Arel duduk di kursi kereta, menatap jendela yang semakin menampilkan pemandangan Jakarta. Ada perasaan campur aduk dalam dirinya—antara kegembiraan bisa kembali ke kota ini dan sedikit kecemasan akan pertemuannya dengan Reyhan. Sudah berbulan-bulan sejak terakhir kali mereka bertemu, dan meskipun hubungan mereka baik-baik saja, ada beberapa hal yang sudah berubah.
"kak Arel, siap?" tanya Kevin yang duduk di samping Arel, memecah keheningan. "kakak pasti kangen banget sama bang Reyhan, kan?"
Arel tersenyum, meski sedikit canggung. "Iya, kangen sih. Tapi lebih kangen suasana bareng mereka semua, bisa ngobrol santai tanpa mikir ini-itu."
Setelah kereta berhenti, Arel dan keluarganya langsung menuju rumah kakek Arel di Jakarta. Begitu beres-beres, Arel dan Sarah memutuskan untuk menuju rumah Reyhan. Meskipun sudah lama nggak ketemu, Arel merasa antusias—dan sedikit nervous—untuk bisa ngobrol lagi sama sahabatnya.
Sesampainya di rumah Reyhan, mereka disambut Fanny yang terlihat agak terkejut melihat kedatangan mereka. "Eh, kak Arel, kak Sarah, kalian udah sampai?" tanya Fanny, sedikit bingung.
Arel tersenyum, "Iya, langsung datang. Kaget nggak? Nggak kasih kabar dulu."
Fanny menggeleng dan tertawa. "Gue kira kalian baru datang besok. Yaudah deh, gue kasih kabar kak Reyhan. Dia pasti seneng banget kalau tahu kalian udah di sini."
Arel dan Sarah masuk ke ruang tamu, dan Fanny bergegas ke dapur. Tidak lama kemudian, Arel mendengar suara mobil yang masuk ke halaman rumah. Saat pintu terbuka, Reyhan muncul bersama teman-temannya.
"Arel! Lo udah sampai!" Reyhan langsung menghampiri Arel dengan senyum lebar, terlihat terkejut tapi senang. "Gue kira lo baru datang besok, Rel!"
Arel tertawa ringan. "Surprise, kan? Gue sama Sarah langsung ke sini, tadi cuma mampir ke rumah dulu."
Reyhan mengangguk, memeluk sahabatnya itu dengan erat. "Kangen banget gue sama lo, rel. Sehat-sehat kan?"
"Iya, sehat kok," jawab Arel sambil menepuk punggung Reyhan. "Lo sendiri gimana?"
Mereka mulai ngobrol ringan, sementara teman-teman Reyhan yang baru datang mulai menyalami Arel dan Sarah. Beberapa teman yang sudah cukup dekat dengan Arel terlihat antusias.
"Rel, lo pasti kangen ya sama Jakarta? Gue yakin lo udah lama nggak ke sini," ujar Jovano, salah satu teman dekat Reyhan yang langsung menyapa Arel dengan ceria. "Eh, Sarah, lo juga kan? Sehat-sehat?"
Sarah tersenyum dan menjawab, "Sehat kok. Udah lama banget nggak ketemu kalian."
"Yoi, udah lama banget," sambung Dimas, yang ikut menghampiri. "Lo liburan atau ada urusan di sini, Arel?"
Arel tersenyum, "Liburan sih, tapi ya sekalian ketemu Reyhan. Udah lama nggak nongkrong bareng."
Fariel ikut mendekat dan menawarkan minuman. "Arel, lo pasti kangen sama suasana kayak gini, kan? Nggak sabar deh ngobrol sama lo."
Arel merasa sedikit canggung awalnya, tapi kehangatan teman-teman Reyhan membuat suasana lebih nyaman. "Iya, kangen banget. Ini baru kali pertama gue liburan ke Jakarta sambil ketemu semuanya," jawab Arel.
Mereka bercanda dan berbincang tentang banyak hal, mulai dari kuliah, kegiatan sehari-hari, hingga cerita lucu tentang kejadian-kejadian yang terjadi saat mereka terpisah. Suasana semakin hangat dan penuh tawa.
Tak lama kemudian, Fanny muncul lagi dan dengan ceria berkata, "Oh iya, guys, jangan lupa ya. Malam ini ada pesta kecil di rooftop. Kak Reyhan mau ngerayain sesuatu. Kan, baru aja punya pacar."
Arel sedikit terkejut. Pacar? "Lo punya pacar?" tanya Arel kepada Reyhan, meskipun dia berusaha menjaga ketenangannya.
Reyhan tersenyum canggung, "Iya, baru aja. Maaf nggak kasih tahu sebelumnya, rel. Gue bingung gimana ngomongnya."
Arel mengangguk, meskipun hatinya sedikit tercengang. "Nggak masalah kok, Reyhan. Gue cuma kaget aja. Tapi selamat ya."
"Thanks, rel" jawab Reyhan, merasa lega. "Lo harus datang nanti malam ke pesta. Kita ngerayain bareng, rel."
Arel tersenyum dan mengangguk. "Pasti datang."
***
Saat malam tiba, mereka semua berkumpul di rooftop rumah Reyhan. Suasana pesta terasa riang dan hangat dengan musik, tawa, dan percakapan yang mengalir lancar. Arel merasa agak canggung awalnya, tapi semakin lama, suasana semakin santai. Teman-teman Reyhan—termasuk Jovano, Dimas, Fariel, dan David—mengajak Arel bercanda dan mengingatkan dia tentang beberapa kenangan lama.
Arel merasa terhibur dengan percakapan mereka yang santai. Meskipun banyak yang berubah, dia merasa persahabatan mereka tetap kuat. Semuanya bercanda, tertawa, dan saling menyemangati.
Di tengah pesta, Reyhan mendekati Arel dan berkata dengan senyum. "Gue senang banget lo datang, rel. Kalian semua tuh penting buat gue. Jadi, ini momen yang bagus buat ngerayain semuanya."
Arel merasa hangat mendengar itu. "Gue juga senang bisa datang, Reyhan. Semoga semuanya lancar buat lo."
Mereka semua tertawa dan menikmati malam itu. Meskipun ada perubahan, persahabatan mereka tetap kuat dan tidak tergantikan. Dan itu yang membuat malam itu begitu spesial.
Hallo guys
Gimana part ini?
Terimakasih yang sudah membaca jangan lupa vote dan komen di setiap paragraf nya.
Kalian jaga kesehatan ya
Love you all
Alenaf19 🍓
_05 Januari 2023
KAMU SEDANG MEMBACA
REL & HAN (END)
Teen FictionReyhan Alexander adalah cowok tampan dengan kepribadian yang bikin banyak cewek terpikat. Sebagai anak dari seorang pengusaha sukses, Reyhan sering terlihat menikmati hidup dengan caranya sendiri. Dia suka melakukan hal-hal spontan seperti keliling...
