RH| 39 PELARIAN YANG SUNYI

2 2 0
                                        

Sejak hari itu, waktu seolah melambat bagi Arel. Langit yang biasanya cerah kini terasa lebih kelabu, dan suara-suara riuh di sekitarnya terdengar seperti gumaman samar. Ia menghadiri kelas seperti biasa, tapi pikirannya terus melayang pada pertemuan di ruang interogasi itu—pada kata-kata yang telah mengiris jiwanya.

Setiap malam, kata-kata pelaku menggema dalam pikirannya. “Lu cuma beban buat mereka.”

Ia mencoba menyangkal, tapi semakin ia berpikir, semakin ia merasa itu benar. Apa yang telah ia lakukan untuk orang-orang di sekitarnya? Semua usahanya untuk melindungi, menjaga, dan membantu, ternyata hanya menambah beban bagi mereka.

Di kampus, perubahan Arel menjadi bahan pembicaraan.

"Rel belakangan ini beda banget, ya," bisik salah seorang temannya.

Sarah mendengarnya dan segera menyela. "Dia cuma butuh waktu. Jangan bikin gosip."

Namun, bahkan Sarah tidak bisa menyangkal bahwa Arel yang sekarang tidak sama seperti dulu.

Sore itu, Sarah mengajak Arel ke balkon rumahnya, tempat favorit mereka sejak dulu. Udara sejuk dan angin lembut biasanya menjadi penghibur, tapi kali ini tidak ada yang terasa menenangkan.

"Rel, lu nggak bisa terus kayak gini," kata Sarah, memulai pembicaraan yang sudah lama ia tahan. "Lu nggak pernah cerita apa pun ke gue lagi. Gue nggak tahu apa yang ada di kepala lu, tapi gue cuma mau bilang—gue di sini, oke?"

Arel menatap langit, menghindari kontak mata dengan Sarah. "Gue tahu, Sar. Gue tahu lu selalu ada buat gue. Tapi..." Ia menggigit bibirnya, mencoba mencari kata-kata yang tepat. "Gue rasa, ini hal yang harus gue hadapin sendiri."

Sarah menghela napas panjang. "Rel, gue ngerti lu mau kuat. Tapi kuat itu bukan berarti lu harus sendirian. Kalau lu terus-terusan kayak gini, lu cuma bakal ngurung diri lu lebih dalam."

Arel akhirnya menatap Sarah, dan untuk pertama kalinya, Sarah melihat mata sahabatnya penuh dengan kelelahan dan rasa sakit. "Gue capek, Sar. Gue capek merasa kayak semuanya salah gue. Gue cuma... butuh ruang."

Malam itu, saat Sarah sedang merapikan meja makan, Arel mendekatinya dengan langkah pelan.

"Sar, gue mau ngomong sesuatu," katanya pelan.

Sarah berhenti, menatap Arel dengan cemas. "Apa, Rel?"

"Gue mau pindah ke apartemen gue. Gue rasa... gue perlu waktu sendiri. Gue nggak mau terus-terusan ngerasa jadi beban buat orang lain."

Kata-kata itu menghantam Sarah seperti gelombang besar. "Rel, lu serius? Lu nggak pernah jadi beban buat gue. Gue sahabat lu, dan gue—"

"Gue tahu, Sar," Arel memotong, suaranya mulai bergetar. "Tapi ini bukan soal lu. Ini soal gue. Gue nggak mau terus-terusan ngelihat lu atau Reyhan khawatir sama gue. Gue nggak mau ngerasa kayak gue ini masalah buat semua orang."

"Lu nggak masalah, Rel," tegas Sarah, tapi air mata sudah menggenang di matanya. "Lu penting buat gue. Gue nggak ngerti kenapa lu harus pergi."

Arel tersenyum kecil, meski matanya juga berkaca-kaca. "Gue cuma butuh waktu, Sar. Gue janji, ini bukan berarti gue ninggalin lu."

Hari keberangkatan Arel akhirnya tiba. Pagi itu, Sarah membantu membereskan barang-barang Arel ke dalam koper, meskipun hatinya terasa berat.

Saat memasukkan koper terakhir ke mobil, Sarah menarik napas panjang dan berkata, "Rel, kalau lu butuh gue, kapan aja, lu tahu di mana nemuin gue, kan?"

Arel tersenyum lemah. "Gue tahu, Sar. Dan gue makasih banget buat semuanya."

Sarah memeluk Arel erat, dan kali ini ia tidak bisa menahan air matanya. "Jaga diri lu baik-baik, ya, Rel."

"Lu juga," jawab Arel sambil berusaha menahan tangisnya sendiri.

Di apartemen barunya, Arel berdiri di tengah ruang tamu yang kosong. Semua barangnya masih terbungkus rapi di kardus, tapi ia tidak punya energi untuk membongkarnya.

Ia menatap keluar jendela, melihat lampu kota Jakarta yang berkelap-kelip. Pemandangan itu biasanya memberinya rasa tenang, tapi malam ini tidak ada apa pun yang bisa mengusir kehampaan di hatinya.

“Lu cuma beban buat mereka.”

Kata-kata itu terus bergema dalam pikirannya, menghancurkan setiap lapisan kepercayaan diri yang pernah ia miliki.

Arel jatuh terduduk di lantai, memeluk lututnya sambil menahan isak. Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa ini semua akan baik-baik saja, bahwa semuanya hanya soal waktu. Tapi semakin ia mencoba, semakin ia merasa tenggelam dalam rasa bersalah yang tak berujung.

Malam itu, ia menulis pesan singkat untuk Sarah:

"Sar, makasih buat semuanya. Gue janji, gue bakal coba baik-baik aja. Tapi, untuk sekarang, tolong kasih gue waktu, ya."

Sarah membalas cepat:

"Gue selalu ada buat lu, Rel. Jangan lupa itu."

Namun, bahkan pesan itu tidak mampu mengusir rasa kesepian yang terus merayap masuk ke dalam hati Arel.

REL & HAN  (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang