Di luar gudang tua itu, mobil Reyhan berhenti mendadak. Di dalamnya, teman-temannya bersiap dengan perasaan tegang.
"Ini tempatnya," Reyhan berkata dengan nada pasti, sambil menunjuk bangunan itu. "Arel ada di dalam."
"Rencana apa?" tanya David cepat.
"Lu semua ikut polisi dari pintu depan," instruksi Reyhan. "Gue cari jalan samping. Mereka nggak boleh tahu kalau gue masuk."
David tampak ragu. "Ini terlalu berbahaya, Rey."
Reyhan mengangguk pendek. "Gue nggak peduli. Gue harus pastiin Arel aman."
David dan lainnya mengangguk. Mereka bergerak dengan koordinasi yang cermat. Reyhan menyelinap dari sisi samping gudang, membuka jendela kecil dan masuk dengan gerakan pelan.
Di dalam, suara bentakan Yusuf terdengar. "Lu pikir ini semua bisa selesai gitu aja? Gue bakal pastiin lu bayar lunas, Arel!"
Yusuf berdiri dengan pistol mengarah ke dada Arel yang masih terikat di kursi. Reyhan bergerak diam-diam, tetapi lantai kayu di bawahnya berderit. Yusuf menoleh cepat.
"Reyhan!" Yusuf langsung menarik Arel sebagai tameng manusia. "Mau jadi pahlawan? Lihat aja siapa yang mati duluan!"
Reyhan maju dengan tangan terangkat. "Lepasin dia, Ini nggak perlu berakhir begini."
"Diam!" Yusuf berteriak sambil mengokang pistolnya. "Gue udah kehilangan segalanya! Sekarang giliran lu ngerasain kehilangan juga!"
Melihat celah, Reyhan tiba-tiba menerjang Yusuf, membuat pistol terlepas. Keduanya bergulat sengit, Yusuf berhasil memukul Reyhan hingga jatuh, tapi Reyhan bangkit lagi meski tubuhnya mulai melemah. Yusuf berusaha meraih pistolnya kembali, tetapi David muncul dari belakang, melumpuhkan Yusuf dengan tendangan keras.
Aurora dan Yasmin mencoba melawan, masing-masing memegang kayu dan batang besi untuk menyerang. Jovano dan Dimas berhasil menahan Aurora, sementara Yasmin melukai bahu Reyhan dengan tongkat besi. Reyhan tersungkur, tapi dengan sisa tenaga, ia tetap meraih tangan Arel dan mencoba membebaskannya.
Yusuf, yang kembali bangkit, mengambil pistol dan mengarahkannya ke Arel. "Kalau gue nggak bisa hancurin hidup lu, gue bakal hancurin lu sekarang!"
"AREL!" teriak Reyhan yang berusaha maju, tetapi Aurora dan Yasmin menahannya dengan kekuatan mereka. Arel menutup matanya, menunggu tembakan itu.
Suara tembakan meledak.
Arel tertegun, darah mulai mengalir di bajunya. Tubuhnya terkulai lemah.
"AREL!" Reyhan berteriak, meski tubuhnya sendiri hampir tak berdaya. Ia merangkak mendekati Arel, sementara Aurora dan Yasmin masih menahan tubuhnya dengan paksa.
Namun, sebelum Yusuf sempat menembak lagi, polisi menyerbu masuk dengan tembakan peringatan. Yusuf mencoba melawan tetapi segera dilumpuhkan oleh Fariel yang datang dengan tongkat besi. David dan Jovano membantu melumpuhkan Aurora dan Yasmin.
Reyhan segera menghampiri Arel yang terbaring lemah di lantai, darah membasahi pakaiannya. Dengan panik, Reyhan menekan luka di dada Arel, berusaha menghentikan pendarahan.
"Arel, tahan... tahan buat gue," bisiknya sambil menatap wajah Arel yang pucat.
Arel tersenyum samar, meski napasnya terputus-putus. "Gue... gue nggak apa-apa. Lu selamatin gue lagi, Han."
"Lu nggak akan ke mana-mana, denger gue?" Reyhan berkata sambil menahan air matanya.
Sirene ambulans terdengar mendekat. Paramedis segera masuk dan membawa Arel ke tandu. Reyhan hampir pingsan karena kelelahan dan luka, tetapi ia tetap menggenggam tangan Arel hingga akhirnya dipisahkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
REL & HAN (END)
Teen FictionReyhan Alexander adalah cowok tampan dengan kepribadian yang bikin banyak cewek terpikat. Sebagai anak dari seorang pengusaha sukses, Reyhan sering terlihat menikmati hidup dengan caranya sendiri. Dia suka melakukan hal-hal spontan seperti keliling...
