RH| 53 JEJAK DIUJUNG HARAPAN

4 3 0
                                        

Arel terbangun di sebuah ruangan yang remang-remang, sepi, dan penuh dengan ketegangan yang tak terucapkan. Lampu-lampu neon yang redup menggantung dari langit-langit, menciptakan bayang-bayang yang menari-nari di dinding. Ia merasa terikat, tubuhnya lelah, dan matanya masih kabur. Ada rasa asing yang menusuk tulang-tulangnya, seolah-olah dunia ini bukan tempat yang biasa ia kenal.

Keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya saat ia menyadari bahwa ia berada dalam situasi yang jauh lebih buruk dari yang ia bayangkan. Sebelum ia bisa mengatur napas, suara proyektor yang tiba-tiba menyala mengalihkan perhatiannya. Gambar-gambar bergerak mulai diputar di layar putih yang ada di depan matanya.

Arel berusaha untuk bergerak, namun tangannya terikat erat. Layar proyektor menampilkan adegan yang membuat hatinya hampir berhenti berdetak—sebuah kecelakaan mobil yang melibatkan orang tuanya. Mobil yang melaju kencang, rem yang menghentak jalan basah, dan suara tabrakan keras yang menggema di telinganya. Semua itu terlalu nyata, dan seakan-akan dia berada di sana saat peristiwa itu terjadi.

Arel merasa tubuhnya semakin kaku. "Apa ini? Apa yang terjadi?" bisiknya, mulutnya terasa kering.

Tiba-tiba, suara tawa yang rendah terdengar di sudut ruangan. Arel menoleh dengan cepat dan melihat tiga sosok—dua perempuan dan satu pria—berdiri di sana, menatapnya dengan tatapan yang penuh kebencian. Mereka adalah orang yang tak asing lagi bagi Arel.

Yang pertama, Yasmin. Matanya menyala dengan kebencian yang tak terukur. Di sampingnya, Aurora—wanita yang selalu ada di bayangannya, dan di ujung lainnya, Yusuf, pria yang dulu pernah dianggapnya teman. Kini, Arel hanya bisa terdiam, matanya terbuka lebar.

"Ini... nggak mungkin!" Arel hampir tak bisa berkata-kata. "Kalian...? Kalian semua...?"

Yusuf, yang biasanya terlihat tenang, sekarang tampak begitu berbeda. Wajahnya dingin, penuh dengan ketegangan. "Kenapa gak? Apa yang lo harapkan, Arel?" katanya dengan suara rendah dan penuh kebencian. "Lo pikir hidup lo bisa terus berjalan tanpa ada konsekuensinya?"

Arel menggigit bibirnya, menatap mereka satu per satu. Semua ini terasa begitu asing. "Apa yang kalian mau? Kenapa kalian harus melibatkan gue dalam ini?" suaranya mulai gemetar, mencoba mencari jawaban.

Aurora melangkah maju, wajahnya yang dulu ramah kini berubah menjadi kaku dan penuh amarah. "Lo pikir gue nggak tahu? Lo pikir gue nggak lihat gimana lo deket banget sama Reyhan? Lo pikir gue nggak sakit hati liat kalian berdua? Gue bisa lihat dari mata lo betapa lo menikmati perhatian Reyhan. Dan itu nggak bisa gue terima! Gue yang dulu pacar Reyhan, tapi lo malah dengan gampang masuk ke hidupnya! Lo ngerti nggak apa artinya itu buat gue, Arel?" katanya, suaranya terpotong-potong oleh amarah yang membakar.

Arel terkejut. "Lo... lo dendam sama gue karena gue deket sama Reyhan?" tanyanya, hatinya seolah jatuh. "Tapi, gue nggak pernah minta itu, gue nggak pernah maksud untuk ganggu hubungan kalian!"

Aurora tertawa miris. "Itu yang lo pikirkan? Gue nggak peduli kalau lo nggak niat ganggu, Arel. Tapi lo tahu, lo udah ambil semua yang ada di hidup gue—termasuk Reyhan. Lo nggak tahu betapa sakitnya itu!" Aurora hampir berteriak, matanya memancarkan kebencian yang menggelegak.

Kemudian, Yasmin menyela dengan suara dingin. "Gue benci lo, Arel. Hidup lo sempurna! Lo selalu jadi yang terbaik di mata semua orang—sekolah, keluarga, bahkan sekarang Reyhan. Semua orang cuma bisa bandingin gue sama lo. Gue capek jadi bayangan lo! Dari dulu, gue selalu dianggap kurang karena lo ada di sekitar gue. Lo nggak tahu betapa sakitnya itu. Gue nggak bisa hidup tenang karena semua orang, orang tua gue, temen-temen gue, semua selalu nyebut lo! 'Lihat Arel, lihat Arel!' Itu yang gue denger setiap hari. Lo pikir itu adil?" Yasmin meludah ke lantai, matanya berapi-api, menatap Arel dengan dendam yang sangat dalam.

REL & HAN  (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang