RH| 20 JEDA DIANTARA LANGKAH

25 24 1
                                        

Arella dan Sarah menghabiskan malam di rumah kakek dan nenek Arella dengan suasana hangat. Setelah makan malam, mereka berbincang di ruang keluarga sambil ditemani teh hangat. Kakek Arella bercerita tentang kebun kecilnya yang baru saja dipanen, sementara nenek Arella sibuk menunjukkan foto-foto masa kecil Arella kepada Sarah. Mereka tertawa melihat foto Arella yang sedang menangis sambil memegang mainan rusak.

"Ini kenapa, Nek?" tanya Sarah sambil menunjuk foto itu.

"Mainannya dirusak Kevin waktu mereka masih kecil," jawab nenek sambil tertawa kecil.

Arella hanya memutar mata, "Duh, udah deh, jangan bongkar aib." Tapi dia ikut tersenyum melihat Sarah yang sangat menikmati suasana.

Setelah obrolan panjang, mereka akhirnya pamit untuk tidur. Sarah dan Arella berbagi kamar yang dulu sering digunakan Arella saat kecil. Kamar itu masih sama seperti dulu, dengan dinding biru muda dan beberapa poster kartun yang sudah mulai pudar warnanya.

"Gue suka banget di sini," ujar Sarah sambil merebahkan diri di tempat tidur.

Arella duduk di lantai, bersandar pada tempat tidur. "Iya, rasanya kayak pulang beneran, ya. Gue kangen suasana ini."

Sarah menatap Arella sebentar, lalu berkata, "Lu keliatan lebih tenang di sini. Apa gara-gara jauh dari Jakarta?"

Arella tertawa kecil. "Mungkin. Di sini gue ngerasa lebih bisa santai. Tapi tetep aja, ada banyak hal yang gue pikirin."

"Yasmin?" tebak Sarah.

Arella mengangguk pelan. "Dia tadi telepon. Suaranya kayak ada yang ganjel, tapi dia nggak bilang apa-apa."

Sarah mendesah. "Gue rasa dia masih ngerasa bersalah soal yang dulu. Tapi ya, kalau dia nggak mau ngomong langsung, lu juga nggak bisa maksa."

Arella menatap langit-langit. "Iya, gue juga nggak mau maksa. Tapi gue nggak suka hubungan yang kayak gini, serba nggak jelas."

"Lu nggak harus buru-buru baikan, Arel. Pelan-pelan aja. Fokus dulu sama yang ada di depan mata. Kayak Reyhan, misalnya," ujar Sarah sambil menyengir nakal.

Arella memutar mata. "Please, jangan mulai."

Sarah tertawa. "Apa? Gue cuma bilang fakta. Dia tuh jelas care sama lu. Kalau nggak, mana mungkin dia kirim pesan kayak tadi."

Arella menghela napas. "Dia cuma sopan, Sar. Udah, tidur aja. Besok kita mau jenguk dia ke rumahnya."

Sarah masih tersenyum sambil mematikan lampu. Tapi dia tahu, di dalam hati, Arella pasti juga memikirkan ucapannya.

Keesokan harinya, setelah sarapan bersama kakek dan nenek Arella, mereka bersiap untuk pergi ke rumah Reyhan. Rumah Reyhan tidak terlalu jauh, jadi mereka memutuskan untuk berjalan kaki sambil menikmati udara pagi. Di sepanjang perjalanan, Sarah terus menggoda Arella tentang Reyhan.

"Jadi, gimana nih, 'dokter pribadi' Reyhan? Lu siapin wejangan apa buat dia kali ini?" tanya Sarah sambil tersenyum lebar.

Arella hanya memutar mata. "Gue cuma mau jenguk, nggak ada ceramah khusus. Lu yang jangan bikin malu gue di depan dia."

Sarah tertawa keras. "Tenang aja, gue mah kalem."

Setibanya di rumah Reyhan, ibunya menyambut mereka dengan ramah. "Oh, Arella, Sarah, masuk, masuk. Reyhan ada di ruang tamu. Dia udah nungguin dari tadi," kata ibunya dengan senyum hangat.

Mereka masuk ke ruang tamu dan menemukan Reyhan sedang duduk santai di sofa, masih terlihat sedikit lelah tapi jauh lebih segar daripada sebelumnya. Reyhan tersenyum melihat mereka.

"Wah, dokter pribadi dan asistennya dateng," kata Reyhan sambil bercanda.

Arella menggeleng sambil tersenyum tipis. "Gue bukan dokter lu, Rey. Gimana kondisi lu sekarang?"

"Lumayan. Udah jauh lebih baik. Makasih, ya, kalian udah nyempetin dateng," jawab Reyhan tulus.

Mereka berbincang santai, diselingi canda tawa Sarah yang terus menghidupkan suasana. Reyhan tampak lebih rileks, dan ibunya sesekali ikut bergabung dalam percakapan.

Setelah beberapa jam, Arella akhirnya pamit. "Rey, gue harus balik ke Bogor sore ini. Banyak urusan kampus yang nggak bisa gue tinggalin lama-lama."

Ekspresi Reyhan sedikit berubah. "Oh, lu balik hari ini? Kapan balik lagi ke sini?"

Arella terdiam sejenak, lalu tersenyum. "Nggak tahu. Mungkin liburan semester depan kalau sempet."

Sarah langsung menyela, "Wah, Rey, lu harus kirim pesan tiap hari biar Arella inget buat balik ke sini lagi."

Arella menatap Sarah dengan tajam. "Sar, bisa nggak nggak bikin gue keliatan aneh?"

Reyhan hanya tertawa kecil. "Gue bakal inget saran Sarah. Tenang aja, Arella, gue nggak bakal lupa."

Mereka semua tertawa bersama sebelum Arella dan Sarah benar-benar berpamitan. Saat berjalan pulang, Sarah terus menggoda Arella.

"Lu liat nggak gimana dia nanya kapan lu balik? Duh, Arella, dia tuh jelas banget," kata Sarah sambil tersenyum lebar.

"Udah deh, Sar. Lu jangan bikin asumsi sendiri," balas Arella, meskipun wajahnya sedikit memerah.

Malam itu, Arella kembali merenung di kamar neneknya. Banyak hal yang mengisi pikirannya — Reyhan, Yasmin, dan bagaimana hubungan-hubungan ini akan berkembang di masa depan. Dia tahu, hidupnya sedang berjalan ke arah yang baru, dan dia hanya perlu melangkah perlahan untuk menghadapi semuanya.


Hai hai
Gimana part yang ini, seru gak?
Maaf telat up harusnya ini part udh di up dari bulan November lalu tapi Karna aku mau ganti nama pemeran makanya di revisi part sebelumnya dulu.

Kenapa gak revisi pas udah end aja?
Karna kalo pas udh end dan mau ganti nama pemeran tuh pasti byk bgt, makanya gantinya dari sekarang pas blm banyak part-nya.

Maaf kalo masih banyak typo dan alur yang berantakan.

Semoga kalian suka, jangan lupa vote, komentar setiap paragraf share ke temen-temen kalian juga ya.

Jaga kesehatan❤️

Love you all🍀

Alenaf19 ✨

-03 Desember 2022

REL & HAN  (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang