RH| 16 PERJALANAN TAK TERDUGA

27 25 7
                                        

Arella dan Sarah berjalan menyusuri pusat perbelanjaan dengan senyum ceria. Mall siang itu ramai, tapi keduanya tidak merasa terganggu. Sarah, dengan pembawaannya yang selalu ceria, memimpin jalan sambil terus bercerita tentang kejadian kocak di kampusnya.

"Lu tahu nggak, Rel," Sarah tertawa sambil menunjuk sebuah gaun di etalase toko, "gue pernah hampir beli baju kayak gini buat tugas drama. Terus pas dicobain, gue kayak badut sirkus!"

Arella tertawa kecil, menggelengkan kepala. "Nggak mungkin seburuk itu, Sar. Pasti lu tetap kelihatan lucu."

Sarah mengangguk-angguk setuju dengan gaya sok percaya diri. "Emang! Tapi akhirnya gue nggak jadi beli, soalnya temen gue bilang, 'Sar, itu baju kayak tirai jendela rumah nenek gue.'"

Arella tertawa lagi, kali ini lebih lepas. "Temen lu emang nggak ada sopan-sopannya, ya."

Setelah puas berbelanja, mereka memutuskan untuk makan di food court. Sarah memesan burger jumbo, sementara Arella memilih pasta. Suasana semakin hangat saat Sarah terus bercerita, dari dosen galak hingga gosip tentang teman-temannya. Arella merasa nyaman, seolah beban pikirannya menghilang sejenak.

"Oh iya, Sar, nanti malam jadi nginep di rumah gue, kan?" tanya Arella sambil mengaduk pastanya.

Sarah mengangguk antusias. "Jelas! Gue udah bilang nyokap gue, dan dia setuju banget. Katanya gue perlu refreshing biar nggak stres mikirin tugas kuliah."

Arella tersenyum tipis. "Ya udah, nanti kita nonton film atau apalah. Biar suasana tambah seru."

***

Saat mereka tiba di rumah Arella, suasana tenang dan nyaman seperti biasa. Kevin langsung menyambut Arella dengan teriakan ceria. "Kakak! Kakak beli oleh-oleh buat Kevin, kan?"

Arella tertawa kecil, mengusap kepala adiknya. "Ada, dong. Nih, cokelat favorit kamu."

"Makasih, Kak!" Kevin memeluk Arella sebelum berlari ke dapur dengan senyumnya yang lebar.

Sarah memandang adegan itu dengan mata berbinar. "Kevin lucu banget, Rel. Gue jadi kangen sama adek gue di rumah."

Arella hanya tersenyum sambil mengajak Sarah masuk ke ruang tamu. Tapi langkahnya terhenti ketika dia melihat seseorang yang sedang berbicara dengan ayahnya di ruang keluarga. Pundak tegap itu tampak familiar. Ketika lelaki itu berbalik, Arella menyadari siapa dia.

"David?" tanyanya, setengah terkejut.

David mengangguk kecil, wajahnya seperti biasa tanpa banyak ekspresi. Tapi matanya menatap Arella dengan lembut. "Arella. Kita harus bicara."

Ayah Arella menepuk bahu David. "Silakan, Nak. Arella, dengarkan baik-baik, ya."

Arella mengerutkan kening, bingung. "Ada apa, David?"

David menghela napas pendek. "Reyhan masuk rumah sakit. Dia bertengkar sama Revano, dan..." Dia ragu sejenak sebelum melanjutkan, "Dia dikeroyok."

Mata Arella membelalak. "Apa? Kenapa bisa begitu?"

"Masalah lama. Gue nggak tahu detailnya, tapi orang tua Reyhan minta gue jemput lu ke Jakarta. Mereka pengen lu nasehatin dia. Kayaknya lu satu-satunya yang bisa dia denger sekarang."

Arella terdiam, mencoba mencerna situasi ini. Sarah, yang sejak tadi diam, akhirnya angkat bicara. "Rel, kalau lu perlu bantuan, gue ikut, kok. Siapa tahu gue bisa bantu nenangin lu."

Arella menatap Sarah, merasa beruntung memiliki sahabat seperti dia. "Makasih, Sar. Gue butuh lu."

***

Setelah David selesai berbicara, Arella langsung menuju ruang keluarga untuk berbicara dengan ayah dan bundanya.

"Ayah, Bunda, boleh nggak aku ikut ke Jakarta? Reyhan masuk rumah sakit, dan orang tuanya minta aku buat bantu menasehati dia," kata Arella pelan tapi tegas.

Ayah Arella mengerutkan kening, tapi tetap tenang. "Kenapa Reyhan masuk rumah sakit?"

Arella menjelaskan kejadian yang diceritakan David. Bundanya menghela napas panjang, lalu menggenggam tangan Arella. "Kalau menurutmu ini penting, Bunda izinkan. Tapi jaga diri baik-baik, ya, Nak."

Ayahnya mengangguk setuju. "Ayah juga percaya sama kamu, Arella. Pastikan kamu tidak sendirian di sana, dan hubungi kami kalau ada apa-apa."

Arella mengangguk. "Iya, Yah, Bunda. Terima kasih. Oh, dan karena ini hari Jumat, aku sama Sarah sekalian nginep di Jakarta sampai Minggu, biar nggak bolak-balik."

Bundanya tersenyum tipis. "Boleh. Asal kamu tetap jaga diri, ya."

Kevin yang sedari tadi mendengarkan di sudut ruangan tiba-tiba berseru, "Kakak mau ke Jakarta? Kevin mau ikut!"

Arella tertawa kecil, mendekati adiknya dan mengusap kepalanya. "Kevin tinggal sama Ayah dan Bunda, ya. Kakak nggak lama kok, nanti Kevin bisa video call Kakak."

Kevin mengangguk, meski terlihat sedikit kecewa. "Janji, ya, Kak."

"Janji," jawab Arella dengan senyum lembut.

***

Beberapa saat kemudian, mereka bertiga sudah berada di mobil David. Arella duduk di depan, sementara Sarah di belakang. Perjalanan dimulai dalam keheningan. David fokus menyetir, sementara Arella dan Sarah sibuk dengan pikiran masing-masing.

"Rel," David tiba-tiba memecah keheningan, "Pakai sabuk pengaman."

Arella menoleh, sadar dia lupa memakainya. Sebelum dia sempat bergerak, David sudah meraih sabuk pengaman dan memasangkannya untuknya. "Hati-hati dikit, Arella. Gue nggak mau ada apa-apa di jalan," katanya pelan.

Arella merasa sedikit canggung tapi mengangguk. "Makasih, David."

Dari kursi belakang, Sarah yang ceria tiba-tiba berseru. "Wih, David perhatian banget sama lu, Rel. Gue jadi iri nih."

Arella hanya menggeleng sambil tersenyum kecil, tapi tidak menanggapi.

Sepanjang perjalanan, Sarah terus bercerita untuk menghilangkan suasana tegang. Dia bahkan mencoba membuat David tertawa, meskipun hasilnya hanya senyum tipis. "Rel, temen lu yang ini cool banget, ya. Gue udah nge-jokes sejuta kali, dia nggak ketawa-tawa juga," katanya sambil pura-pura mengeluh.

David hanya menanggapi dengan suara datar. "Gue nggak banyak ngomong, Sar. Tapi gue dengerin kok."

Sarah tertawa. "Oke, gue anggap itu progress."

Arella tersenyum kecil, merasa sedikit lebih tenang. Tapi pikirannya masih dipenuhi kekhawatiran tentang Reyhan. Dia hanya berharap perjalanan ini membawa solusi, bukan masalah baru.


☀️☀️
terima kasih yang sudah baca, semoga kalian suka

kita tunggu kelanjutannya di part selanjutnya


salam hangat 

Alenaf19

publikasi : 

REL & HAN  (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang