran depan.
Memakai sandal rumahan, lantas segera masuk kedalam rumah sembari berjinjit.
"Assalamualaikum," Elma mengucap salam, namun tak ada sahutan. Hanya angin sepintas berlalu menerpa wajah nya.