RH| 47 DENDAM REVANO

5 3 0
                                        

Udara malam terasa dingin ketika Arel baru saja turun dari mobilnya di parkiran apartemen, membawa beberapa kantong belanjaan yang terasa berat. Dia melangkah perlahan, fokus memastikan kantong-kantong tersebut tidak robek. Namun, pandangannya terhenti ketika melihat sebuah mobil sedan hitam berhenti di dekat pintu masuk.

Dari mobil itu, seorang pria yang dikenalnya keluar. Revano.

Mata mereka bertemu, dan untuk beberapa detik, suasana terasa canggung. Revano tampak terkejut, namun segera memasang senyum tipis. Tanpa ragu, dia berjalan menghampiri Arel.

"Arella, ya?" tanyanya dengan nada santai.

Arel mengangguk, masih sedikit bingung. "Iya, gue Arel. Lo Revano, kan?"

Revano mengangguk. Pandangannya turun ke kantong belanjaan yang dibawa Arel. "Berat banget itu. Gue bawain, ya?"

Belum sempat Arel menjawab, Revano sudah mengambil dua kantong dari tangannya. "Santai aja, gue nggak bakal kabur bawa belanjaan lo," ujarnya dengan nada bercanda.

Arel hanya tertawa kecil. "Makasih, tapi lo nggak perlu repot-repot."

"Nggak masalah. Gue juga mau ke sini. Temen gue sakit, dan dia tinggal di salah satu unit apartemen ini," jelas Revano sambil berjalan di samping Arel menuju lift.

Di dalam lift, suasana sempat hening. Arel melirik Revano dengan rasa penasaran. Dari awal pertemuan mereka, Revano selalu terlihat sopan dan baik, tapi kenapa dia seperti punya dendam dengan Reyhan?

Ketika lift sampai di lantai mereka, Arel menoleh. "Lo sibuk? Kalau nggak, mampir dulu. Gue baru nyeduh teh, dan kebetulan sahabat gue lagi nginep."

Revano menatap Arel sejenak, lalu tersenyum kecil. "Boleh. Gue cuma sebentar."

***

Apartemen Arel terasa hangat dengan aroma teh melati yang menyebar dari dapur. Sarah yang sedang duduk di sofa langsung berdiri begitu melihat tamu tak terduga.

"Eh, Arel. Lo bawa tamu?" tanyanya heran.

Arel memperkenalkan mereka. "Sarah, ini Revano. Revano, ini Sarah, sahabat gue."

Setelah saling menyapa, mereka duduk di ruang tamu. Sarah memandang Revano dengan tatapan penasaran, namun memilih diam.

Arel menyodorkan secangkir teh kepada Revano dan langsung bertanya, "Revano, gue mau nanya sesuatu. Kenapa lo bermusuhan sama Reyhan?"

Pertanyaan itu membuat Revano terdiam. Dia menatap Arel, matanya berubah serius. "Lo yakin mau tau?"

Arel mengangguk. "Iya. Dari awal kita ketemu, lo baik banget. Tapi lo kayak punya masalah besar sama Reyhan."

Sarah ikut memperhatikan, penasaran.

Revano mendesah panjang, lalu menaruh cangkir tehnya. "Fine. Gue kasih tau. Tapi gue nggak janji lo bakal suka jawabannya."

Revano menatap meja, seolah mencari kata-kata yang tepat. "Gue sama Reyhan dulu temenan. Bukan sahabat, tapi cukup dekat. Sampai akhirnya semuanya berantakan karena satu kejadian."

"Dulu, gue punya kakak perempuan. Namanya Riana"

Dia berhenti sejenak, suaranya berat. "Riana suka sama Reyhan. Gue nggak tau gimana awalnya, tapi mereka sering ketemu karena satu komunitas. Kakak gue selalu bilang Reyhan itu orang yang bisa dia percaya. Gue pikir, ya udah, baguslah kalau dia bahagia."

Namun, semuanya tidak berjalan seperti harapan. Revano melanjutkan dengan nada getir.

"Kakak gue terus berharap Reyhan bakal ngerespon perasaannya. Tapi Reyhan nggak pernah kasih kepastian. Dia baik, tapi... terlalu baik sampai bikin kakak gue salah paham. Sampai suatu hari, kakak gue tau kalau Reyhan deket sama cewek lain. Itu kayak tamparan besar buat dia."

Revano mengepalkan tangannya. "Gue masih inget hari itu. Riana nangis di kamar, dan dia bilang dia nggak cukup baik buat Reyhan. Gue marah. Gue nyalahin Reyhan. Gue bilang dia harusnya tau perasaan kakak gue dan nggak kasih harapan palsu."

Arel mendengarkan dengan tegang, sementara Sarah memegang tangan Arel, mencoba menenangkan suasana.

"Tapi yang bikin gue dendam adalah respon Reyhan. Waktu gue kasih tau ke dia, dia cuma bilang, 'Gue nggak pernah janji apa-apa ke Riana.' Seolah-olah itu cuma masalah kecil. Gue nggak terima."

Mata Revano memerah, suaranya bergetar. "Gue cuma mau Reyhan minta maaf, tapi dia nggak pernah ngelakuin itu. Dan beberapa bulan setelah itu..."

Dia menghentikan ceritanya, menarik napas dalam sebelum melanjutkan. "Riana kecelakaan. Dia meninggal. Gue nggak pernah punya kesempatan buat bilang ke dia kalau dia harus berhenti peduli sama Reyhan."

Ruangan terasa sunyi. Arel menunduk, mencoba memahami beban emosional Revano.

"Jadi, lo dendam karena lo merasa Reyhan nggak tanggung jawab?" tanya Arel, suaranya pelan.

"Gue dendam karena dia nggak peduli. Kalau aja dia minta maaf, mungkin gue bisa memaafkan dia. Tapi sampai sekarang, dia nggak pernah ngelakuin itu."

REL & HAN  (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang