RH| 38 KETUKAN YANG MENGHANCURKAN

4 2 0
                                        

Matahari sudah tergelincir ke ufuk barat saat Arel dan Sarah melangkah meninggalkan kafe. Udara sore itu sejuk, namun tidak cukup untuk menenangkan kegelisahan yang menghantui pikiran Arel.

"Rel, lu nggak apa-apa?" tanya Sarah, memperhatikan sahabatnya yang tampak lebih pendiam dari biasanya.

Arel hanya menggeleng pelan. "Nggak ada apa-apa, Sar. Cuma capek."

Namun, sebelum Sarah bisa membalas, ponsel Arel berdering. Nomor tak dikenal muncul di layar. Arel ragu-ragu sebelum akhirnya mengangkat.

"Halo?"

Suara seorang pria terdengar tegas dari seberang. "Selamat sore. Ini dari pihak kepolisian. Kami ingin mengabarkan bahwa pelaku di balik teror terhadap Anda telah kami amankan. Kami membutuhkan Anda untuk datang ke kantor polisi untuk memberikan keterangan lebih lanjut."

Arel terpaku. Kata-kata itu terasa berat, menggema di kepalanya.

"Rel? Siapa itu?" Sarah bertanya, nadanya cemas.

Arel menutup telepon dengan tangan yang sedikit gemetar. "Pelakunya... mereka udah ketemu. Gue harus ke kantor polisi."

Sarah menatapnya tajam. "Kalau gitu gue ikut. Gue nggak akan biarin lu sendirian."

***

Setibanya di kantor polisi, Arel disambut oleh seorang petugas yang langsung membawanya ke ruang interogasi. Sarah dan teman-teman lainnya yang sudah tiba lebih dulu menunggu di luar.

"Rel, lu yakin nggak apa-apa masuk sendiri?" tanya Sarah sebelum Arel masuk.

Arel menatap Sarah, mencoba memberi senyum kecil. "Gue harus hadapin ini sendiri, Sar. Lu tunggu di sini, ya."

Dengan napas panjang, Arel membuka pintu ruang interogasi. Di dalam, seorang pria duduk di balik meja. Pakaiannya rapi, wajahnya bersih tanpa ekspresi. Namun, ada sesuatu di matanya—tatapan yang membuat darah Arel berdesir.

"Jadi, ini Arella," kata pria itu pelan, suaranya penuh ironi.

Arel duduk di kursi yang disediakan, mencoba menenangkan diri meskipun tangannya sedikit gemetar. "Lu pelaku yang udah ngancurin hidup gue?"

Pria itu tertawa kecil, santai seperti berbincang dengan teman lama. "Hancur? Gue cuma ngasih lu pelajaran tentang realita, Arella."

"Pelajaran?" Arel mengulang dengan nada penuh emosi. "Lu pikir hidup gue ini mainan buat lu?"

Pria itu menatapnya dengan tenang, bibirnya membentuk senyum tipis. "Lu terlalu nyaman sama hidup lu yang sempurna, Arella. Gue cuma pengen liat gimana rasanya kalau semua itu diambil dari lu."

Arel mengepalkan tangannya di bawah meja, menahan diri untuk tidak meluapkan amarah. "Kenapa gue? Gue nggak pernah ngelakuin apa-apa ke lu."

"Lu salah," jawab pria itu dingin. "Lu nggak sadar, tapi kehadiran lu itu ganggu. Lu selalu sok kuat, sok jadi pelindung, sok semuanya terkendali. Tapi kenyataannya? Lu cuma bikin orang-orang di sekitar lu menderita."

Arel terdiam, matanya melebar. "Lu nggak kenal gue."

Pria itu menyeringai. "Gue kenal lu lebih dari yang lu kira. Gue tahu siapa yang lu cintai, siapa yang lu lindungi, dan di mana titik terlemah lu. Dan gue tahu satu hal pasti—lu cuma beban buat mereka."

Kata-kata itu menusuk hati Arel seperti pisau yang dingin. "Itu nggak benar," katanya pelan, suaranya hampir tak terdengar.

"Benar, Arella," pria itu melanjutkan dengan nada penuh kepastian. "Orang-orang yang lu sayang bakal lebih bahagia tanpa lu. Lu nggak bisa nolong mereka. Lu nggak bisa lindungi mereka. Lu cuma masalah."

Air mata mulai menggenang di mata Arel, tapi ia menolak untuk menangis di depan pria itu. "Lu salah," gumamnya.

Pria itu hanya tertawa kecil. "Yakin? Lihat aja sendiri."

Arel berdiri, kursinya bergeser dengan suara nyaring. Ia merasa sesak, dadanya terasa seperti dihantam batu besar. Tanpa menoleh lagi, ia melangkah keluar dari ruangan, meninggalkan pria itu dengan senyum kemenangannya.

Di luar, Reyhan langsung berdiri begitu melihat Arel keluar. "Rel, gimana? Dia bilang apa?"

Arel tidak menjawab. Ia terus berjalan melewati mereka semua, tatapannya kosong.

Sarah berusaha mengejar. "Rel, ngomong sama gue, dong! Apa yang dia bilang?"

Namun, Arel hanya menggeleng pelan. Air mata yang ia tahan sejak tadi akhirnya mengalir tanpa henti.

Reyhan mengepalkan tangannya, matanya memancarkan amarah. "Apa pun yang dia bilang, gue bakal cari tahu. Gue nggak akan biarin lu sendirian dalam hal ini, Rel."

Tapi Arel tidak mendengar apa-apa. Dunia di sekitarnya terasa seperti bisu. Kata-kata pria itu terus terngiang di kepalanya, menghancurkan setiap sisa kekuatan yang ia punya.

"Lu cuma beban buat mereka."

Malam itu, di kamarnya, Arel hanya duduk dalam diam. Foto keluarganya tergantung di dinding, tapi ia bahkan tidak bisa melihatnya tanpa merasa sakit. Kata-kata pria tadi telah menghancurkan sesuatu dalam dirinya—sesuatu yang mungkin tidak akan pernah bisa ia perbaiki.

REL & HAN  (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang