RH| 52 SENYUMAN YANG MENIPU

6 3 0
                                        

Arel berjalan menuruni jalan setapak taman yang sepi, jantungnya berdetak cepat. Setelah beberapa kali bertukar pesan, Yasmin akhirnya setuju untuk bertemu, dan dia memilih taman di Jakarta sebagai tempat pertemuan mereka. Taman yang cukup jauh dari keramaian, hanya beberapa orang yang tampak sedang berolahraga atau duduk santai di bangku taman. Arel merasa sedikit ragu, tetapi mencoba meyakinkan dirinya bahwa ini adalah langkah yang benar.

Setelah beberapa menit mencari, Arel melihat sosok Yasmin duduk di bangku taman, menunggu. Wajah Yasmin tampak santai, tidak ada tanda-tanda ketegangan seperti yang Arel harapkan. Dengan langkah hati-hati, Arel mendekatinya.

"Yasmin," sapa Arel, duduk di sampingnya. Suara Arel terdengar sedikit kaku, ada kekhawatiran yang sulit disembunyikan.

"Lo datang juga, Arel. Gue tau ini berat buat lo," jawab Yasmin, matanya menyiratkan senyuman yang ramah. "Tapi gue hargai banget lo mau bantu gue."

Arel mengangguk pelan, mencoba menenangkan dirinya sendiri. "Gue cuma mau Reyhan bahagia. Kalau lo bisa sama dia lagi, gue nggak masalah," jawabnya, berusaha terdengar yakin.

Yasmin tersenyum lebih lebar. "Gue tahu lo pasti nggak mudah dengan semua ini. Tapi percayalah, lo bakal lihat kalau semuanya akan baik-baik aja. Gue juga nggak mau terus bikin lo merasa kayak gini," ucap Yasmin, semakin lembut dan baik.

Senyuman Yasmin semakin lebar, dan Arel merasa sedikit terkejut. Tentu saja, dia tidak mengira Yasmin akan sangat kooperatif. Sikap Yasmin yang lembut ini sangat berbeda dengan apa yang Arel bayangkan sebelumnya. Tetapi entah kenapa, ada yang aneh dengan cara Yasmin tersenyum. Arel mulai merasa ada yang tidak beres. Dalam hatinya, rasa curiga mulai tumbuh.

"Lo yakin lo nggak ada niat lain? Semua ini kayaknya... terlalu baik untuk jadi kenyataan," kata Arel perlahan, sambil mulai menggeser posisinya untuk berdiri.

Yasmin menoleh, matanya tampak berbeda, lebih tajam. "Kenapa lo nggak percaya sama gue, Arel?" kata Yasmin, suaranya tetap terdengar lembut, tapi ada sesuatu yang terasa tidak wajar.

Arel berdiri dengan langkah cepat, merasa ada yang tidak beres. Namun, sebelum dia bisa berlari menjauh, rasa takut mulai merayap ke dalam dirinya saat dia merasakan ada seseorang yang mendekat dari belakang.

Tiba-tiba, Arel merasa ada tangan yang menutupi mulutnya dengan sapu tangan. Bau kimia yang kuat langsung mengisi rongga hidungnya. Sebelum dia sempat berteriak atau melawan, tubuhnya mulai terasa berat, dan pandangannya mulai kabur. Dia berusaha melawan, tapi rasa kantuk datang begitu cepat. Dia hampir tak bisa bernapas. Di saat-saat terakhir, dia mendengar suara Yasmin, namun suaranya terasa jauh, sangat jauh.

"Lo nggak perlu khawatir, Arel... semuanya akan lebih baik. Maaf, ini harus terjadi," ujar Yasmin dengan suara yang terasa samar-samar.

Arel hampir terjatuh, tapi tubuhnya disangga oleh pria yang muncul dari belakangnya. Pria itu mengenakan jas hitam, masker, dan kacamata hitam yang menutupi sebagian besar wajahnya. Arel tak bisa lagi melawan, tubuhnya terasa kaku, dan matanya mulai terpejam.

Namun, di balik pohon besar di dekat mereka, ada sepasang mata yang menyaksikan kejadian itu dengan penuh kecemasan. Mata itu milik seseorang yang mengenal Arel. Tanpa berpikir panjang, orang itu segera mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang yang sudah lama ia kenal.

"Reyhan, lo harus segera datang ke taman belakang. Arel... dia diculik!"

Reyhan yang sedang berada di rumah, merasa dunia seolah berhenti sejenak saat mendengar nama Arel disebut. Tanpa ragu, dia melompat dari kursinya, berlari ke arah pintu, dan mengeluarkan kunci mobil dengan cepat. "Arel... gue nggak bisa biarin ini terjadi," gumamnya, sebelum melesat menuju taman itu, hatinya dipenuhi ketakutan dan kecemasan yang luar biasa.

REL & HAN  (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang