RH| 15 DIBALIK PINTU RUMAH

31 24 4
                                        

Setelah beberapa jam bersenang-senang bersama teman-temannya di kafe, Arella merasa cukup lelah. Pikirannya mulai melayang, dan dia memutuskan untuk pulang lebih awal. Ketika sampai di rumah, suara riang dari Kevin, adik laki-lakinya yang berusia 8 tahun, langsung menyambutnya. Kevin sedang bermain mobil-mobilan di ruang tamu, berlarian dan sesekali berteriak kegirangan saat mobil kecilnya meluncur cepat di atas meja.

"Kak Arel! Kak Arel!" seru Kevin, matanya berbinar-binar saat melihat kakaknya pulang. Kevin selalu punya cara sendiri untuk menyambut Arella—dengan penuh energi dan kegembiraan.

"Ada apa, Kev?" tanya Arella sambil tersenyum, melepaskan jaketnya dan meletakkannya di kursi yang ada di dekat pintu. Dia duduk di sisi meja sambil memandangi Kevin yang sedang sibuk dengan mobil-mobilannya.

Kevin dengan semangat menunjuk ke arah mobil-mobilan yang sedang meluncur di atas meja. "Lihat, Kak Arel! Mobil aku bisa jalan lebih cepat daripada yang lain!"

Arella tersenyum melihat betapa seriusnya Kevin dalam bermain. "Wah, hebat banget, Kev," jawabnya sambil duduk di sofa. "Tapi nanti kakak capek kalau terus diajak main."

Kevin menyuruh kakaknya untuk duduk dekat dengan dia, dan sejenak Arella memutuskan untuk duduk di lantai dan ikut bermain sejenak. Meski hanya sebentar, momen ini selalu terasa berharga bagi Arella. Kevin, dengan senyum lebar dan canda tawa yang tak pernah habis, selalu bisa membuat hatinya ringan.

Sementara itu, di dapur, ia bisa mendengar suara bundanya yang sedang sibuk memasak. Wangi makanan yang baru matang menyeruak ke ruang tamu, membuat Arella semakin merasa nyaman. Ibunya selalu memasak dengan penuh perhatian, tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan makan, tetapi juga untuk menciptakan suasana hangat di rumah.

"Arel, kamu pulang cepat hari ini? Sudah makan?" tanya Bundanya, sambil melirik ke arah Arella yang baru saja masuk ke dapur.

"Belum, Bun. Aku cuma jajan di luar tadi, Bun," jawab Arella sambil membuka lemari dan mengambil segelas air putih.

Ibunya tersenyum, lalu menyarankan, "Bentar lagi makan malam siap. Ayo duduk dulu, istirahat sebentar." Ibunya memang selalu memperhatikan kesejahteraan Arella dengan penuh kasih sayang, memberikan kenyamanan meskipun Arella sering merasa sibuk dengan kuliah dan teman-temannya.

"Aduh, iya, Bun. Capek banget, tapi pasti seru kalau bisa makan bareng." Arella duduk di meja makan, merasakan kehangatan yang selalu ada di rumahnya. Ayahnya, yang biasanya lebih tenang, tampak sedang duduk santai di ruang tengah sambil membaca koran. Ia tersenyum saat melihat Arella datang, menyambutnya dengan penuh perhatian.

"Arel, sudah ada yang ngajakin kamu liburan? Nanti kita ke pantai lagi, yuk," ujar ayahnya dengan nada penuh kasih sayang. Ayahnya adalah sosok yang pengertian dan sangat peduli dengan keluarganya. Meskipun sibuk dengan pekerjaannya, ia selalu memastikan untuk menyempatkan diri bersama keluarga.

Arella merasa terkejut dan senang mendengar ajakan itu. "Wah, seru juga tuh, Yah. Kapan?"

"Kita rencanakan liburan semester depan. Biar Kevin bisa main air, dan kamu bisa lepas dari segala kesibukan. Keluarga kita harus tetap solid, Arel. Itu yang paling penting," kata ayahnya dengan penuh perhatian. Arella merasakan kehangatan dalam setiap kata ayahnya, yang selalu memberikan rasa aman dan melindungi mereka dengan penuh kasih sayang.

Setelah itu, ayahnya berdiri dan berjalan menuju dapur. "Bun, aku bantuin. Arel, Kevin, makan malam sudah siap!" Ayahnya tersenyum lebar, membuat suasana semakin terasa akrab.

Arella mengangguk dan melangkah ke ruang tamu untuk kembali bersama Kevin. Adiknya itu sedang asyik menyusun mobil-mobilannya, seakan tak peduli dengan kehadiran kakaknya. Arella mendekat, lalu duduk di lantai dekat Kevin. "Eh, Kev, mau main bareng kakak nggak?"

Kevin, yang sebelumnya tampak serius dengan permainannya, menoleh dan berkata dengan wajah kesal tapi tetap senyum di bibirnya, "Yah, baru datang aja kok udah ngajakin main! Aku lagi fokus banget nih, Kak Arel!"

Arella tertawa kecil, tahu betul sifat Kevin yang tak pernah bisa diam. "Oke, oke, aku cuma mau lihat mobil-mobilan keren kamu. Tapi nanti kita main bareng, ya?"

Kevin langsung berlari dan kembali bermain, dengan semangat tinggi. Arella duduk lebih nyaman di sofa, mengamati keasyikan Kevin. Sebelum lama, Kevin lari menuju meja makan dengan ceria. "Kak Arel, Yah, Bun! Makan malam sudah siap!"

Mereka pun duduk bersama di meja makan. Suasana hangat di keluarga Cemara itu membuat Arella merasa sangat bahagia. Ayah dan ibunya selalu menanyakan kabarnya, mendengarkan cerita-ceritanya, dan saling bertukar kisah ringan tentang hari-hari mereka.

Makan malam kali ini terasa lebih istimewa. Ayahnya bercerita tentang perjalanan bisnis yang baru saja dia jalani, sementara ibu sibuk menambahkan nasi dan sayur ke piring Arella dan Kevin. Kevin, dengan mulut yang masih dipenuhi nasi, melucu dan membuat semuanya tertawa. Arella melihat ke arah ibunya yang tersenyum, merasa bangga bisa menjadi bagian dari keluarga ini.

"Sekarang kita nggak boleh sibuk masing-masing, ya. Kita harus sering-sering makan bareng," kata ayahnya, mengingatkan mereka untuk selalu menjaga kebersamaan.

"Ayo, Yah! Kak Arel sering nggak ada di rumah," kata Kevin dengan wajah penuh harapan. "Nanti kita main bareng, ya?"

"Iya, Kev. Kakak janji, nanti kita liburan bareng," jawab Arella, sambil menatap senyum manis adiknya.

Setelah makan malam, mereka menghabiskan waktu bersama, bercakap-cakap ringan di ruang tamu. Ayahnya bercerita tentang masa kecilnya yang penuh petualangan, sementara Kevin mendengarkan dengan penuh perhatian. Arella duduk dekat ibunya, merasakan ketenangan yang luar biasa. Meski dunia luar terkadang penuh dengan kekhawatiran, di rumah ini, Arella merasa tenang dan diterima apa adanya.

Sore itu, Arella tahu bahwa apapun yang terjadi di luar sana, keluarganya akan selalu ada untuk mendukungnya. Mereka adalah tempat di mana ia bisa kembali, tempat di mana ia merasa aman dan tidak perlu berpura-pura menjadi orang lain. Keluarga Cemara, dengan semua kekurangannya, adalah sumber kebahagiaan dan ketenangannya.


Hai👋
Gimana kabar kalian?
Semoga sehat-sehat ya..

Semoga cerita ini bisa menghibur kalian yang lagi sedih atau bahkan bisa bikin mood kalian naik ya..

Jangan lupa vote & komen

Ketemu di part selanjutnya
Jangan lupa jaga kesehatan ya🥰

Love you all

Alenaf19 ☀️

-13 Mei 2022

REL & HAN  (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang