Reyhan masih terbaring di tempat tidur rumah sakit, wajahnya pucat dengan perban melilit di punggung dan lengan. Arella berdiri di sisi tempat tidur, menatap Reyhan yang terlihat mencoba tersenyum walau jelas ada rasa sakit di balik wajahnya. Suasana di ruangan itu terasa tegang, meskipun teman-teman Reyhan—Jovano, Farael, dan Dimas—berusaha mencairkannya dengan guyonan khas mereka.
"Rey, jujur aja. Sebenernya lu kalah karena apa? Gara-gara mereka atau gara-gara lu sendiri terlalu pede?" Jovano menyenggol lengan Farael sambil terkikik.
Farael menimpali dengan nada sarkastik. "Jelas gara-gara Rey sok pahlawan. Kan udah dibilangin jangan sendirian, tapi dia tetep ngelawan kayak mau jadi superhero."
Reyhan hanya mendengus, matanya melirik mereka sejenak sebelum kembali menutup. "Gue nggak sok pahlawan. Gue cuma nggak tahan liat Revano main kasar sama anak-anak baru di tempat itu."
Arella akhirnya angkat bicara, nadanya tegas meski lembut. "Han, kenapa lu nggak ngomong sama gue sebelumnya? Kenapa harus ngelakuin semuanya sendiri?"
Reyhan membuka matanya, menatap Arella yang berdiri di sisi tempat tidurnya. "Gue nggak mau lu ikut campur. Ini masalah gue, Rel. Lagian, lu udah punya banyak hal yang harus lu urus. Gue nggak mau nambah beban."
Arella menghela napas panjang, berusaha menahan emosi. "Itu alasan yang konyol. Gue nggak peduli seberapa berat masalah lu, gue temen lu. Lu harusnya ngomong."
David yang berdiri di pojok ruangan akhirnya angkat bicara, nadanya datar tapi penuh makna. "Rey, Arella bener. Lu punya banyak temen di sini yang siap bantu. Nggak ada gunanya ngorbanin diri buat nyelesaiin semuanya sendiri."
Reyhan tidak menjawab. Suasana kembali sunyi sejenak sebelum Jovano mencoba mencairkan suasana lagi. "Eh, Rey, lu harus cepet sembuh. Soalnya, gue nggak siap kalau harus jadi pengganti ketua geng kita."
Dimas tertawa kecil, menimpali. "Kayaknya kalau Jovano yang jadi ketua, kita semua bakal sibuk nahan malu."
Semua orang di ruangan itu, termasuk Arella dan Reyhan, akhirnya tertawa kecil. Meski begitu, Arella masih merasa ada sesuatu yang Reyhan sembunyikan.
***
Setelah beberapa saat, teman-teman Reyhan memutuskan untuk meninggalkan ruangan agar Reyhan bisa beristirahat. Arella mengikuti mereka keluar, tapi David memberi isyarat agar dia tetap tinggal. Arella menatapnya bingung, lalu melihat kedua orang tua Reyhan berjalan mendekat.
"Arella, boleh bicara sebentar?" tanya ibu Reyhan dengan lembut.
Arella mengangguk, lalu mengikuti mereka ke sudut koridor. Ayah Reyhan memulai pembicaraan dengan nada serius. "Arella, kami tahu Reyhan dan kamu cukup dekat. Dan kami juga dengar dari David bahwa kamu sering menjadi tempat dia curhat."
Arella merasa sedikit gugup tapi tetap mendengarkan dengan saksama. Ibu Reyhan melanjutkan, "Kami khawatir sama Reyhan. Dia terlalu keras kepala, terlalu ingin melindungi orang lain sampai lupa menjaga dirinya sendiri. Kalau bisa, tolong nasehati dia. Kami butuh seseorang yang bisa masuk ke pikirannya."
Arella mengangguk pelan, merasa beban yang cukup berat diletakkan di pundaknya. "Saya akan coba, Tante, Om. Saya nggak janji dia bakal langsung berubah, tapi saya bakal usaha."
Ayah Reyhan menepuk bahu Arella dengan senyum tipis. "Terima kasih, Nak. Kami percaya sama kamu."
***
Saat Arella kembali ke ruangan, hanya ada Reyhan yang masih terbaring lemah. David sepertinya sudah pergi mencari sesuatu, dan suasana di ruangan itu jadi lebih sepi.
Arella duduk di kursi dekat tempat tidur Reyhan. Dia diam sejenak, hanya menatap temannya yang kini terlihat lebih rapuh daripada biasanya. "Han," panggil Arella pelan.
KAMU SEDANG MEMBACA
REL & HAN (END)
Teen FictionReyhan Alexander adalah cowok tampan dengan kepribadian yang bikin banyak cewek terpikat. Sebagai anak dari seorang pengusaha sukses, Reyhan sering terlihat menikmati hidup dengan caranya sendiri. Dia suka melakukan hal-hal spontan seperti keliling...
