RH| 46 JALAN-JALAN DI TAMAN

4 3 0
                                        

Di ruang tamu rumah Reyhan, keempat sahabatnya—Dimas, David, Fariel, dan Jovano—berkumpul. Mereka tahu betul Reyhan sedang murung setelah putus dengan pacarnya. Namun, usaha mereka untuk menghibur Reyhan seperti bertepuk sebelah tangan.

Reyhan duduk di sofa, menunduk tanpa sepatah kata. Dimas membuka pembicaraan, "Rey, lo nggak mau cerita? Kalau cerita kan bisa lebih lega."

Reyhan hanya menggeleng pelan. David mencoba menyusul, "Rey, kalau lo nggak mau cerita, nggak apa-apa. Tapi jangan begini terus. Lo bikin kita semua bingung."

Jovano, yang tidak tahan dengan suasana serius, mengeluarkan gitar Reyhan dan mulai memetik senar sambil bernyanyi lagu absurd. "Kau lihat diriku, ku lihat dirimu, tapi kau jauh di sanaaa~"

Fariel menatap Jovano dengan bingung. "Van, seriusan? Lo pikir ini bakal bikin dia ketawa?"

Jovano mengangkat bahu. "Siapa tahu, bro."

Namun, meski mereka mencoba berbagai cara—lelucon, percakapan serius, dan bahkan nyanyian absurd—semuanya gagal. Jovano akhirnya memutuskan untuk menghubungi Arel.

Di Bogor, Arel sedang membereskan meja belajar ketika ponselnya berdering. Melihat nama Jovano, dia mengangkat telepon.

"Arel, lo harus ke sini," suara Jovano terdengar mendesak.

Arel mengernyit. "Ke mana? Ada apa, Van?"

"Ke rumah Reyhan. Dia lagi hancur banget. Gue yakin kalau lo yang datang, dia bakal lebih baik."

Arel terdiam sejenak. Meskipun dia sedikit bingung, rasa khawatirnya lebih besar. "Oke, gue otw."

Beberapa jam kemudian, Arel tiba di Jakarta dan langsung menuju rumah Reyhan. Dia mengetuk pintu, dan Reyhan sendiri yang membukakan.

"Lo? Kok tiba-tiba ke sini?" tanya Reyhan dengan wajah kaget.

"Iseng aja. Lo gimana kabarnya?" jawab Arel sambil tersenyum santai, meskipun sebenarnya khawatir.

Belum sempat Reyhan menjawab, keempat sahabatnya muncul dari ruang tamu. Dimas memandang mereka dengan alis terangkat. "Eh, bentar-bentar. Kok tiba-tiba suasana beda, ya?"

Fariel menimpali dengan nada menggoda, "Gue nggak tahu lo bisa senyum lagi, Rey. Ajaib banget, nih."

David menatap Reyhan sambil menyilangkan tangan. "Lo tadi diem kayak patung. Sekarang ceria banget. Arel ini jimat lo, ya?"

Jovano menahan tawa. "Udah kita duga. Lo cuma butuh Arel buat sembuh."

Reyhan mendengus. "Apaan, sih? Nggak ada hubungannya." Dia melirik Arel dengan senyum kecil. "Lo udah makan belum?"

Arel tertawa kecil, mengangkat bahu. "Udah."

"Boong, kan?" Reyhan langsung berjalan ke dapur tanpa menunggu jawaban. "Gue masakin aja. Lo capek-capek datang dari Bogor, masa gue nggak ngapa-ngapain."

Keempat sahabat Reyhan bertukar pandang penuh arti, lalu mengikuti mereka ke dapur sambil menahan tawa.

Di dapur, Reyhan mulai memasak nasi goreng sederhana untuk Arel, sementara teman-temannya duduk di meja dapur, mengamati dengan ekspresi geli.

"Lo liat, nggak, Rey sekarang kayak beda orang?" bisik Fariel ke Jovano.

Jovano mengangguk, suaranya tidak pelan sama sekali. "Dia kayak bapak rumah tangga, serius."

Reyhan mendengar itu dan menoleh dengan spatula di tangan. "Lo mau gue masakin juga, Van?"

"Aduh, nggak usah. Takut nanti gue makin iri sama Arel," goda Jovano sambil tertawa.

Reyhan menggeleng dan kembali fokus ke masakannya, sementara Arel hanya tersenyum kecil, merasa sedikit canggung tapi juga terhibur dengan suasana ini.

Setelah selesai makan, Reyhan tiba-tiba mengusulkan, "Ayo, kita ke taman. Gue butuh udara segar."

Arel menatapnya bingung. "Taman? Malam-malam begini?"

Reyhan mengangguk. "Iya. Sekalian lo juga bisa rileks, kan?"

Akhirnya, Reyhan dan Arel pergi ke taman dekat rumah Reyhan. Keempat sahabat Reyhan memilih untuk tinggal di rumah, tetapi tidak lupa melempar lelucon terakhir. "Jangan lupa bikin Reyhan ketawa terus, Rel!" seru Dimas sebelum mereka pergi.

Di taman, suasana lebih tenang. Reyhan tampak lebih rileks, bahkan mulai menceritakan hal-hal kecil yang selama ini dia simpan. Arel mendengarkan dengan sabar, sesekali menyelipkan candaan untuk membuat Reyhan tersenyum.

Dan untuk pertama kalinya sejak lama, Reyhan tertawa lepas, merasa lebih baik

Udara malam di taman terasa sejuk, dengan angin lembut yang membawa aroma bunga dari pohon-pohon di sekitar. Arel dan Reyhan duduk di bangku kayu dekat air mancur, memandangi gemerlap lampu yang memantulkan bayang-bayang di permukaan air.

Reyhan menatap air mancur itu dengan pandangan kosong, lalu mendesah pelan. "Gue heran, Rel. Kenapa gue selalu ribet sama hal-hal yang nggak penting."

Arel mengangkat alis, bingung. "Apanya yang nggak penting? Semua masalah pasti ada alasan kenapa itu muncul."

Reyhan menoleh ke Arel, sedikit tersenyum. "Lo kayak dosen motivasi, ya."

Arel tertawa kecil. "Gue serius, Han. Lo nggak bisa ngeremehin perasaan lo sendiri. Kalau itu bikin lo sedih, berarti ada artinya."

Reyhan terdiam sejenak, merenungi kata-kata Arel. "Lo selalu gitu, ya. Ngomong hal-hal yang bikin gue mikir."

"Ya gimana, gue emang berbakat bikin orang merenung," balas Arel sambil tersenyum santai, berusaha meringankan suasana.

Reyhan menunduk, kedua tangannya menyatu di pangkuan. "Tapi lo bener. Gue terlalu mikirin hal-hal yang udah nggak bisa gue ubah."

Arel menatap Reyhan dengan serius. "Kadang, lo cuma perlu berhenti menyalahkan diri sendiri, Han. Lo udah melakukan yang terbaik, kan?"

Reyhan tidak langsung menjawab. Dia hanya tersenyum kecil dan berdiri. "Ayo jalan. Gue nggak mau duduk diem terlalu lama."

Mereka berjalan perlahan menyusuri taman yang mulai sepi. Arel memperhatikan Reyhan yang terlihat lebih santai dibanding sebelumnya.

"Lo sering ke taman malam-malam gini?" tanya Arel, mencoba membuka pembicaraan.

"Jarang, sih. Tapi gue suka suasananya. Tenang, jauh dari semua drama," jawab Reyhan.

Arel mengangguk pelan. "Kadang gue juga ngerasa gitu. Ketenangan kayak gini tuh bikin lo lupa sama beban."

Reyhan melirik Arel dengan senyum tipis. "Gue heran, Rel. Lo nggak kenal gue lama, tapi kenapa lo bisa ngerti gue lebih dari orang lain?"

Arel tersentak, tidak menyangka Reyhan akan mengatakan itu. Dia menggaruk belakang lehernya, mencoba menyembunyikan rasa gugup. "Mungkin karena gue sering denger cerita dari temen-temen lo. Mereka suka ngomongin lo, Han."

Reyhan tertawa kecil. "Oh, jadi lo udah disuapin gosip sama mereka?"

"Ya, gitu deh." Arel ikut tertawa, merasa lega karena berhasil membuat Reyhan tersenyum.

REL & HAN  (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang