RH| 45 AKHIR YANG TAK TERHINDARI

6 3 0
                                        

Hari itu, suasana terasa berat bagi Reyhan. Hubungannya dengan pacarnya—yang selama ini dijaga sebisa mungkin—kini mulai terasa seperti bara yang siap membakar. Semua terasa lebih rumit sejak Arel hadir kembali dalam hidupnya. Bukan karena Arel memintanya untuk memilih, tapi karena dirinya sendiri yang mulai goyah.

Notifikasi ponsel Reyhan berbunyi, sebuah pesan singkat dari pacarnya: "Kita harus bicara, sekarang."
Reyhan menatap layar dengan napas berat. Dia tahu ini akan menjadi percakapan yang sulit. Dia sudah terlalu sering berada di antara dilema yang terus menghantuinya: mempertahankan hubungan atau memilih jujur pada perasaan dan tanggung jawab yang dia miliki.

Tak lama, pintu rumah Reyhan diketuk. Di baliknya, pacarnya berdiri, wajahnya penuh dengan amarah dan kekecewaan yang tak lagi bisa disembunyikan. Tatapan tajam itu membuat Reyhan langsung tahu, ini bukan hanya pembicaraan biasa.

"Kita butuh penjelasan," ucapnya tajam begitu masuk.

Reyhan mempersilakannya duduk, tapi dia tetap berdiri, menatap Reyhan dengan emosi yang hampir meledak. "Gue tahu lo sibuk, tapi akhir-akhir ini semuanya berubah. Gue ngerasa lo nggak ada buat gue. Kenapa? Apa karena Arel?"

Reyhan terdiam sejenak, lalu menunduk. "Gue nggak bermaksud ninggalin lo. Gue cuma... gue punya tanggung jawab lain."

"Tanggung jawab? Maksud lo Arel, kan?" nada suaranya meninggi, tapi ada luka yang jelas terlihat di matanya. "Lo lebih milih dia daripada gue? Bahkan sekarang lo lebih sering mikirin dia. Gue cuma pelengkap buat lo sekarang, ya?"

Reyhan mencoba menahan diri, tapi akhirnya dia berkata jujur, "Ini nggak cuma soal Arel. Ada hal yang lebih besar dari itu. Orang tuanya nitipin dia ke gue. Mereka percaya gue buat jagain dia. Gue nggak bisa ngecewain kepercayaan itu."

"Jadi, lo ninggalin gue karena janji ke orang tua dia?" Wajahnya memerah, napasnya semakin berat. "Itu alasan lo? Bukan karena lo udah nggak peduli sama gue?"

Reyhan menggeleng pelan. "Bukan gitu. Gue masih peduli sama lo, tapi gue nggak bisa terus kayak gini. Gue nggak mau nyakitin lo lebih jauh."

"Nyakitin gue? Lo sadar nggak, Rey? Gue yang selama ini ada buat lo, tapi yang selalu lo pikirin malah dia." Dia menahan isak, meskipun air matanya mulai jatuh. "Kenapa lo nggak pernah cerita soal ini? Kenapa gue harus tahu belakangan kalau lo punya prioritas lain?"

Reyhan terdiam, merasa tenggelam dalam perasaan bersalah. "Karena gue nggak tahu gimana caranya jelasin ke lo tanpa nyakitin hati lo. Gue cuma... gue cuma pengen lo tahu kalau gue nggak bermaksud ninggalin lo begitu aja."

Namun, itu tak cukup untuk menenangkan pacarnya. Dia memalingkan wajah, menyeka air matanya dengan kasar. "Lo egois, Rey. Lo cuma mikirin gimana caranya lo lepas dari rasa bersalah lo, tapi lo nggak mikir gimana ini buat gue."

Reyhan menarik napas panjang sebelum akhirnya berkata, "Gue nggak bisa terus kayak gini. Gue nggak bisa jadi pacar yang baik buat lo kalau pikiran gue terus terpecah. Lo pantas dapet yang lebih dari ini, lebih dari gue yang nggak sepenuhnya ada buat lo."

Tatapan pacarnya kosong, tapi suaranya bergetar saat berkata, "Jadi ini keputusan lo? Lo mutusin gue karena lo ngerasa lebih penting buat jagain dia daripada hubungan kita?"

"Iya," jawab Reyhan akhirnya, dengan suara yang terdengar begitu berat. "Ini keputusan gue. Maaf kalau gue nggak bisa jadi apa yang lo harapkan."

Dia berdiri, menatap Reyhan dengan pandangan yang penuh kekecewaan. "Gue nggak akan maksa lo, Rey. Tapi gue harap lo tahu, lo kehilangan orang yang bener-bener sayang sama lo. Semoga lo bahagia dengan pilihan lo."

Dengan langkah pelan, dia meninggalkan Reyhan, meninggalkan ruangan itu dengan keheningan yang memekakkan. Reyhan duduk di kursinya, merasa kosong. Keputusan itu memang benar, tapi hatinya tetap terasa hancur.

Setelah kepergian pacarnya, Reyhan hanya duduk termenung. Dalam pikirannya, janji kepada orang tua Arel kembali terngiang. Dia tahu, apa pun yang terjadi, Arel adalah prioritasnya sekarang.

Dia tidak pernah memberitahu Arel tentang janji ini, dan mungkin tidak akan pernah. Tapi satu hal yang pasti, dia akan tetap menjaga Arel, apa pun konsekuensinya.

REL & HAN  (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang