Setibanya di rumah sakit, Arella segera bergegas menuju ruang tunggu. Di sana sudah ada Jovano, Fariel, dan Dimas yang tampak duduk dengan wajah cemas. Mereka sedang berusaha mencairkan suasana dengan candaan kecil, tapi nada khawatir tetap terasa di balik tawa mereka.
"Reyhan gimana?" tanya Arella langsung, pandangannya bergantian menatap mereka bertiga.
Jovano, yang selalu paling konyol, mencoba tersenyum. "Dia masih di dalam kamar. Udah jauh lebih baik sih, Rel. Cuma ya, namanya juga Rey, kepalanya batu. Bisa-bisanya dia berantem kayak gitu."
Fariel mengangguk pelan. "Kalau David nggak datang waktu itu, mungkin keadaannya bakal lebih parah."
Arella menghela napas, mencoba meredakan kecemasan di dadanya. "Gue mau masuk," ujarnya tegas.
Dimas, yang dari tadi diam, menatap Arella. "Orang tuanya baru aja keluar. Mungkin mereka masih nunggu di depan kalau lu mau ngobrol dulu." Nada bicaranya datar, tapi Arella tahu Dimas selalu memerhatikan segala situasi.
Arella mengangguk, lalu melangkah ke lorong. Di sana, ia melihat sepasang suami istri yang berdiri dengan ekspresi kelelahan tapi penuh perhatian. Itu adalah orang tua Reyhan.
"Tante, Om," Arella menyapa lembut. "Bagaimana keadaannya?"
Mamah Reyhan—seorang perempuan dengan wajah lembut yang terlihat sedikit lelah—tersenyum kecil. "Arella, terima kasih sudah datang. Reyhan sudah lebih baik sekarang. Tapi, dia masih keras kepala seperti biasa." Suaranya terdengar pelan, tapi penuh kasih sayang.
Papah Reyhan menghela napas panjang. "Kami benar-benar minta tolong sama kamu, Arella. Tolong nasehatin Reyhan. Dia dengar kamu lebih dari siapa pun." Tatapannya penuh harapan.
Arella mengangguk pelan. "Saya akan coba, Om. Saya juga nggak mau Reyhan terus begini."
Setelah berbicara sebentar lagi, Arella pamit untuk masuk ke ruangan Reyhan. Pintu terbuka pelan, dan di sana dia melihat Reyhan yang berbaring dengan wajah sedikit pucat. Luka di pelipisnya sudah diperban, tapi yang lebih mencuri perhatian adalah posisi punggungnya yang terlihat tegang. Arella ingat apa yang David katakan—balok besar itu hampir membuatnya kehilangan kesadaran.
"Han," panggil Arella pelan, mencoba menahan nada marah di suaranya.
Reyhan membuka mata dan tersenyum tipis. "Lu akhirnya dateng juga, Rel. Gue pikir lu bakal biarin gue mati di sini."
Arella mendekati tempat tidur, tangannya terlipat di dada. "Gue dateng bukan buat denger omongan konyol lu, Han. Gue dateng karena khawatir."
Reyhan tertawa kecil, meskipun terlihat sedikit menahan sakit. "Khawatir tapi langsung siap mau ngomel, ya?"
Arella menarik napas dalam-dalam. Dia ingin memarahi Reyhan, ingin mengatakan betapa bodohnya tindakan itu. Tapi saat melihat luka-luka di tubuh Reyhan, amarahnya mereda, digantikan oleh rasa kasihan yang mendalam.
"Apa yang sakit sekarang?" tanyanya akhirnya, nadanya lebih lembut.
Reyhan menunjuk punggungnya dengan sedikit susah payah. "Punggung gue. Balok itu... ya, lumayan berat. Untung David dateng sebelum gue dihajar lebih parah."
Arella mendudukkan diri di kursi di samping tempat tidur Reyhan. "Kenapa lu nggak mikir dulu sebelum bertindak, Han? Lu tahu ini nggak cuma bahaya buat lu, tapi juga bikin semua orang khawatir."
Reyhan tersenyum miring, tatapannya melembut. "Gue nggak mau ngerepotin siapa-siapa, Rel. Gue cuma... ya, ada hal-hal yang bikin gue nggak bisa diem aja."
Arella ingin membalas, tapi pintu kamar tiba-tiba terbuka. David masuk dengan langkah tenang, diikuti oleh Sarah. Sarah yang ceria langsung menghampiri Arella.
"Rel, lu udah ngomong apa aja? Jangan bikin dia tambah stres, ya," kata Sarah sambil tersenyum, mencoba mencerahkan suasana.
David berjalan ke sisi lain tempat tidur Reyhan, menatap temannya dengan pandangan yang sulit diartikan. "Lu harusnya lebih hati-hati, Rey. Ini bukan pertama kalinya lu bikin masalah." Nada suaranya datar, tapi ada kekhawatiran yang jelas terasa.
Reyhan menghela napas. "Gue tahu, Dav. Dan gue bener-bener nggak mau liat lu nyuruh Arella ke sini cuma buat denger ceramah lu."
David mengangkat bahu. "Gue cuma nyampaikan apa yang orang tua lu minta. Lu nggak bisa terus-terusan begini."
Jovano, Fariel, dan Dimas akhirnya masuk ke ruangan, membawa suasana yang sedikit lebih santai. Jovano langsung berseru, "Wih, Rey, pasien ganteng satu ini kayaknya udah mau jadi seleb rumah sakit, nih. Semua orang dateng buat liat dia."
Fariel menambahkan dengan nada bercanda, "Gue rasa besok suster-suster di sini bakal ngantri buat nganterin obat."
Suasana ruangan sedikit mencair, dan Arella bersyukur teman-teman Reyhan ada di sana untuk membuatnya tertawa meski dalam keadaan seperti ini. Namun, di balik senyumnya, Arella tahu bahwa tugasnya belum selesai. Reyhan butuh lebih dari sekadar lelucon untuk kembali ke jalur yang benar.
☀️☀️
Hai hai
Gimana kabar kalian? Semoga baik-baik aja, gak kerasa udah jauh banget ceritanya.
Kaya biasa semoga kalian suka dan terhibur maaf klo masih byk typo penulisan yang berantakan dan masih banyak kekurangannya.
Aku akan terus belajar buat nulis yang lebih bagus lagi, makasih dukungan kalian semua karna dukungan kalian aku jadi semangat buat up.
Walau masih belum bisa rutin sih, tpi lagi diusahakan agar segera tamat.
Alenaf19 🍓
-23 November 2022
KAMU SEDANG MEMBACA
REL & HAN (END)
Fiksyen RemajaReyhan Alexander adalah cowok tampan dengan kepribadian yang bikin banyak cewek terpikat. Sebagai anak dari seorang pengusaha sukses, Reyhan sering terlihat menikmati hidup dengan caranya sendiri. Dia suka melakukan hal-hal spontan seperti keliling...
