RH| 55 KABAR DARI RUANG OPERASI

7 4 0
                                        

Rumah sakit itu terasa sangat sepi meskipun penuh dengan orang-orang yang hilir mudik. Hanya ada deru mesin dan suara langkah kaki yang teredam oleh dinding-dinding keras. Di ruang tunggu, Fariel, Dimas, David, dan Jovano duduk berjajar. Masing-masing menyandarkan punggungnya pada kursi, namun tidak ada yang benar-benar nyaman. Mata mereka tak pernah lepas dari pintu ruang gawat darurat, seakan menunggu keajaiban datang dalam bentuk kabar baik. Namun, tak ada yang bisa mereka lakukan selain menunggu.

Wajah Fariel terlihat serius. Dia biasanya bisa memecah keheningan dengan lelucon atau obrolan ringan, tetapi kali ini tidak ada yang bisa membuatnya tersenyum. Dimas, yang selalu memiliki cara untuk menenangkan suasana, kali ini juga terdiam. David menatap cemas ke arah ruang operasi, dan Jovano—meski jarang terlihat khawatir—terlihat seperti kehilangan kata-kata.

Reyhan, sahabat mereka yang selalu tampak tak terkalahkan, kini terbaring di ruang operasi dengan cedera serius di bahu akibat kecelakaan. Arel, yang juga terluka parah di dada, sedang menjalani observasi. Detak jantung mereka terasa seiring dengan ketegangan yang menggantung di udara. Ada yang tak berani mereka katakan, namun semua tahu—situasi ini lebih dari sekadar cemas. Semua takut, takut kehilangan mereka yang selama ini menjadi bagian dari hidup mereka.

David akhirnya membuka suara, meski nada suaranya penuh dengan kecemasan yang tak bisa disembunyikan. "Gue nggak ngerti lagi, kenapa semuanya bisa secepat ini, ya?"

Dimas menghela napas, menatap temannya yang tampak sangat terguncang. "Lo nggak sendiri, David. Kita semua juga ngerasain yang sama. Cuma... kita nggak bisa apa-apa."

Jovano mengangguk, meskipun bibirnya tak mengeluarkan satu kata pun. Dalam hati, dia hanya berharap Reyhan dan Arel bisa bertahan.

Tak lama setelah itu, pintu ruang darurat terbuka dan seorang perawat keluar. "Yang terkait dengan pasien Reyhan, ada yang bisa dihubungi?"

Dimas langsung berdiri. "Reyhan masih punya keluarga di Jakarta. Gue coba hubungi mereka sekarang," katanya, cepat melangkah ke lorong rumah sakit untuk mencari sinyal yang lebih baik. Teman-temannya hanya bisa menunggu. Masing-masing menatap ponselnya, berharap mendapat kabar yang lebih baik.

Sementara itu, Arel, meskipun terbaring tak sadarkan diri, seolah mendengar kegelisahan teman-temannya. Dalam pikirannya, kenangan tentang Reyhan muncul satu per satu. Kenangan yang penuh dengan tawa, percakapan tentang masa depan yang penuh harapan, dan segala hal yang mereka alami bersama. Entah kenapa, kenangan itu terasa begitu penting, seakan semuanya akan berakhir. Ada rasa takut yang mendalam menghampiri Arel. Apa yang terjadi kalau mereka tak punya kesempatan lagi untuk berbicara, untuk tertawa bersama?

Luka di dadanya terasa menyakitkan, tetapi rasa sakit itu tak seberapa dibandingkan dengan kekhawatiran yang mendalam tentang Reyhan. Ada perasaan tidak adil, mengapa semua ini terjadi pada mereka? Namun, saat keputusasaan itu hampir menguasainya, Arel merasakan sesuatu yang hangat di sekelilingnya. Matanya perlahan terbuka, dan untuk sesaat, ia merasakan kehadiran seseorang.

Di samping tempat tidurnya, dengan tubuh lelah dan wajah penuh cemas, Reyhan duduk di kursi roda. Senyum kecil tersungging di bibirnya, meskipun jelas ada keletihan yang tercermin di matanya. Reyhan baru saja keluar dari ruang operasi, dan meskipun kondisi tubuhnya masih rapuh, dia berusaha menunjukkan dirinya tetap kuat.

"Gue kira lo nggak bakal bangun, Arel. Gue takut banget..." suara Reyhan terdengar pelan, cemas.

Arel hanya bisa menatapnya, matanya masih berkabut dari rasa pusing dan lelah. Mungkin dia masih bingung dengan kenyataan ini. "Lo masih ada di sini?" Arel bertanya, suaranya penuh kelegaan.

Reyhan mengangguk, tangannya meraih tangan Arel dengan hati-hati, seakan takut jika ia bergerak terlalu cepat akan melukai Arel lebih jauh. "Selalu ada di sini," jawabnya pelan, namun penuh dengan keyakinan. "Lo nggak bakal sendirian, Arel."

Di saat-saat itu, keduanya saling menatap dalam diam. Ada begitu banyak kata yang ingin diucapkan, tetapi dalam keheningan itu, mereka tahu bahwa tidak ada yang lebih penting dari kenyataan bahwa mereka masih bersama.

Tepat saat itu, pintu rumah sakit terbuka, dan kakek serta nenek Arel muncul dengan wajah cemas. Mereka telah datang begitu cepat setelah mendengar kabar buruk itu, dan Arel bisa merasakan kehangatan dari keduanya meskipun mereka tampak terkejut melihat kondisi Arel dan Reyhan.

Kakek langsung melangkah mendekat, tangan beratnya menyentuh bahu Arel, memberikan sedikit rasa aman. "Kamu kuat, Nak," kata kakek, suaranya tegas namun penuh kasih.

Nenek yang berada di sisi kakek hanya bisa menatap Arel dengan tatapan khawatir, seolah mencari jawaban dalam mata cucunya yang masih setengah sadar. "Kami di sini, Arel. Kami akan selalu ada untukmu," katanya dengan suara lembut.

Melihat wajah mereka yang penuh kasih, Arel merasa sedikit lebih tenang. Meskipun kondisi di sekitarnya masih penuh dengan ketidakpastian, satu hal yang pasti—dia tidak sendirian. Keluarganya ada, teman-temannya ada, dan Reyhan, sahabat yang selalu ada untuknya, juga di sini.

Arel merasakan tangan Reyhan yang masih menggenggamnya, begitu erat namun penuh dengan kehangatan. Dalam keheningan yang mencekam ini, mereka berdua tahu bahwa meskipun dunia di luar sana terasa berantakan, mereka akan menghadapi semuanya bersama. Tak ada yang bisa memisahkan mereka, tak ada yang bisa menghentikan perjalanan mereka—karena mereka masih punya waktu, dan waktu itu lebih dari cukup untuk mereka berdua.

REL & HAN  (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang