Arella sedang menikmati malamnya yang tenang di kamar ketika ponselnya bergetar, menampilkan pesan dari nomor tak dikenal. Alisnya berkerut saat membaca isinya.
"Apa yang sudah lu lakuin ke Reyhan itu nggak bisa dimaafin. Gue kehilangan dia gara-gara lu."
Jantung Arel berdegup lebih cepat. Pesan itu terasa seperti tuduhan langsung yang menembus pertahanannya. Siapa ini? Dan apa maksudnya? Sebelum dia sempat membalas, ponselnya bergetar lagi, kali ini panggilan masuk dari nomor yang sama. Dengan ragu, dia menjawab.
"Halo?" suara Arel terdengar goyah.
"Jadi lu masih punya nyali buat jawab telpon gue," suara perempuan di seberang terdengar tegas, hampir penuh kemarahan. "Gue nggak percaya lu bisa sejahat itu."
"Maaf, lu siapa? Gue nggak ngerti apa yang lu maksud," kata Arel, suaranya bergetar.
"Jangan pura-pura nggak tahu! Lu tahu apa yang udah lu lakukan ke Reyhan. Gara-gara lu, gue kehilangan dia!"
Arel terdiam sejenak, mencoba mengingat-ingat apa yang pernah dia lakukan. "Gue beneran nggak ngerti maksud lu. Reyhan temen gue, gue nggak pernah ngelakuin sesuatu yang nyakitin dia."
"Temen? Lu kira gue bakal percaya? Gue mau ketemu lu, sekarang juga," suara itu semakin meninggi, membuat Arel merasa semakin tertekan.
"Gue nggak bisa sekarang. Lu bisa jelasin dulu siapa lu dan apa yang lu maksud?" jawab Arel dengan hati-hati.
"Besok. Greenhill Cafe jam lima sore. Kalau lu nggak dateng, gue nggak tahu apa yang bakal gue lakuin," ancamnya sebelum telepon itu terputus.
Arel menatap layar ponselnya dengan tangan gemetar. Ada rasa bersalah yang entah kenapa muncul, meskipun dia tidak sepenuhnya paham apa yang sedang terjadi. Namun, satu hal yang jelas: dia merasa harus menemui perempuan itu.
***
Di tempat lain, suasana sebuah ruangan gelap dipenuhi aroma kayu tua yang lembap. Tiga sosok duduk di sekeliling meja kecil. Lampu remang-remang di sudut ruangan hanya memperlihatkan sebagian wajah mereka. Salah satu dari mereka, seorang perempuan dengan tatapan tajam, berbicara pelan namun penuh tekanan.
"Kita nggak bisa nunda lagi. Arel udah mulai curiga," katanya, suaranya terdengar seperti bisikan tajam yang menusuk.
Seorang pria bertubuh tegap mengangguk, wajahnya penuh keseriusan. "Gue udah siap dari lama. Lu yang bilang tunggu waktu yang tepat."
"Waktu yang tepat itu sekarang," perempuan itu menyela, memandang tajam ke arah pria di depannya. "Reyhan udah makin dekat sama dia. Kalau kita nggak bertindak sekarang, semua rencana bakal berantakan."
Sosok ketiga, yang sejak tadi diam, akhirnya angkat bicara. Dia mengenakan hoodie yang menutupi sebagian besar wajahnya. Suaranya rendah, nyaris berbisik, namun mengandung aura misterius yang membuat ruangan itu semakin tegang.
"Gue nggak peduli lu berdua mau ribut soal apa. Yang penting, pastikan semuanya berjalan sesuai rencana. Kita nggak punya ruang buat kesalahan." Dia meletakkan map tebal berisi foto dan catatan di meja.
Perempuan itu membuka map itu, memperlihatkan foto-foto Arel. "Kita tahu kelemahannya. Ini cuma masalah waktu sebelum semuanya selesai."
Ketiganya saling pandang dengan tatapan penuh tekad. Dalam hening yang mencekam, mereka seolah menyusun langkah-langkah akhir dari rencana yang telah dirancang dengan hati-hati. Namun, di balik setiap langkah itu, ada rahasia kelam yang mereka sembunyikan.
***
Keesokan harinya, Arel berdiri di depan kaca, menatap bayangannya sendiri dengan hati yang penuh kebimbangan. Dia memikirkan percakapan semalam dan pesan misterius yang diterimanya. Siapa perempuan itu? Apa yang sebenarnya dia lakukan sehingga membuat seseorang merasa begitu marah?
"Gue harus tahu," gumamnya pelan. "Kalau ini ada hubungannya sama Reyhan, gue nggak bisa cuma diem aja."
Dengan keputusan bulat, dia mengambil tasnya dan keluar dari kamar, menuju tempat yang disebutkan perempuan itu. Greenhill Cafe tampak sepi ketika dia tiba. Hatinya berdegup kencang saat dia melangkah masuk, mencari sosok yang menghubunginya.
Di salah satu sudut, seorang perempuan berambut panjang dengan wajah yang terlihat tak asing duduk sambil mengetuk-ngetukkan jarinya di meja. Tatapannya langsung mengarah ke Arel saat dia masuk.
"Akhirnya lu dateng," ujar perempuan itu dengan nada dingin.
Arel terpaku. Wajah perempuan itu begitu familier. Mulutnya terbuka sedikit, tetapi tidak ada kata yang keluar.
"Yasmin?" tanyanya akhirnya, hampir berbisik. Yasmin, perempuan yang selama ini hanya dia kenal dari cerita Reyhan, kini duduk di depannya dengan wajah penuh kebencian.
"Kaget?" Yasmin tersenyum miring. "Gue kira lu pinter, tapi ternyata nggak lebih dari gadis lugu yang nggak tahu apa-apa."
"Tunggu, jadi lu pacarnya Reyhan?" Arel bertanya, masih mencoba mencerna apa yang terjadi.
"Mantan," Yasmin menekankan kata itu dengan nada tajam. "Dan semua ini gara-gara lu. Kalau aja lu nggak muncul dalam hidup Reyhan, dia masih akan sama gue."
Arel menelan ludah, merasa semakin bingung. "Gue nggak ngerti apa yang lu maksud. Gue cuma temen Reyhan. Gue nggak pernah ngelakuin apa pun yang nyakitin hubungan kalian."
"Temen?" Yasmin mendengus. "Lu pikir gue bodoh? Gue lihat cara Reyhan ngelihat lu. Itu bukan cara dia ngelihat temen. Dan gara-gara itu, gue kehilangan semuanya."
Arel terdiam, merasa terpojok. Dia ingin membela diri, tetapi kata-kata Yasmin terasa seperti pukulan bertubi-tubi yang sulit dihindari. Yasmin berdiri, mendekatkan wajahnya ke arah Arel.
"Ingat ini, Arella. Semua hal buruk yang bakal terjadi sama lu nanti, itu karena lu layak dapet."
Setelah mengatakan itu, Yasmin berbalik dan meninggalkan kafe. Arel hanya bisa duduk terpaku, mencoba mencerna semua yang baru saja terjadi, sementara hatinya diliputi perasaan bersalah dan ketakutan.
***
Malam harinya, Arel menghubungi Reyhan dengan penuh emosi. Begitu Reyhan menjawab, Arel langsung berbicara cepat tanpa memberi kesempatan padanya untuk menyela.
"Lu kenapa putusin pacar lu karena gue? Apa lu nggak ngerti gue nggak mau jadi beban buat lu?" Suaranya hampir pecah di ujung kalimat.
Reyhan mencoba menjelaskan. "Arel, denger dulu—"
"Nggak ada yang perlu dijelasin! Gue nggak mau lu ngalah terus gara-gara gue. Ini semua salah!" seru Arel. Dengan tangan gemetar, dia menutup telepon sebelum Reyhan sempat menjawab lebih jauh.
Setelah itu, Arel memutuskan untuk menjaga jarak. Menurutnya, itu adalah keputusan terbaik. Dia tidak mau Reyhan terus mengorbankan dirinya demi hubungan mereka. Dengan berat hati, dia mulai menjauhi Reyhan, yakin bahwa ini adalah satu-satunya cara untuk melindungi mereka berdua dari lebih banyak rasa sakit.
KAMU SEDANG MEMBACA
REL & HAN (END)
Novela JuvenilReyhan Alexander adalah cowok tampan dengan kepribadian yang bikin banyak cewek terpikat. Sebagai anak dari seorang pengusaha sukses, Reyhan sering terlihat menikmati hidup dengan caranya sendiri. Dia suka melakukan hal-hal spontan seperti keliling...
