RH| 43 KEJUTAN DI KAFE

3 2 0
                                        

Arel melangkah keluar dari stasiun kereta api, merasakan udara Jakarta yang panas menyambutnya. Dia sengaja datang ke ibu kota hari ini untuk bertemu Reyhan, sahabatnya yang sudah lama tak ia temui. Setiap kali mereka merencanakan untuk bertemu, selalu ada saja urusan mendadak yang tidak bisa ditinggalkan. Tapi kali ini, Arel nekat datang langsung ke Jakarta.

Setelah menunggu beberapa saat, ponselnya bergetar. Itu Reyhan, yang memberi tahu dia untuk menunggunya di sebuah kafe dekat kampusnya. Arel segera mengikutinya dan menuju ke kafe yang dimaksud.

Begitu Arel sampai, suasana kafe itu terasa cukup ramai. Dia duduk di meja yang sudah dipesan Reyhan dan menunggu dengan sabar, sambil memandang sekitar. Suasana kafe cukup cozy, dengan musik lembut mengalun dari speaker di sudut ruangan. Tanpa disangka, beberapa menit kemudian, seseorang yang sangat dikenalnya masuk dan langsung menuju meja Arel.

Aurora. Mantan pacar Reyhan.

Arel langsung merasakan ketegangan. Dulu, dia dan Aurora hanya beretemu sekali, tetapi melihat wanita itu kini mendekat membuatnya sedikit canggung. Aurora, dengan senyum tipis di wajahnya, langsung duduk di kursi seberang Arel.

"Gue kira lu nggak bakal dateng ke Jakarta," ujar Aurora dengan nada santai. "Reyhan masih sering ke sini?."

Arel membalas dengan senyuman yang sedikit dipaksakan. "Gue emang jarang ke Jakarta. Lagi butuh ngobrol sama Reyhan," jawabnya singkat, berusaha menjaga percakapan tetap biasa saja. Namun, perasaan aneh mulai merayapi dirinya. Dia merasa seperti ada sesuatu yang tak beres.

Aurora menatapnya dengan tajam, seolah ingin mengatakan sesuatu lebih dalam. "Reyhan sering banget ngomongin lo, Arel," kata Aurora lagi, kali ini dengan nada yang lebih serius. "Kalian berdua emang deket banget, ya?"

Arel menatap Aurora, mencoba tidak terlihat terkejut. "Iya, kita sahabatan," jawab Arel, mencoba menjaga nada suaranya tetap tenang. Namun, di dalam hatinya, pertanyaan tentang kehadiran Aurora di kafe itu mengguncang pikirannya. Apa yang sebenarnya sedang terjadi?

Aurora mengangguk pelan. "Gue ngerti banget kenapa Reyhan nyaman sama lo," katanya dengan senyum datar, matanya tidak lepas dari Arel. "Tapi, kadang-kadang, kita nggak bisa kontrol perasaan kita, kan?"

Arel merasa ada yang aneh dengan pernyataan itu. "Lo ngomong apa sih?" Arel mulai merasakan ada ketegangan dalam pembicaraan mereka. "Gue cuma pengen ngobrol sama Reyhan. Kenapa lo malah di sini?"

Aurora tersenyum tipis, seolah mendengarkan pertanyaan Arel tapi tidak mau memberi jawaban langsung. "Kadang-kadang, masa lalu itu nggak pernah pergi, Arel," jawabnya, nada suaranya lembut, namun mengandung makna yang lebih tajam.

Arel mulai merasa tidak nyaman. Aurora tidak pernah tampak seperti ini sebelumnya. Ada sesuatu yang tersembunyi di balik kata-katanya. Arel menahan napas, berusaha mencari cara untuk mengubah topik pembicaraan, tapi Aurora tiba-tiba melanjutkan.

"Lu pernah mikir nggak sih, Arel? Apa yang sebenarnya Reyhan rasain waktu sama lo?" tanya Aurora dengan sedikit senyum mengerikan. "Mungkin aja lo yang dia butuhin selama ini, lebih dari sekedar sahabat."

Arel terdiam, merasa perasaan cemas tiba-tiba muncul di dadanya. "Reyhan cuma sahabat gue," jawabnya, kali ini dengan sedikit keras. "Kenapa lo jadi ngomongin dia terus? Apa lo nggak punya urusan lain?"

Aurora tetap tersenyum, tapi kali ini senyum itu terasa lebih dingin. "Sahabat? Gue rasa lo lebih dari itu, Arel. Tapi ya, mungkin gue salah," jawabnya, seperti meremehkan perasaan Arel.

Arel merasa perasaan tak enak semakin menguat. Apa yang sedang dicoba disampaikan Aurora? Apakah dia sedang berusaha mengganggu hubungan Arel dengan Reyhan? Atau apakah ada maksud lain di balik kata-kata itu?

"Lo masih ada urusan sama Reyhan kan?" tanya Arel, mencoba mengalihkan perhatian Aurora. "Gue cuma mau ketemu dia. Kenapa lo ikut campur?"

Aurora mengangkat bahu, seolah tidak peduli. "Gue cuma penasaran aja," katanya dengan nada datar. "Reyhan itu orang yang gue kenal sangat baik. Dan kadang, kita nggak tahu apa yang akan terjadi setelah semua yang berlalu, Arel."

Arel menatap Aurora dengan mata yang tajam. Ia merasa sesuatu yang lebih dalam sedang terjadi di balik sikap Aurora. Sesuatu yang tidak bisa dia pahami sepenuhnya.

"Ada apa sih sebenernya, Aurora?" tanya Arel, menatap wanita itu langsung. "Lo nggak bakal bisa ngubah apapun di antara gue dan Reyhan."

Aurora berdiri dari kursinya dengan perlahan, wajahnya berubah menjadi serius, meski tetap ada senyum tipis di bibirnya. "Gue cuma mau lo tahu, Arel," katanya, "Hidup gak selalu berjalan seperti yang kita inginkan. Jadi hati-hati aja."

Tanpa mengatakan lebih banyak, Aurora meninggalkan meja Arel, meninggalkan Arel yang bingung dan cemas dengan perasaan yang semakin membebani pikirannya. Apa maksud dari percakapan tadi? Dan yang lebih penting lagi, kenapa Aurora terasa seperti sedang menyampaikan peringatan yang samar?

Arel memandangi kursi kosong yang baru saja diduduki Aurora, mencoba meresapi kata-kata yang masih menggema di telinganya. "Hidup gak selalu berjalan seperti yang kita inginkan..." Ucapan itu terus berputar di pikirannya. Apakah ini peringatan, ataukah sekadar sindiran dari masa lalu yang tak kunjung hilang?

Arel menghela napas berat. Segera setelah itu, ponselnya bergetar, dan pesan dari Reyhan muncul di layar: "Gue udah sampe, tunggu di luar ya."

Arel menyentuh layarnya, kemudian berdiri dan berjalan keluar kafe. Dia tahu, pertemuan dengan Reyhan kali ini akan membawa banyak pertanyaan yang harus dijawab.

REL & HAN  (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang