Setelah pertemuan penuh emosi itu, Revano dan Reyhan tampak lebih santai. Meski suasana masih terasa canggung di awal, mereka akhirnya bisa bercanda ringan seperti dulu. Arel yang duduk di tengah-tengah mereka hanya tersenyum tipis, merasa lega karena dua sahabatnya akhirnya berbaikan.
"Gue beneran nggak nyangka lu bakal seterbuka ini, Rey," ujar Revano sambil mengaduk kopi di gelasnya. "Biasanya lu tuh keras kepala banget."
Reyhan terkekeh. "Ya, gue belajar dari seseorang, sih. Kadang kita perlu ninggalin ego biar semuanya nggak makin rumit."
Arel menoleh ke Reyhan. "Gue tuh bijak banget ya," selorohnya sambil menyengir.
"Gue bilang belajar dari seseorang, bukan dari lu," Reyhan balas dengan nada bercanda. "Jangan ge-er dulu, Rel."
Revano tertawa keras, merasa suasana semakin cair. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dia merasa nyaman berada di dekat Reyhan tanpa ada beban.
Malam itu mereka menghabiskan waktu di kedai kopi kecil yang berada di pinggir jalan. Tempatnya sederhana, tapi terasa hangat dengan lampu kuning temaram dan alunan musik akustik dari speaker kecil di sudut ruangan. Sesekali, mereka berbicara tentang masa lalu, mengenang momen-momen saat mereka masih saling mendukung tanpa ada rasa canggung seperti sebelumnya.
"Lu inget nggak waktu kita bikin rencana biar nggak ketahuan cabut sekolah?" tanya Revano tiba-tiba.
Reyhan mendengus. "Dan rencana kita gagal total karena kita salah ngatur jadwal?"
Arel memasang wajah tak bersalah. "Hei, itu kan karena gue nggak sengaja! Gue kira gurunya nggak bakal ngeh kalo lu semua bolos."
"Alibi paling payah sepanjang sejarah," ejek Revano sambil menggeleng.
Meski tema obrolan mereka terus melompat-lompat, tidak ada lagi ketegangan seperti sebelumnya. Masing-masing merasa lebih ringan, seolah beban yang mereka pikul selama ini telah hilang. Reyhan beberapa kali melirik Arel, seolah menyiratkan rasa terima kasih yang tak perlu diucapkan. Tanpa Arel, mungkin dia tidak akan pernah punya keberanian untuk memperbaiki hubungan ini.
Ketika waktu menunjukkan hampir tengah malam, mereka memutuskan untuk pulang. Sebelum berpisah, Revano menepuk bahu Reyhan.
"Gue nggak tahu gimana lu bisa berubah sampai kayak gini, tapi gue seneng, Rey," katanya tulus. "Makasih udah mau mulai duluan."
Reyhan mengangguk. "Kita temen, Van. Gue nggak mau kehilangan itu."
Arel berdiri di antara mereka dengan senyum lebar. "Ayo dong, pelukan. Biar vibes-nya lengkap."
Revano dan Reyhan saling pandang sebelum akhirnya tertawa dan memeluk satu sama lain, meskipun dengan canggung. Arel bertepuk tangan seperti anak kecil yang baru saja melihat tontonan favoritnya.
Saat berjalan pulang, Arel melirik Reyhan. "Gue bangga sama lu, Rey. Lu bikin gue percaya kalau orang bisa berubah jadi lebih baik."
Reyhan menghela napas panjang, lalu menatap Arel. "Gue cuma nggak mau nyesel. Kadang, lu nggak tahu seberapa pentingnya seseorang sampai lu hampir kehilangan dia."
Arel terdiam, tidak membalas. Kata-kata Reyhan mengingatkannya pada banyak hal, termasuk pada hubungan mereka yang semakin rumit belakangan ini. Tapi dia memilih untuk menyimpan pemikiran itu untuk dirinya sendiri. Malam ini terlalu indah untuk dirusak dengan drama.
Langit malam yang dipenuhi bintang seolah menjadi saksi perdamaian mereka. Dalam hati, Arel berharap ini bukan hanya akhir dari sebuah konflik, tapi juga awal dari cerita baru yang lebih baik bagi mereka bertiga.Setelah pertemuan penuh emosi itu, Revano dan Reyhan tampak lebih santai. Meski suasana masih terasa canggung di awal, mereka akhirnya bisa bercanda ringan seperti dulu. Arel yang duduk di tengah-tengah mereka hanya tersenyum tipis, merasa lega karena dua sahabatnya akhirnya berbaikan.
"Gue beneran nggak nyangka lu bakal seterbuka ini, Rey," ujar Revano sambil mengaduk kopi di gelasnya. "Biasanya lu tuh keras kepala banget."
Reyhan terkekeh. "Ya, gue belajar dari seseorang, sih. Kadang kita perlu ninggalin ego biar semuanya nggak makin rumit."
Arel menoleh ke Reyhan. "Gue tuh bijak banget ya," selorohnya sambil menyengir.
"Gue bilang belajar dari seseorang, bukan dari lu," Reyhan balas dengan nada bercanda. "Jangan ge-er dulu, Rel."
Revano tertawa keras, merasa suasana semakin cair. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dia merasa nyaman berada di dekat Reyhan tanpa ada beban.
Malam itu mereka menghabiskan waktu di kedai kopi kecil yang berada di pinggir jalan. Tempatnya sederhana, tapi terasa hangat dengan lampu kuning temaram dan alunan musik akustik dari speaker kecil di sudut ruangan. Sesekali, mereka berbicara tentang masa lalu, mengenang momen-momen saat mereka masih saling mendukung tanpa ada rasa canggung seperti sebelumnya.
"Lu inget nggak waktu kita bikin rencana biar nggak ketahuan cabut sekolah?" tanya Revano tiba-tiba.
Reyhan mendengus. "Dan rencana kita gagal total karena kita salah ngatur jadwal?"
Meski tema obrolan mereka terus melompat-lompat, tidak ada lagi ketegangan seperti sebelumnya. Masing-masing merasa lebih ringan, seolah beban yang mereka pikul selama ini telah hilang. Reyhan beberapa kali melirik Arel, seolah menyiratkan rasa terima kasih yang tak perlu diucapkan. Tanpa Arel, mungkin dia tidak akan pernah punya keberanian untuk memperbaiki hubungan ini.
Ketika waktu menunjukkan hampir tengah malam, mereka memutuskan untuk pulang. Sebelum berpisah, Revano menepuk bahu Reyhan.
"Gue nggak tahu gimana lu bisa berubah sampai kayak gini, tapi gue seneng, Rey," katanya tulus. "Makasih udah mau mulai duluan."
Reyhan mengangguk. "Kita temen, Van. Gue nggak mau kehilangan itu."
Arel berdiri di antara mereka dengan senyum lebar. "Ayo dong, pelukan. Biar vibes-nya lengkap."
Revano dan Reyhan saling pandang sebelum akhirnya tertawa dan memeluk satu sama lain, meskipun dengan canggung. Arel bertepuk tangan seperti anak kecil yang baru saja melihat tontonan favoritnya.
Saat berjalan pulang, Arel melirik Reyhan. "Gue bangga sama lu, Rey. Lu bikin gue percaya kalau orang bisa berubah jadi lebih baik."
Reyhan menghela napas panjang, lalu menatap Arel. "Gue cuma nggak mau nyesel. Kadang, lu nggak tahu seberapa pentingnya seseorang sampai lu hampir kehilangan dia."
Arel terdiam, tidak membalas. Kata-kata Reyhan mengingatkannya pada banyak hal, termasuk pada hubungan mereka yang semakin rumit belakangan ini. Tapi dia memilih untuk menyimpan pemikiran itu untuk dirinya sendiri. Malam ini terlalu indah untuk dirusak dengan drama.
Langit malam yang dipenuhi bintang seolah menjadi saksi perdamaian mereka. Dalam hati, Arel berharap ini bukan hanya akhir dari sebuah konflik, tapi juga awal dari cerita baru yang lebih baik bagi mereka bertiga.
KAMU SEDANG MEMBACA
REL & HAN (END)
Teen FictionReyhan Alexander adalah cowok tampan dengan kepribadian yang bikin banyak cewek terpikat. Sebagai anak dari seorang pengusaha sukses, Reyhan sering terlihat menikmati hidup dengan caranya sendiri. Dia suka melakukan hal-hal spontan seperti keliling...
