RH| 09 MOMEN MENENANGKAN

39 25 5
                                        

Pagi itu terasa berbeda bagi Arella. Sejak beberapa hari terakhir, pikirannya dipenuhi dengan rasa penasaran tentang hubungan Reyhan dan Revano, serta ketegangan yang terlihat di antara mereka. Namun, Arella memutuskan untuk melupakan semua itu, setidaknya untuk sementara waktu. Dia ingin menikmati momen yang ada, dan apa yang lebih baik selain menghabiskan waktu bersama Reyhan, sahabatnya yang selalu membuatnya merasa nyaman?

Pagi hari yang cerah, Reyhan menghubunginya dengan ajakan yang sederhana namun menyenangkan. "Arel, lu mau jogging pagi ini? Gue butuh teman buat keluar sebentar."

Arella yang masih merasa sedikit terbebani dengan pikiran-pikiran tentang Revano, memutuskan untuk mengikuti ajakan Reyhan. Ada sesuatu tentang Reyhan yang selalu bisa membuatnya merasa lebih baik, seperti cahaya yang menghapus kegelapan dalam pikirannya.

"Jogging?" Arella bertanya, sedikit bingung, tapi akhirnya tertawa. "Gue sih gak pernah banget. Tapi yaudah, kalau lu ngajak, gue ikut aja."

Reyhan tertawa ringan di ujung telepon. "Lu gak usah khawatir. Gak bakal berat kok."

Setelah beberapa menit bersiap, Arella akhirnya tiba di taman dekat rumah Reyhan. Pagi itu, udara terasa segar, dan matahari yang mulai terbit memberikan sentuhan keemasan pada pepohonan di sekeliling mereka. Reyhan sudah berdiri di sana, mengenakan kaos olahraga hitam dan celana pendek yang nyaman. Rambutnya yang agak panjang terlihat sedikit berantakan, memberikan kesan santai namun tetap menawan.

"Lousiap, Arel?" tanya Reyhan dengan senyum lebar, matanya yang cerah menunjukkan semangatnya.

Arella hanya bisa mengangguk. "Siap. Tapi, lu jangan terlalu cepat, Han. Gue belum tentu bisa ngikutin."

Reyhan tertawa kecil, mengangkat tangannya seperti siap untuk bertanding. "Tenang, gue bakal pelan-pelan kok. Kita santai aja."

Mereka mulai berlari pelan di sepanjang jalan setapak yang dikelilingi pepohonan hijau. Di awal, Arella merasa sedikit kelelahan, namun Reyhan yang berlari di sampingnya selalu memberi semangat. "Gue gak bakal ninggalin lu Rel," katanya, sesekali melihat ke arah Arella yang terlihat sedikit kehabisan napas.

Arella mencoba menyesuaikan langkahnya dengan langkah Reyhan, meskipun tubuhnya mulai terasa sedikit pegal. "Gue gak ngerti, lu bisa joging lama banget kayak gini. Gue aja udah merasa berat."

Reyhan tersenyum, tidak memperlambat langkahnya. "Lu cuma butuh kebiasaan aja. Semua orang juga dulu mulai dari nol. Nanti lu bakal terbiasa."

Mereka berlari bersama, dengan sesekali berbicara ringan. Reyhan terkadang menggoda Arella tentang betapa konyolnya dia saat mencoba olahraga ini, dan Arella tak bisa menahan tawa mendengarnya. Suasana semakin santai, dan Arella merasa sedikit lebih nyaman.

Sesekali, mereka berhenti untuk minum air dan mengambil napas. Arella duduk di bangku taman yang terletak di samping jalur lari mereka, menghirup udara segar pagi itu. Reyhan duduk di sampingnya, matanya memandang jauh ke depan, menikmati ketenangan di sekitar mereka.

"Arel, lu pasti ngerti," kata Reyhan, matanya masih terfokus pada pemandangan. "Kadang, gue cuma butuh waktu kayak gini buat ngerasa lega. Kita hidup di dunia yang penuh dengan tekanan, tapi... kalau kita bisa berhenti sejenak, kita bisa lihat segala sesuatu dengan cara yang berbeda."

Arella mendengarkan dengan seksama, merasakan kehangatan dari kata-kata Reyhan. "Iya ya. Kadang gue juga ngerasa terjebak sama semuanya. Tapi, ada kalanya hal-hal kecil seperti ini yang bisa bikin kita merasa lebih tenang."

Reyhan menoleh ke Arella, memberikan senyum yang jarang dia tunjukkan pada orang lain. "Makasih, Arel. Lu selalu bikin gue merasa lebih baik, entah kenapa."

Arella hanya tersenyum, sedikit malu. "Gue juga merasa sama, Rey. Kita memang gak selalu punya jawab untuk segala hal, tapi... kadang cuma duduk bareng kayak gini aja udah cukup."

Setelah beberapa lama, mereka melanjutkan joging mereka, kali ini lebih santai. Tidak ada percakapan berat, hanya langkah-langkah kecil mereka yang beriringan. Reyhan, yang menceritakan hal-hal lucu pada Arella, mereka tertawa bersama sepanjang jalan. 

Ketika mereka berhenti untuk istirahat, Arella duduk di bangku taman dan memandang Reyhan yang masih terlihat segar meskipun sudah berlari cukup jauh. "Han," kata Arella, "gue bersyukur banget bisa punya teman kayak lu."

Reyhan duduk di samping Arella, tidak terlalu dekat, tapi cukup untuk merasakan kehadiran satu sama lain. "Gue juga, Arel. Lu itu orang yang bisa gue andalkan. Gue gak tahu kenapa, tapi gue selalu merasa lebih tenang kalau lu ada di sekitar gue."

Arella menatap Reyhan, merasakan ikatan yang lebih dalam di antara mereka. Tidak ada kata-kata yang perlu ditambahkan. Mereka berdua tahu bahwa meskipun tidak ada yang sempurna, persahabatan ini adalah sesuatu yang mereka hargai. Ini adalah momen mereka untuk berbagi, tertawa, dan merasa diterima tanpa ada syarat.

Setelah beberapa saat, Reyhan berdiri dan mengulurkan tangannya kepada Arella. "Yuk, lanjut lagi?"

Arella mengangguk, tersenyum. "Oke, gue siap."

Mereka kembali berlari bersama, kali ini dengan lebih percaya diri. Langkah mereka semakin ringan, seolah-olah dunia di sekitar mereka berhenti sejenak, dan hanya ada mereka berdua-bersama dalam kebersamaan yang sederhana namun berarti.

Halo guys

Gimana kabarnya? Semoga sehat-sehat ya

Maaf baru bisa up 😁
Aku lagi bingung mikirin konsep cerita ini di tambah bagi waktu buat tugas sekolah, cast nya untuk cerita ini belum aku kasih ya🙃 insyaallah secepatnya aku kasih, kalian sabar ya nunggu aku up.

Jangan lupa vote dan follow ya.

Terimakasih yang udah baca+vote❤️

Aku usahain dekat² ini aku up lagi kalian doain aku ya semoga bisa up rutin, oh iya maaf juga kalo masih banyak typo dan ceritanya masih berantakan maaf juga kalo ceritanya aneh.

Sekian terimakasih. Happy reading guys 🤗

Alenaf19 ✨

-14 Febuari 2022



REL & HAN  (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang