Arella mengangkat cangkir kopinya, menatap cairan hitam yang berputar pelan karena sendok kecil yang ia gerakkan. Kafe itu ramai seperti biasa, namun sudut tempat ia duduk bersama Reyhan terasa cukup tenang. Dia tahu, apa yang akan dia sampaikan bisa mengubah banyak hal. Tapi, ini sudah terlalu lama dipendam.
"Lu keliatan aneh beberapa hari ini," Reyhan memulai, memecah keheningan. "Ada apa, Rel?"
Arella menatap wajah Reyhan. Sorot matanya penuh perhatian, seperti biasa. Namun kali ini, Arella merasa ada jarak yang sulit ia jelaskan.
"Gue ketemu Revano," ucap Arella akhirnya. Dia melihat bagaimana Reyhan menegang mendengar nama itu.
"Dan?" Reyhan mencoba tetap tenang, meski suaranya terdengar lebih berat dari biasanya.
"Dia cerita banyak hal... tentang masa lalu lu sama dia, sama Riana." Arella berhenti sejenak, memberi Reyhan waktu untuk mencerna. "Gue nggak tahu harus gimana."
Reyhan menghela napas panjang. Dia menyandarkan tubuhnya ke kursi, memandang keluar jendela. "Rel, kalau lu mau tau semuanya dari gue, gue nggak akan nutupin apa pun. Tapi... gimana pun, Revano nggak pernah ngasih gue kesempatan buat ngomong selama ini."
Arella menggigit bibirnya. "Gue nggak nyalahin lu atau dia. Gue cuma bingung... gue di tengah-tengah kalian sekarang."
Reyhan tersenyum tipis. "Gue ngerti. Dan gue nggak mau bikin lu makin bingung. Kalau Revano cerita, itu hak dia. Gue cuma bisa cerita versi gue kalau lu mau denger."
Arella mengangguk pelan. "Gue mau denger, tapi nggak sekarang. Gue cuma... pengen kita nggak saling nyakitin."
Reyhan menatap Arella dalam. "Rel, gue nggak pernah niat nyakitin siapa pun. Tapi kalau itu yang akhirnya terjadi, gue siap tanggung jawab."
Arella ingin percaya. Namun, bayangan percakapan dengan Revano masih mengabur pikirannya.
Hari itu, Arella baru saja selesai mengerjakan tugasnya di apartemen ketika bel berbunyi. Dia tidak menunggu siapa pun, jadi sedikit terkejut melihat Reyhan di depan pintu. Pria itu membawa kantong kertas dengan logo kafe favorit mereka.
"Gue bawa kopi," kata Reyhan sambil mengangkat kantong itu. "Gue pikir lu butuh temen ngobrol."
Arella tersenyum tipis. "Masuk aja."
Reyhan melangkah masuk, menaruh kantong di meja. "Gue tahu obrolan kita di kafe kemarin bikin lu makin mikir. Gue nggak mau ninggalin lu sendirian dalam situasi kayak gini."
Arella menghampiri, duduk di sofa sambil memeluk bantal kecil. "Han, gue nggak tau ini bener atau nggak, tapi gue ngerasa kayak semua ini lebih rumit dari yang gue kira."
Reyhan duduk di sebelahnya, menjaga jarak yang cukup untuk membuat Arella merasa nyaman. "Gue mau cerita semuanya sekarang, Rel. Supaya lu nggak perlu nebak-nebak lagi."
Arella mengangguk pelan, memberi isyarat agar Reyhan melanjutkan.
"Dulu, gue sama Riana itu... lebih ke hubungan yang salah paham. Gue pikir gue suka dia, tapi sebenarnya itu cuma karena gue merasa dia butuh gue," Reyhan memulai, suaranya tenang tapi ada nada penyesalan di dalamnya. "Dan waktu Revano tahu, dia marah besar. Dia ngerasa gue nggak jujur, dan gue akui, gue emang salah karena nggak cerita dari awal."
Arella mendengarkan dengan saksama, mencoba memahami sudut pandang Reyhan.
"Gue nggak pernah bermaksud nyakitin dia atau Riana. Tapi akhirnya, itu yang terjadi. Dan sejak saat itu, Revano nggak pernah mau denger penjelasan gue."
Arella merasa hatinya sedikit lebih ringan mendengar cerita Reyhan. Meski begitu, dia tahu ini belum selesai.
Beberapa hari setelah pertemuan dengan Reyhan di apartemen, Arella memutuskan untuk bertemu lagi dengan Revano. Dia ingin mendengar lebih banyak, memastikan dirinya tidak membuat keputusan yang salah.
Namun, sebelum dia sempat menghubungi Revano, Reyhan kembali datang ke apartemennya. Kali ini, wajahnya terlihat lebih serius.
"Rel, gue mikir-mikir lagi," katanya begitu Arella membuka pintu. "Mungkin ini saatnya gue ketemu Revano."
Arella terkejut. "Lu yakin?"
"Gue harus nyelesain ini. Bukan cuma buat gue, tapi juga buat lu," jawab Reyhan. "Gue nggak mau lu terus-terusan jadi penengah."
Arella mengangguk pelan. Meski hatinya masih penuh keraguan, dia tahu ini langkah yang benar. Mereka pun sepakat untuk menemui Revano bersama, dengan harapan bisa mengakhiri konflik yang selama ini membayangi hubungan mereka.
Malam itu, di sebuah taman dekat apartemen Arella, Reyhan dan Revano akhirnya bertemu. Arella memutuskan untuk duduk agak jauh, memberi ruang kepada keduanya untuk berbicara.
Revano datang dengan wajah datar, jelas menunjukkan bahwa dia masih menyimpan banyak emosi. Reyhan, di sisi lain, mencoba untuk tetap tenang meski terlihat sedikit tegang.
"Gue tahu ini nggak gampang buat kita berdua," Reyhan membuka percakapan. "Tapi gue pikir, kita udah cukup lama hidup dalam kesalahpahaman."
Revano mendengus. "Kesalahpahaman? Lo serius, Han? Lo tahu apa yang gue rasain waktu itu?"
"Gue tahu gue salah, Van," jawab Reyhan. "Tapi lo nggak pernah kasih gue kesempatan buat jelasin. Gue nggak pernah sengaja nyakitin lo atau Riana."
Revano menatap Reyhan tajam. "Lo pikir itu cukup buat ngapus semua yang gue rasain? Riana pergi karena lo, Han. Dia ninggalin gue karena lo."
Reyhan mengangguk pelan. "Gue nggak bisa ngubah apa yang udah terjadi. Tapi gue cuma mau lo tahu, gue nyesel. Kalau gue bisa balik ke masa lalu, gue bakal ngelakuin semuanya beda."
Hening sejenak menyelimuti mereka. Arella memperhatikan dari kejauhan, merasa tegang namun juga berharap.
"Gue nggak tahu apa gue bisa ngelupain semuanya," Revano akhirnya berkata. "Tapi gue capek terus marah. Mungkin... kita bisa coba mulai lagi, tapi gue butuh waktu."
Reyhan tersenyum tipis. "Itu lebih dari cukup buat gue."
Keduanya saling berjabat tangan, meski terlihat masih ada jarak. Tapi Arella tahu, ini adalah langkah awal yang baik. Dia mendekat, bergabung dengan mereka sambil membawa senyum lega di wajahnya.
"Gue seneng kalian akhirnya ngomong," katanya. "Mungkin ini bisa jadi awal yang baru buat kita semua."
Revano dan Reyhan saling bertukar pandang, lalu mengangguk pelan. Meski perjalanan mereka belum selesai, malam itu menandai akhir dari sebuah babak penuh konflik dan awal dari babak yang baru.
KAMU SEDANG MEMBACA
REL & HAN (END)
Novela JuvenilReyhan Alexander adalah cowok tampan dengan kepribadian yang bikin banyak cewek terpikat. Sebagai anak dari seorang pengusaha sukses, Reyhan sering terlihat menikmati hidup dengan caranya sendiri. Dia suka melakukan hal-hal spontan seperti keliling...
