Arella duduk di ruang tamu rumah Sarah, menggenggam cangkir teh hangat yang sudah hampir dingin. Matanya kosong menatap ke depan, pikirannya masih terpaku pada paket misterius yang datang tadi sore. Kata-kata ancaman di balik foto itu terus terngiang di benaknya. Sarah duduk di sebelahnya, memegang tangan Arella dengan erat.
"Rel, lu nggak sendirian," ujar Sarah lembut. "Gue tahu ini berat, tapi kita bisa cari jalan keluar bareng-bareng."
Arella menghela napas panjang. "Gue takut, Sar. Kenapa mereka nggak berhenti? Gue udah pindah ke sini, udah berusaha jauh dari semua masalah. Tapi tetap aja gue dikejar."
Sarah menatapnya dengan tegas. "Justru itu, Rel. Kita harus ngelawan. Kalau lu terus-terusan takut, mereka yang menang."
Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian mereka. Sarah segera bangkit untuk membuka pintu, dan di sana berdiri Reyhan dengan wajah khawatir. "Mana Arella?" tanyanya tanpa basa-basi.
Sarah membiarkan Reyhan masuk. Begitu melihat Arella, Reyhan langsung menghampiri dan duduk di depannya. "Rel, gue dengar semuanya dari Sarah. Lu oke?"
Arella hanya menggeleng pelan. "Gue nggak tahu, Han. Gue cuma capek sama semua ini."
Reyhan menatap Arella dengan serius. "Rel, gue nggak akan biarin lu hadapi ini sendirian. Kita harus lapor polisi. Ini udah nggak bisa dibiarkan."
Arella menggeleng lagi. "Gue takut, Han. Kalau kita lapor, mereka bisa makin nekat. Gue nggak mau ngerugiin Sarah atau keluarganya."
"Justru karena itu kita harus ambil tindakan," Reyhan menjawab tegas. "Kalau kita diem aja, mereka bakal merasa menang. Sarah juga setuju sama gue, kan?"
Sarah mengangguk. "Gue yakin polisi bisa bantu, Rel. Kalau nggak, kita cari cara lain buat melindungi lu."
Arella terdiam. Kepalanya dipenuhi berbagai kemungkinan buruk, tapi dia tahu Reyhan dan Sarah benar. Dia nggak bisa terus-terusan hidup dalam ketakutan.
Malam harinya, Arella, Sarah, dan Reyhan berkumpul di ruang tamu untuk membahas langkah selanjutnya. Sarah membuka laptopnya, mencari informasi tentang prosedur pelaporan ancaman ke polisi.
"Gue udah cek," kata Sarah. "Kita harus bawa bukti fisik, kayak foto atau pesan ancaman itu. Rel, paket tadi masih lu simpen, kan?"
Arella mengangguk. "Iya, masih di kamar gue."
"Bagus," Reyhan menambahkan. "Besok kita ke kantor polisi bareng. Gue juga kenal seseorang yang mungkin bisa bantu kita."
Arella memandang mereka berdua, merasa bersyukur punya teman seperti mereka. "Gue nggak tahu gimana cara gue balas kebaikan kalian."
Sarah tertawa kecil. "Rel, lu nggak usah mikirin itu. Kita sahabat, udah jadi tugas gue buat ada buat lu."
Reyhan mengangguk setuju. "Gue juga. Lagian, apa gunanya jadi teman kalau cuma ada di saat senang?"
Arella tersenyum tipis, meski rasa takut itu belum sepenuhnya hilang. Setidaknya, dia merasa sedikit lebih kuat dengan dukungan mereka.
Namun, ketenangan itu nggak bertahan lama. Tengah malam, suara ketukan keras di jendela kamarnya membuat Arella terbangun. Jantungnya berdegup kencang saat dia mendekati jendela dengan hati-hati. Di luar, dia melihat bayangan seseorang berdiri di taman, memandang ke arahnya.
Arella mundur perlahan, napasnya memburu. Dia segera mengambil ponsel dan menghubungi Sarah. "Sar, ada orang di luar kamar gue."
Nggak butuh waktu lama, Sarah dan Reyhan datang ke kamar Arella. Reyhan segera membuka jendela, tapi sosok itu sudah nggak ada. Yang tersisa hanya selembar kertas yang ditempelkan di kaca dengan tulisan:
"Kamu nggak bisa lari."
Reyhan meremas kertas itu dengan geram. "Besok kita langsung lapor polisi. Gue nggak akan biarin mereka terus ganggu lu, Rel."
Arella hanya bisa mengangguk, air matanya mengalir tanpa bisa ditahan. Ketakutan itu makin besar, tapi kali ini dia tahu dia nggak sendirian. Dengan Sarah dan Reyhan di sisinya, Arella bertekad untuk melawan. Dia nggak akan membiarkan ketakutan itu menguasai hidupnya.
Keesokan paginya, Arella, Sarah, dan Reyhan tiba di kantor polisi. Arella membawa paket berisi foto ancaman yang diterimanya. Saat mereka memasuki ruangan pelaporan, seorang petugas muda dengan wajah ramah menyambut mereka.
"Selamat pagi. Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya.
Reyhan maju selangkah. "Teman saya menerima ancaman, Pak. Ini buktinya. Kami ingin membuat laporan."
Petugas itu mempersilakan mereka duduk dan mulai mencatat. Arella menjelaskan kronologi kejadian dengan suara yang bergetar, tapi dia berusaha tetap tenang. Sarah dan Reyhan duduk di sampingnya, memberi dukungan penuh.
Setelah laporan selesai, petugas itu berkata, "Kami akan melakukan penyelidikan. Untuk sementara, jangan ragu menghubungi kami kalau ada hal mencurigakan. Dan jangan khawatir, kami akan berusaha sebaik mungkin untuk melindungi Anda."
Keluar dari kantor polisi, Arella merasa sedikit lega, meski rasa takut itu belum sepenuhnya hilang. Reyhan merangkul bahunya dengan lembut. "Rel, ini langkah awal. Kita bakal selesaikan ini bareng-bareng."
Arella menatapnya, matanya sedikit berkaca-kaca. "Makasih, Han. Gue nggak tahu apa jadinya kalau nggak ada lu sama Sarah."
Sarah tersenyum, merangkul Arella dari sisi lain. "Rel, lu nggak sendiri. Kita tim, oke?"
Arella mengangguk, dan untuk pertama kalinya sejak teror itu dimulai, dia merasa sedikit lebih berani. Dia tahu perjalanan ini belum selesai, tapi dengan dukungan orang-orang terdekatnya, dia yakin bisa melewati semuanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
REL & HAN (END)
Novela JuvenilReyhan Alexander adalah cowok tampan dengan kepribadian yang bikin banyak cewek terpikat. Sebagai anak dari seorang pengusaha sukses, Reyhan sering terlihat menikmati hidup dengan caranya sendiri. Dia suka melakukan hal-hal spontan seperti keliling...
