Arel duduk di tepi tempat tidurnya, memandangi ponselnya yang masih berdering, lagi dan lagi. Setiap kali ponselnya bergetar, hati Arel semakin berat. Nama Reyhan selalu muncul di layar, seolah menjadi pengingat tentang keputusan besar yang telah dia buat. Keputusan untuk menjauh.
Tapi rasanya seperti ada yang mengganjal di dalam dirinya. Setiap ketukan di pintu hatinya semakin keras. Arel tahu apa yang harus dia lakukan. Ini demi kebaikan Reyhan, tapi tetap saja, perasaan bersalah itu menghantui. Arel takut. Takut jika dia terus-terusan bergantung pada Reyhan. Takut jika hubungan ini berlarut-larut tanpa akhir yang jelas, dengan Reyhan yang selalu merasa bertanggung jawab atas dirinya.
Ponsel di tangan Arel kembali bergetar, kali ini lebih lama. Reyhan menelpon lagi. Arel hanya menatapnya sebentar, lalu mengabaikannya. Dia melemparkan ponselnya ke atas kasur, seolah melemparkan semua perasaan yang mengganggunya. Namun, di lubuk hatinya, rasa takut dan kekhawatiran tetap ada.
Di luar, Reyhan tak tahu lagi harus berbuat apa. Dia sudah berusaha menghubungi Arel berulang kali, tapi tak ada jawaban. Panggilan, pesan, bahkan ketukan di pintu apartemen—semuanya sia-sia. Reyhan merasa bingung dan tak tahu lagi apa yang sedang terjadi. Dia merasa seolah ada tembok besar antara mereka, dan Arel ada di sisi yang jauh sekali.
Akhirnya, Reyhan menghubungi David. "David, gue butuh bantuan. Arel nggak jawab telepon, nggak buka pintu, nggak apa-apa kalau lo datang?"
David, yang selalu tahu apa yang Reyhan rasakan, langsung merespon. "Gue datang. Tenangin diri dulu, Reyhan. Jangan terburu-buru. Ini bukan masalah yang bisa diselesaikan dengan emosi."
Reyhan mendesah. "Gue nggak tahu lagi harus gimana. Gue cuma pengen tahu kenapa dia tiba-tiba menghindar."
David berusaha menenangkan Reyhan. "Gue paham. Tapi lo harus sabar. Kita nggak bisa paksa orang buat ngomong kalo mereka nggak siap."
Beberapa jam kemudian, David tiba di depan apartemen Arel. Reyhan dan David berdiri bersama, menatap pintu yang tertutup rapat. Reyhan terlihat gelisah, tidak sabar untuk bertemu Arel dan mendengar penjelasannya. Tapi David lebih sabar. Dia tahu ini bukan saatnya untuk terburu-buru.
"Lo harus tenangin diri dulu," ujar David sambil menatap Reyhan. "Biarkan gue yang coba ngobrol sama Arel."
Reyhan menatap David dengan cemas, tapi dia hanya bisa mengangguk. "Gue nggak tahu harus gimana, David. Gue cuma nggak mau kehilangan dia."
David menghela napas, menepuk bahu Reyhan. "Gue ngerti. Tapi lo harus kasih dia ruang. Ini mungkin cara terbaik."
David kemudian mengangkat ponselnya dan menelepon Arel. "Arel, gue ada di depan pintu apartemen lo. Gue cuma pengen ngobrol bentar, lo bisa buka pintunya?" kata David dengan suara lembut, berusaha tidak memaksa.
Arel yang mendengar suara David dari ponselnya terdiam sejenak. Matanya memandang pintu apartemennya yang tertutup rapat, seolah ada bagian dari dirinya yang ingin melawan, namun ada bagian lain yang takut. Akhirnya, dia bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju pintu. Dengan ragu, dia membuka pintu sedikit, kemudian melihat David yang berdiri di depan.
David tersenyum tipis. "Gue cuma mau ngobrol, Arel. Boleh?"
Arel menghela napas panjang, memandang David dengan mata yang tampak lelah dan penuh keresahan. "Masuk," katanya pelan, membuka pintu sepenuhnya. Setelah David masuk, Arel menutup pintu dengan perlahan, membiarkan suasana hening mengisi ruangan.
David duduk di sofa, menatap Arel dengan penuh perhatian. "Arel, kenapa lo ngelakuin ini? Kenapa lo tiba-tiba menjauh dari Reyhan?"
Arel duduk di kursi seberang, matanya menunduk. Dia tidak bisa menahan diri. Arel merasa seperti ada beban besar yang harus dia lepaskan. Dia akhirnya membuka mulut, dengan suara yang bergetar. "Gue nggak mau Reyhan terus-terusan merasa punya kewajiban buat jagain gue. Gue nggak mau jadi beban dia. Ini bukan cuma soal gue, ini soal dia juga. Gue... gue cuma pengen dia bisa hidup dengan bebas, nggak terus-terusan ngerasa punya tanggung jawab sama gue."
Air mata mulai mengalir di pipi Arel, membasahi wajahnya yang tegang. "Gue nggak bisa terus begini. Gue nggak mau terus-terusan ngerepotin dia, David. Gue takut kalau gue terus deket sama dia, gue cuma bakal jadi beban. Gue takut kalau dia malah makin jauh dari gue."
David memandangnya dengan penuh empati. "Arel, Reyhan bukan orang yang bakal ninggalin lo cuma karena lo butuh ruang. Dia nggak pernah melihat lo sebagai beban, dia sayang sama lo."
Arel menunduk, tangisannya semakin keras. "Tapi gue udah bikin dia harus putus sama pacarnya. Gue... gue nggak bisa ngeliat itu, David. Semua karena gue."
David mendekat, duduk di samping Arel. Dia menepuk bahunya dengan lembut. "Lo nggak bisa nyalahin diri sendiri. Kadang, kita nggak bisa mengontrol apa yang terjadi dalam hidup kita. Tapi yang penting, lo harus percaya sama diri lo sendiri. Reyhan tahu lo bisa jaga diri lo, Arel."
Arel terisak, melepaskan semua emosinya. "Tapi gue takut, David. Gue takut kalau dia ngerasa tersiksa dengan hubungan ini. Gue takut kalau dia malah makin terluka karena gue."
David diam sejenak, mencoba mencari kata-kata yang tepat. "Gue tahu ini berat buat lo. Tapi yang lo lakukan sekarang itu buat kebaikan dia, kan? Kalau lo sayang sama dia, lo harus biarin dia punya ruang juga. Jangan ragu sama keputusan lo, Arel. Gue yakin, Reyhan ngerti kok."
Arel mengusap air matanya, berusaha menenangkan diri. "Tapi gue nggak bisa nahan rasa takut gue," ujarnya dengan suara serak. "Gue nggak mau kehilangan dia, tapi gue nggak tahu lagi harus gimana."
David mengangguk, memahami keraguan yang ada di hati Arel. "Lo nggak sendirian, Arel. Dan Reyhan juga nggak sendirian. Kadang, kita harus saling memberi jarak, supaya bisa saling menghargai."
Arel menarik napas dalam-dalam, mencoba menerima kenyataan yang ada. Dia tahu keputusan ini tidak mudah, dan dia harus menghadapi rasa sakitnya sendiri. Namun, dia juga sadar bahwa terkadang, memberi ruang adalah bentuk cinta yang paling besar.
KAMU SEDANG MEMBACA
REL & HAN (END)
Teen FictionReyhan Alexander adalah cowok tampan dengan kepribadian yang bikin banyak cewek terpikat. Sebagai anak dari seorang pengusaha sukses, Reyhan sering terlihat menikmati hidup dengan caranya sendiri. Dia suka melakukan hal-hal spontan seperti keliling...
