RH| 02 AWAL DARI KEKACAUAN

66 34 17
                                        

Malam itu, Arella masih kesal memikirkan si cowok berisik yang bernama Reyhan Alexander. Baru kenal, tapi sudah bikin suasana hatinya berantakan. Apalagi, kakek dan neneknya malah terlihat sangat akrab dengan Reyhan. "kayak gak ada cewek lain aja buat temenan!" gumamnya kesel sambil membanting badannya ke kasur.

Di sisi lain, Reyhan tengah duduk di ruang tamunya, sibuk memikirkan Arella. Meskipun baru saja bertemu, entah kenapa ada sesuatu dalam diri Arella yang menarik perhatiannya. "Cerewet, ngeselin, tapi cantik juga sih," pikir Reyhan sambil tersenyum kecil.

Esok harinya, Arella terbangun lebih awal dari biasanya. Dia tak ingin bertemu Reyhan jika cowok itu datang lagi. Tapi rencananya gagal ketika neneknya tiba-tiba mengetuk pintu kamar.

"Rel, bangun. Reyhan udah datang. Kamu kan janji mau jalan-jalan sama dia hari ini," ucap neneknya dari luar.

Arella langsung menegakkan tubuhnya. "Janji? Kapan gua janji sih!" protesnya dalam hati. Tapi neneknya sudah pergi sebelum dia sempat membantah.

Dengan malas, Arella bersiap-siap. Saat turun ke ruang tamu, Reyhan sudah menunggunya dengan setelan kasual yang terlihat santai tapi tetap rapi. Dia tersenyum lebar saat melihat Arella "Pagi, Malaikat kecil!" sapanya dengan nada menggoda.

Arella mendelik. "Mulut lo tuh ya, gue robek baru tahu rasa."

"Eh, santai dong. Gue bercanda. Lagian lu harusnya bangga dijemput cowok ganteng kaya gue," Reyhan membalas dengan ekspresi tengil.

Arella hanya mendengus. Setelah pamit pada kakek dan nenek, mereka pun berangkat.

***

"

"Jadi, kita mau ke mana, nih?" tanya Arella sambil melipat tangan di dada. Suaranya terdengar ketus.

Reyhan tersenyum penuh rahasia. "Pokoknya seru. Lu sabar aja."

Arella sebenarnya ingin terus protes, tapi rasa penasarannya lebih besar. Sepanjang perjalanan, mereka hanya berbicara seadanya. Arella sibuk memainkan ponselnya, sementara Reyhan fokus menyetir.

Setelah sekitar setengah jam, mobil Reyhan berhenti di sebuah kafe kecil yang terletak di pinggir danau.

Pemandangannya indah, dengan air yang tenang dan pepohonan rindang di sekitarnya. Arella tertegun sesaat. "tempatnya bagus juga," batinnya.

"Gue tahu lu bakal suka tempat ini," ujar Reyhan sambil membuka pintu mobil untuk Arella.

Arella melangkah keluar dan menghirup udara segar. "Gak buruk," komentarnya pendek.

Mereka memilih meja di dekat jendela besar yang menghadap ke danau. Reyhan memesan minuman dan camilan tanpa bertanya pada Arella, yang membuatnya semakin kesal. "Dia kira gue gak bisa pilih sendiri, apa?"

"Rel, lu tuh dari tadi cemberut mulu. Gimana kalau lu coba senyum? Gue yakin lu bakal lebih cantik," ujar Reyhan tiba-tiba.

Arella terkejut, tapi langsung memasang ekspresi sinis. "Lu tuh selalu gini sama semua cewek, ya? Sok akrab."

Reyhan tertawa kecil. "Gak semua. Cuma sama lu."

***

Setelah makan dan ngobrol seadanya, Reyhan tiba-tiba mengeluarkan sebuah map dari tasnya. Arella langsung mengernyit curiga.

"Apa lagi, nih?" tanyanya.

Reyhan tersenyum penuh arti. "Gue mau lu tanda tangan di sini."

Arella membuka map itu dan membaca isi dokumennya. "Perjanjian persahabatan? Serius, lu?" Dia menatap Reyhan dengan pandangan tak percaya.

"Iya, serius. Gue gak mau kita jadi kayak mantan yang musuhan. Kalau lu setuju, kita sahabatan. Tapi kalau ada yang baper, harus jujur. Gimana?" Reyhan menjelaskan dengan nada serius.

Arella mendengus. "Lu tuh ngelawak, ya? Emang gue mau sahabatan sama lu?"

"Tanda tangan aja dulu. Kalau lu gak suka, kita batalin," bujuk Reyhan.

Arella menghela napas panjang. Meski sebal, dia akhirnya setuju. Setelah menandatangani 

perjanjian itu, Reyhan terlihat puas.

"Mulai sekarang, lu sahabat gue. Jadi, gak ada alasan buat lu marah-marah terus," kata Reyhan.

Arella hanya menggelengkan kepala. "Cowok ini aneh banget."

***

Saat malam tiba, Arella sedang duduk di balkon kamarnya, menikmati udara malam. Tapi 

ketenangannya terganggu ketika dia melihat seseorang memanjat pohon mangga di dekat rumahnya.

"Reyhan?" gumamnya kaget. Dan benar saja, Reyhan muncul di balkonnya dengan senyum tengil.

"Hi, sahabat baru!" sapanya ceria.

Arella melotot. "Lo ngapain di sini? Ini udah malam!"

"Gue mau mastiin lu gak marah lagi sama gue," jawab Reyhan santai.

"Lu tuh ngerepotin, tau gak? Kalau jatuh gimana?"

Reyhan tertawa. "Lu khawatir sama gue, ya?"

Arella mendengus. "Gue lebih khawatir kalau lo mati terus gue dituduh ngebunuh."

Mereka akhirnya berbicara di balkon selama beberapa waktu. Meski Arella masih kesal, dia mulai merasa nyaman dengan kehadiran Reyhan. Di sisi lain, Reyhan semakin yakin bahwa Arella adalah orang yang istimewa.

Saat Reyhan akhirnya pamit, Arella tak bisa menahan senyumnya. "Cowok ini aneh, tapi... mungkin gue bisa terima dia sebagai sahabat," pikirnya.

***

Apakah hubungan mereka akan tetap sebagai sahabat, atau ada sesuatu yang lebih? Perjalanan Arella dan Reyhan baru saja dimulai.


Sampai sini dulu
Maaf kalo masih banyak typo dan alur yg gak jelas.

Mohon tinggalkan jejak

Alenaf19 🍓

Publikasi: 26 Juni 2021

REL & HAN  (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang