Arella duduk di salah satu sudut kafe dekat kampus. Kopi hitam di depannya sudah hampir habis, sementara laptop terbuka dengan tumpukan tugas yang belum selesai. Sejak orang tuanya memutuskan untuk pindah ke luar negeri, Arella harus tinggal bersama Sarah, sahabatnya, di Bogor. Meskipun di rumah Sarah dia merasa lebih nyaman, ada rasa rindu yang tak bisa disembunyikan—rindu pada orang tuanya, pada rumah yang dulu penuh dengan suara tawa keluarga, dan pada rutinitas yang kini berubah drastis.
Tangan Arella sibuk mengetik, namun pikirannya terus teralihkan. Sesekali matanya melirik keluar jendela, melihat mahasiswa lain yang berjalan dengan tawa dan obrolan ringan mereka. Di tengah kesibukan itu, handphone Arella bergetar. Nama yang tertera di layar membuatnya tersenyum, "Nauval."
"Yo, gue di sini, lu kemana?" suara Nauval terdengar begitu ceria di telepon, mengusir sedikit kepenatan yang dirasakan Arella.
"Ada di kafe deket kampus. Lagi ngerjain tugas, tapi nggak kelar-kelar," jawab Arella sambil mengusap wajahnya, merasa frustasi.
"Lu emang, ya. Kerjaannya kalau nggak ngeluh, ya ngeluh. Gimana sih, Arel?" Nauval tertawa di ujung sana. "Nggak, deh, gue ke sana, biar temenin lu."
"Yaudah, gue tunggu. Bentar, gue pesen makanan dulu deh," jawab Arella sambil meletakkan ponselnya. Dia kembali menatap layar laptop yang masih kosong, lalu memilih untuk memesan makan siang agar bisa sedikit beristirahat.
Setelah beberapa menit, Nauval muncul di kafe dengan gaya santainya, mengenakan hoodie dan celana jeans robek yang sudah menjadi ciri khasnya. Begitu melihat Arella, dia langsung melambaikan tangan dan mendekat.
"Nih, yang paling susah diajak fokus," kata Nauval sambil duduk di depan Arella dan menyodorkan segelas iced latte.
Arella tersenyum tipis, menerima minuman itu. "Makasih, Val."
"Mau cerita, nggak? Soal tugas, atau... soal hidup lu yang sekarang?" tanya Nauval, matanya tak lepas memandang Arella yang terlihat kelelahan. Mereka sudah cukup dekat sejak semester-semester awal kuliah, dan Nauval selalu bisa mengerti mood Arella tanpa banyak kata.
Arella menghela napas, kemudian meletakkan laptopnya di meja. "Banyak yang berubah, Val. Dari orang tua yang pindah ke luar negeri, sampai tinggal di rumah Sarah yang... berbeda banget sama rumah gue dulu."
"Gue ngerti, Arel. Tapi yang penting, lu nggak sendirian kan? Ada gue, ada Sarah, dan yang pasti, banyak temen-temen lu yang bakal selalu support," jawab Nauval dengan nada yang lebih serius. Dia tahu betul betapa kerasnya perubahan yang dirasakan Arella.
Arella mengangguk pelan. "Iya sih, tapi tetep aja, ada kekosongan yang nggak bisa diisi. Gue harus lebih mandiri sekarang. Banyak hal yang tiba-tiba jadi tanggung jawab gue."
"Lu nggak perlu selalu ngerasa sendiri, Arel. Gue ada buat bantuin. Sumpah, kadang gue juga ngerasa berat, tapi kita bisa lewatin ini bareng-bareng." Nauval menatapnya dengan tatapan tulus, membuat Arella merasa sedikit lebih lega.
"Tapi, lu juga nggak bisa terus-terusan dateng ke gue cuma buat bantuin. Lu juga harus fokus sama kuliah dan hidup lu, Val," jawab Arella, meskipun dia merasa agak canggung dengan perhatian Nauval yang begitu besar.
Nauval tertawa kecil. "Udah deh, jangan banyak alasan. Kalau gue gangguin lu terus, paling nggak, tugas lu selesai lebih cepet." Dia mengedipkan mata, membuat Arella tertawa.
Beberapa saat berlalu, dan mereka mulai bercanda seperti biasa. Tugas yang semula terasa sangat menumpuk kini jadi sedikit lebih ringan dengan kehadiran Nauval. Arella merasa lebih terhubung dengan temannya itu, seolah semua kecemasan yang ada dalam dirinya bisa sedikit terobati.
Tak lama kemudian, handphone Arella bergetar lagi. Kali ini, nama yang muncul di layar adalah "Reyhan." Dengan sedikit rasa canggung, Arella menjawab telepon itu.
"Hey, Arella. Lagi ngapain?" suara Reyhan terdengar di ujung sana, membawa sedikit kehangatan yang Arella rasakan meskipun mereka berada jauh.
"Lagi di kafe dekat kampus, cuma nongkrong sebentar. Lu sendiri gimana?" jawab Arella, berusaha terdengar santai meskipun dia merasa rindu.
"Lagi latihan bareng tim. Capek banget, tapi ya, harus lah. Kapan kita bisa ketemu?" Reyhan terdengar lelah, tapi suaranya tetap membuat Arella tersenyum.
"Gue juga pengen ketemu, Han Tapi lagi banyak yang harus gue beresin dulu di sini," jawab Arella pelan.
"Gue ngerti, sih. Tapi jangan terlalu keras sama diri lu, Arel. Kalau butuh apa-apa, gue selalu ada buat bantuin."
Arella terdiam sejenak, mendengar kata-kata Reyhan yang membuat hatinya terasa hangat. "Thanks, Han," jawabnya akhirnya, tanpa sadar senyuman muncul di wajahnya.
Setelah menutup telepon, Arella kembali menatap Nauval yang sudah menunggu dengan senyum lebar.
"Gue kira, kalian udah mulai pacaran, Arel. Kalo nggak, kenapa lo senyum gitu?" Nauval menggoda, tetapi Arella hanya menggulung mata.
"Lah, nggak la." jawab Arella dengan cepat. Namun, dia sendiri merasa agak bingung dengan perasaannya yang makin sulit diungkapkan.
Nauval hanya tertawa. "Yaudah, lu nggak perlu jawab pertanyaan gue, yang penting sekarang, kita fokus sama tugas dulu. Gue bakal bantuin lu."
Arella merasa sedikit lega mendengar itu. Dalam kekalutan hatinya, setidaknya dia tahu bahwa dia tidak sendirian. Teman-temannya selalu ada, siap membantu dan mendukungnya, seperti halnya Nauval yang kini duduk di depannya, menyemangati dan mengingatkan bahwa hidup tetap berjalan meski ada perubahan besar yang datang.
KAMU SEDANG MEMBACA
REL & HAN (END)
Novela JuvenilReyhan Alexander adalah cowok tampan dengan kepribadian yang bikin banyak cewek terpikat. Sebagai anak dari seorang pengusaha sukses, Reyhan sering terlihat menikmati hidup dengan caranya sendiri. Dia suka melakukan hal-hal spontan seperti keliling...
