RH| 42 PERCAKAPA YANG CANGGUNG

3 2 0
                                        

Arel sedang menyusuri lorong-lorong perpustakaan kampus, mata memandang rak-rak buku yang berisi berbagai referensi kuliah. Meski hari itu seharusnya menjadi waktu yang santai, tugas-tugas yang menumpuk memaksanya untuk datang ke perpustakaan dan mencari bahan bacaan tambahan. Beberapa teman sekelasnya duduk di meja jauh dari tempat Arel, namun dia tidak berniat untuk bergabung dengan mereka. Dia lebih memilih mencari ketenangan dalam kesendirian, memusatkan perhatian pada buku-buku yang ada di depan matanya.

Tiba-tiba, sebuah suara familiar menyapanya, memecah kesunyian yang menyelimuti ruang perpustakaan.

"Arel?" suaranya tidak keras, tapi cukup jelas untuk membuat Arel menoleh ke arah sumber suara.

Arel berhenti sejenak, lalu melihat seorang pria yang duduk di meja baca dekat jendela, memandangnya dengan ekspresi yang campur aduk. Itu adalah Yusuf, teman lama yang sudah lama tak ia temui. Yusuf yang kini sudah bekerja di Jakarta, sementara Arel tetap tinggal di Bogor untuk menyelesaikan kuliah.

"Ada apa lo di sini?" Arel bertanya, sedikit terkejut namun juga merasa nyaman melihat wajah Yusuf yang dulu sempat akrab dengannya.

Yusuf tersenyum tipis, berdiri dan menarik kursi di depannya, memberi isyarat agar Arel duduk. "Gue lagi nyari bahan bacaan buat kerjaan, aja," jawab Yusuf sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Lo sendiri gimana? Masih sibuk kuliah di sini?"

Arel mengangguk, duduk di kursi yang sudah disediakan. "Iya, gue masih kuliah di Bogor. Masih di sini, masih di kampus yang sama. Bosen juga sih, tapi ya gimana lagi," jawab Arel, sedikit tertawa.

Yusuf mengangguk pelan, matanya kembali mengarah pada bukunya, tetapi Arel bisa merasakan ada sesuatu yang berbeda. Ada ketegangan yang tidak biasa di antara mereka, meskipun mereka hanya berbicara tentang hal-hal biasa.

"Apa kabar kerjaan lo?" Arel bertanya untuk mengalihkan perhatian.

"Kerja di salah satu perusahaan start-up di Jakarta. Nggak gampang, sih, tapi seru," jawab Yusuf, meskipun dia tampaknya lebih memilih untuk tidak membahas pekerjaan lebih lanjut. "Lo sendiri, gimana kuliahnya? Kayaknya sibuk banget ya."

Arel menceritakan sedikit tentang jadwal kuliahnya yang padat, namun tidak ada yang terlalu spesial. Mereka terus mengobrol ringan, mengisi kekosongan dengan topik-topik yang tidak jauh dari keseharian. Meski begitu, Arel merasa ada yang tidak nyaman. Seperti ada sesuatu yang belum terucapkan antara mereka.

Setelah beberapa saat, percakapan mulai mengarah ke hal-hal pribadi. "Gue denger lo tinggal sendirian di apartemen, ya?" tanya Yusuf, yang kali ini suaranya lebih berat, seolah mengandung pertanyaan yang lebih dalam dari sekadar obrolan biasa.

Arel menatap Yusuf dengan mata waspada. "Iya, sejak orang tua gue pindah ke luar negeri, gue tinggal sendiri di apartemen," jawabnya dengan nada yang lebih hati-hati, mencoba untuk tidak terlalu banyak membuka cerita.

Yusuf mengangguk, tetapi sorot matanya tetap tajam, seakan mencari tahu lebih banyak. "Wah, harusnya nggak gampang ya, tinggal sendirian. Apalagi di apartemen yang jauh dari keluarga," katanya, lalu tertawa kecil. "Kalo gue sih, pasti bakal ngerasa kesepian, ya, tinggal sendirian gitu."

Arel tersenyum canggung. "Gue terbiasa kok. Lagian, sibuk juga kuliah, jadi nggak ada waktu buat mikirin kesepian." Dia merasa semakin tidak nyaman dengan pertanyaan Yusuf yang mulai terasa terlalu pribadi.

Namun, Yusuf tidak berhenti sampai di situ. "Maksud gue, lo nggak ada yang nemenin gitu? Temen-temen lo di sini nggak ada yang ngajak tinggal bareng?" tanya Yusuf dengan nada yang lebih dalam, seakan dia ingin mengeksplorasi lebih jauh.

Arel berusaha menjaga ketenangannya, meskipun dia merasa semakin terganggu. "Gue suka tinggal sendiri. Kalau teman-teman gue datang, ya mereka sering main ke apartemen, tapi nggak ada yang tinggal bareng. Lagian, gue kan lebih fokus sama kuliah," jawab Arel, mencoba menutup pembicaraan ini.

Yusuf menatapnya, namun kali ini dengan senyum yang tidak begitu tulus. "Tapi lo tahu, Arel, gue denger-denger ada hal-hal yang nggak semua orang tahu tentang lo," kata Yusuf dengan nada yang berubah menjadi lebih serius.

Arel langsung merasakan ketegangan yang tiba-tiba muncul di antara mereka. "Apa maksud lo?" tanya Arel, matanya menatap tajam.

Yusuf mengangkat bahu, seolah tidak berniat melanjutkan pembicaraan lebih jauh. "Gue cuma denger cerita-cerita dari orang-orang sekitar sini. Ada yang bilang lo sekarang tinggal sendirian, jauh dari orang tua. Nggak gampang kan?" jawabnya dengan senyum yang masih tersisa, meskipun ada sesuatu yang mengintimidasi dalam suaranya.

Arel merasa semakin tidak nyaman. Kenapa kata-kata Yusuf terdengar seperti sebuah peringatan, atau bahkan ancaman? "Gue harus lanjut ke kelas, Yusuf," jawabnya singkat, mencoba menghindari percakapan lebih lanjut.

Namun, Yusuf kembali melontarkan sebuah kalimat yang membuat Arel berhenti sejenak. "Hati-hati, Arel. Kadang lo nggak tahu siapa yang ngelihat lo dari jauh."

Arel merasa merinding mendengar kata-kata itu. Ada sesuatu yang tidak beres, dan dia bisa merasakannya. "Makasih atas peringatannya, Yusuf. Gue pergi dulu," kata Arel, segera beranjak dari kursinya dan berjalan menjauh, meskipun hatinya penuh dengan pertanyaan yang belum terjawab.

Saat Arel melangkah keluar dari perpustakaan, perasaan cemas menyelimutinya. Apa yang dimaksud Yusuf dengan kata-katanya? Dan siapa yang sebenarnya mengawasi hidupnya dari jauh? Arel merasa ada sesuatu yang lebih besar di balik pertemuan ini, dan itu membuatnya tidak bisa tenang.

REL & HAN  (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang