Malam gelap menyelimuti sebuah ruangan kecil dengan pencahayaan redup. Tiga orang duduk mengelilingi meja kayu dengan layar laptop yang memancarkan cahaya biru ke wajah mereka. Mereka tampak serius, saling bertukar pandang dengan penuh rahasia. Salah satu dari mereka, seorang pria dengan sorot mata tajam, mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja, menciptakan irama pelan yang menegangkan.
"Target sudah kembali," ucap pria itu dingin. Suaranya rendah, tapi penuh tekanan.
Di sampingnya, seorang perempuan berambut panjang mengepalkan tangannya. Wajahnya memerah karena emosi yang sulit ditahan. "Kita harus segera bertindak. Gue nggak mau kesempatan ini hilang lagi."
Perempuan lainnya, yang duduk di ujung meja, tersenyum kecil namun penuh makna. "Santai dulu. Semua ada waktunya. Lagipula, kita perlu memastikan semuanya berjalan sesuai rencana."
Pria itu memutar laptop ke arah mereka, memperlihatkan foto-foto yang diambil dari jarak jauh. Salah satunya adalah gambar Arel yang sedang tertawa lepas bersama keluarganya di taman. Gambar lainnya menunjukkan Reyhan yang sedang berbicara dengan teman-temannya di sebuah kafe.
"Ini mereka. Sasaran kita," pria itu melanjutkan sambil menatap tajam kedua perempuan tersebut. "Kalian tahu tugas kalian, kan?"
Perempuan berambut panjang itu mengangguk dengan penuh semangat. "Gue bakal bikin mereka hancur. Tapi lu harus kasih gue waktu buat ngatur strategi gue sendiri."
"Tentu," jawab pria itu sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Gue udah nyiapin semuanya. Kita mulai dengan memancing mereka keluar dari zona nyaman mereka. Buat mereka kehilangan pijakan. Dan kalau saatnya tiba, kita serang bagian yang paling lemah."
Perempuan lainnya, yang lebih tenang, membuka sebuah map yang penuh dengan dokumen dan catatan kecil. "Langkah pertama sudah kita jalankan. Informasi tentang mereka udah lengkap. Sekarang tinggal eksekusi. Tapi gue pengen tahu, siapa yang kita bidik dulu? Arel atau Reyhan?"
Pria itu tersenyum dingin. "Itu bukan keputusan gue. Itu tergantung dari siapa yang lebih mudah dibuat hancur. Yang penting, kita nggak boleh ketahuan."
Mereka bertiga kembali memandang layar laptop, memperhatikan foto-foto yang terpampang di sana. Ada sebuah peta kota dengan tanda merah di lokasi tertentu, menciptakan suasana penuh ketegangan.
"Gue masih nggak percaya dia ada di sini lagi," gumam perempuan berambut panjang, suaranya hampir berbisik. "Setelah semua yang dia lakuin ke gue... dia pikir gue bakal diem aja?"
Pria itu menoleh kepadanya. "Itu kenapa lu ada di sini. Karena kita punya tujuan yang sama. Balas dendam ini bukan cuma tentang satu orang. Ini tentang menghancurkan semuanya."
Perempuan tenang itu menyeringai tipis. "Gue siap. Kalau waktunya udah tepat, gue bakal ambil langkah pertama. Tapi kita harus pastikan semuanya sempurna. Nggak boleh ada kesalahan."
Pria itu berdiri, menutup laptopnya, dan menatap mereka berdua. "Kalau begitu, kita mulai sekarang. Kita udah terlalu lama nunggu. Nggak ada jalan balik lagi."
Suasana ruangan itu berubah semakin tegang, seolah-olah ada sesuatu yang siap meledak. Ketiganya menyusun langkah demi langkah, memastikan bahwa rencana mereka tidak akan gagal. Di luar, hujan mulai turun, menciptakan irama pelan yang menggema di antara dinding ruangan. Mereka bertiga tahu, ini bukan sekadar rencana balas dendam biasa. Ini adalah perang yang akan mengubah segalanya.
***
Hai
Gimana part yang ini?
Semoga seru ya
Jadi gini guys aku tuh udah nimbun banyak part yang nantinya bakal aku up.
Stay tune ya
Seperti biasa makasih yang sudah vote, komen, dan share.
Selalu jaga kesehatan guys, jangan lupa pake jaket kalo keluar malam and jangan terlalu banyak makan mie instan..
Rel & Han
Akan segera aku selesaikan
Love you all ❤️
Salam hangat
Alenaf19
-14 Januari 2023
KAMU SEDANG MEMBACA
REL & HAN (END)
Genç KurguReyhan Alexander adalah cowok tampan dengan kepribadian yang bikin banyak cewek terpikat. Sebagai anak dari seorang pengusaha sukses, Reyhan sering terlihat menikmati hidup dengan caranya sendiri. Dia suka melakukan hal-hal spontan seperti keliling...
