RH| 41 PERMINTAAN MAAF YANG TULUS

5 2 0
                                        

Reyhan baru saja selesai dengan serangkaian kegiatan kampus yang menyita waktu, dan dia merasa cemas karena tidak bisa meluangkan banyak waktu untuk pacarnya belakangan ini. Sudah beberapa hari mereka tidak berbicara panjang, hanya pesan singkat yang penuh dengan kesibukan masing-masing.

Pada suatu malam, ketika dia tahu pacarnya sedang santai di rumah, Reyhan merasa perlu untuk berbicara. Dia menelepon pacarnya, dan suaranya terdengar sedikit ragu.

"Hey, kamu lagi sibuk?" tanya Reyhan pelan.

"Hmm, nggak kok. Lagi santai aja. Ada apa?" jawab pacarnya, dengan suara lembut yang selalu menenangkan Reyhan.

Reyhan menarik napas dalam-dalam. "Aku... aku minta maaf kalau akhir-akhir ini aku terlalu sibuk dan nggak bisa perhatian sama kamu. Aku tahu kamu pasti merasa diabaikan," katanya dengan nada yang sedikit cemas.

Ada keheningan sesaat di ujung telepon, dan Reyhan mulai merasa gelisah. Namun, pacarnya segera merespons dengan lembut.

"Aku ngerti kok, Rey. Aku juga sibuk," jawab pacarnya, suara penuh pengertian.

Reyhan tersenyum lega, meskipun perasaan bersalahnya belum sepenuhnya hilang. "Tapi tetap aja, aku harusnya bisa meluangkan waktu lebih buat kamu. Kamu penting buat aku," katanya dengan tulus.

Pacarnya hanya tertawa pelan, "Aku tahu kok. Kamu selalu perhatian, meskipun sibuk. Aku nggak mau kamu ngerasa tertekan."

Reyhan merasa ada kehangatan di hatinya mendengar kata-kata itu. Dia merasa diberkahi karena memiliki seseorang yang begitu pengertian. "Makasih sudah selalu ngerti. Aku janji bakal lebih ngatur waktu buat kita."

Setelah percakapan itu, Reyhan mengatur rencana untuk bertemu. Mereka memutuskan untuk makan malam bersama, dan Reyhan menyiapkan kejutan kecil untuk pacarnya. Meskipun sederhana, dia tahu bahwa perhatian kecil ini akan membuat pacarnya merasa dihargai.

Di restoran kecil yang mereka pilih, Reyhan menatap pacarnya dengan senyum hangat. "Aku kangen kamu," ucapnya sambil menggapai tangan pacarnya. "Aku sering merasa kalau hidup aku lebih lengkap saat kita bareng."

Pacarnya tersenyum, tetapi ada sedikit rona merah di pipinya. "Aku juga kangen banget," jawabnya sambil menggenggam tangan Reyhan. "Kamu itu memang punya cara tersendiri buat bikin aku ngerasa spesial."

Mereka tertawa bersama, dan Reyhan melihat betapa pacarnya terlihat nyaman dan bahagia. Makan malam mereka penuh dengan percakapan ringan, tetapi juga ada banyak momen yang lebih dalam. Reyhan mulai menceritakan tentang bagaimana dia merasa bersalah karena sering kali mengabaikan pacarnya, sementara pacarnya lebih banyak mendengarkan tanpa menghakimi.

"Kadang aku merasa, apa ya, nggak adil buat kamu," Reyhan berkata pelan, matanya tetap menatap pacarnya dengan penuh perhatian. "Kamu selalu ada buat aku, tapi aku nggak bisa selalu ada buat kamu."

"Rey, kamu nggak perlu khawatir tentang itu," pacarnya menjawab dengan lembut. "Aku ngerti kok, hidup itu nggak selalu bisa berjalan sesuai rencana. Tapi yang penting kita saling ada, dan aku senang kok kamu masih meluangkan waktu buat aku."

Reyhan tersenyum, terharu mendengar kata-kata itu. "Aku janji, aku bakal berusaha lebih baik lagi," katanya. "Kamu itu jauh lebih penting daripada apapun yang ada di hidup aku."

Mereka menghabiskan sisa waktu makan dengan tawa dan cerita, saling berbagi mimpi dan harapan. Setelah makan, mereka berjalan-jalan di sekitar taman kota. Malam itu, langit penuh bintang, dan angin yang sejuk menyapa mereka berdua. Reyhan menggenggam tangan pacarnya dengan lebih erat, merasa sangat bersyukur.

Di tengah percakapan santai, Reyhan menatap pacarnya dengan tatapan serius. "Kamu tahu nggak, aku sering mikir, aku nggak bisa ngebayangin hidup tanpa kamu," katanya dengan suara yang penuh ketulusan. "Aku nggak akan bisa jadi diri aku yang terbaik tanpa dukungan kamu."

Pacarnya terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. "Aku juga, Rey. Aku juga nggak bisa ngebayangin tanpa kamu," jawabnya dengan lembut. "Kita itu saling melengkapi, kan?"

Reyhan mengangguk, tak bisa menahan senyum. "Iya, kita saling melengkapi," katanya. "Aku janji, kita bakal hadapi semuanya bareng, apapun itu."

Mereka berjalan kembali ke mobil, masih saling menggenggam tangan, menikmati kebersamaan yang sederhana namun penuh makna. Reyhan tahu bahwa hubungan ini adalah sesuatu yang tak ternilai harganya, dan dia bersyukur telah menemukan seseorang yang begitu pengertian dan penuh kasih.

REL & HAN  (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang