Arella terbangun di tengah malam dengan nafas tersengal-sengal. Cahaya remang-remang dari lampu di luar ruangan menyusup lewat jendela, menciptakan bayangan yang membuat tubuhnya gemetar. Mimpi buruk itu terasa nyata—darah, kaca pecah, dan tulisan ancaman di meja rias terus menghantui pikirannya.
Reyhan, yang duduk di sofa kecil di sudut ruangan, segera terbangun saat mendengar suara Arella. "Arel, lu kenapa?" tanyanya, mendekat dengan wajah khawatir.
Arella menggeleng, menahan air mata yang hampir jatuh. "Nggak apa-apa, cuma mimpi buruk," jawabnya pelan.
Reyhan menghela napas. "Kalau mimpi buruk aja bikin lu segugup ini, berarti lu belum bener-bener baik-baik aja. Lu nggak perlu pura-pura kuat, Arel."
Arella menunduk, menghindari tatapan Reyhan. "Gue cuma nggak mau bikin semua orang tambah khawatir. Bunda, Ayah, Kevin, kakek, nenek... mereka udah cukup stres."
Reyhan duduk di kursi di samping ranjang Arella, menggenggam tangannya pelan. "Gue ngerti, tapi lu juga penting. Kalau lu terus-terusan nyimpen semuanya sendiri, gue takut lu malah makin tertekan. Gue di sini, Arel. Lu bisa cerita kapan pun."
Air mata Arella akhirnya jatuh. Dia mengangguk kecil sambil menggenggam tangan Reyhan lebih erat. "Gue takut, Han. Gue nggak tahu siapa yang ngelakuin ini atau kenapa mereka ngincer gue. Rasanya kayak gue nggak aman di mana-mana."
"Gue janji, kita bakal cari tau siapa pelakunya. Gue nggak bakal biarin lu sendirian ngelewatin ini," jawab Reyhan dengan nada penuh tekad.
***
Sementara itu, di rumah keluarga Arella, Kakek Arella bersama Ayahnya sedang berdiskusi dengan pihak keamanan kompleks. Mereka meninjau laporan kejadian dan mencoba mencari tahu bagaimana pelaku bisa masuk tanpa terdeteksi. Ayah Arella terlihat gelisah, sesekali memijat pelipisnya.
"CCTV rusak tepat sebelum kejadian. Pelakunya jelas profesional atau paling nggak, mereka udah rencanain ini matang-matang," kata kepala keamanan dengan nada serius.
Kakek Arella mengangguk. "Kita harus pasang sistem keamanan baru secepatnya. Saya juga minta semua penjaga kompleks lebih waspada, terutama di sekitar rumah kami."
"Tentu, Pak. Kami juga sedang mengecek kemungkinan adanya saksi di sekitar rumah siang itu," jawab kepala keamanan.
Di sisi lain, Bunda Arella duduk di ruang tamu, menggenggam tangan Kevin yang terlihat cemas. Anak bungsunya itu terus-menerus menanyakan kabar Arella. "Bunda, Kakak nggak kenapa-kenapa kan? Aku takut kalau Kakak harus lama di rumah sakit."
Bunda Arella berusaha tersenyum meski hatinya diliputi kecemasan. "Kakak kamu kuat, Kevin. Kita doakan dia cepat sembuh ya."
Kevin mengangguk pelan, tapi matanya yang basah mengungkapkan betapa dia merasa tidak berdaya.
***
Di rumah sakit, pagi mulai tiba. Reyhan masih duduk di samping Arella yang akhirnya bisa tidur kembali. Pintu ruangan terbuka pelan, menampilkan Jovano, Dimas, Fareil, dan David yang masuk dengan wajah serius.
"Arel gimana?" tanya Jovano pelan.
"Masih lemah," jawab Reyhan sambil mengusap wajahnya. "Gue nggak ngerti siapa yang berani ngelakuin ini. Tapi gue yakin ini bukan kecelakaan biasa."
David menyandarkan tubuhnya ke dinding, wajahnya datar tapi suaranya tegas. "Kita harus cari tau siapa yang ngincer Arella. Gue nggak bakal diem aja kalau ada temen kita yang diginiin."
Fareil mengangguk. "Gue setuju. Tapi kita nggak bisa gegabah. Kita butuh bukti kuat."
Dimas, yang biasanya lebih santai, kali ini terlihat serius. "Gue sama Fareil bisa cek lingkungan sekitar rumah Arella. Siapa tau ada tetangga yang lihat sesuatu."
Reyhan menatap teman-temannya dengan penuh rasa terima kasih. "Makasih, guys. Gue nggak tahu harus gimana tanpa kalian."
Jovano menepuk bahu Reyhan. "Santai aja, bro. Kita nggak bakal ninggalin lu. Lagian, Arel juga temen kita."
***
Beberapa jam kemudian, Arella terbangun lagi. Kali ini, dia merasa sedikit lebih tenang melihat Reyhan dan teman-temannya di ruangan. Mereka mengobrol ringan, mencoba mencairkan suasana.
"Rey, lu udah mandi belum?" tanya Jovano sambil cengengesan.
"Belum," jawab Reyhan singkat.
"Ya ampun, Rey. Kasihan Arella harus napas di ruangan yang sama sama lu," canda Dimas, membuat semua orang tertawa kecil, termasuk Arella.
"Bercandaan lu receh banget," balas Reyhan sambil melirik Arella yang mulai tersenyum.
Arella merasa sedikit lega. Meski ancaman itu masih membayangi, kehadiran mereka memberikan rasa aman yang dia butuhkan. Dalam hati, dia bertekad untuk tidak membiarkan rasa takut menguasainya. Ini belum selesai, tapi dia tidak sendirian.
***
Sore harinya, Kakek Arella datang ke rumah sakit membawa kabar baru. "Saya sudah memesan pemasangan sistem keamanan baru di rumah. Selain itu, saya juga meminta pengawasan lebih ketat dari pihak kompleks."
Ayah Arella mengangguk, meski wajahnya masih menyiratkan kekhawatiran. "Terima kasih, Ayah. Tapi kita juga harus memastikan polisi ikut campur. Ini bukan masalah kecil."
Bunda Arella menimpali, "Dan kalau perlu, Arella tinggal di tempat yang lebih aman dulu sampai semua jelas. Saya nggak mau ambil risiko."
Reyhan, yang mendengar percakapan itu, menoleh ke Arella. "Kalau perlu, lu tinggal di rumah gue dulu, Arel. Orang tua gue pasti nggak keberatan."
Arella tersenyum kecil, meski dia tahu tawaran itu hanya untuk membuatnya merasa lebih aman. "Makasih, Han. Tapi gue rasa gue harus hadapin ini. Gue nggak bisa terus-terusan lari."
Semua orang terdiam sejenak, menghargai keberanian Arella. Namun, dalam hati mereka, kecemasan tetap ada. Ancaman ini jelas belum selesai, dan mereka harus siap menghadapi apa pun yang akan datang.
***
hai bagimana kabarnya nih
makin banyak aja ya part nya
makasih yang udah baca, semoga menghibur maaf kalo banyak typo atau alur yang tidak jelas
KAMU SEDANG MEMBACA
REL & HAN (END)
Teen FictionReyhan Alexander adalah cowok tampan dengan kepribadian yang bikin banyak cewek terpikat. Sebagai anak dari seorang pengusaha sukses, Reyhan sering terlihat menikmati hidup dengan caranya sendiri. Dia suka melakukan hal-hal spontan seperti keliling...
