Arel terbangun dari tidurnya, tubuhnya masih terasa sangat lelah, namun hatinya jauh lebih hancur. Dia mendapati dirinya terbaring di rumah sakit, di bawah lampu rumah sakit yang terang dan dingin. Kakinya masih terasa lemah, dan setiap gerakan terasa sakit. Dia menatap langit-langit kamar rumah sakit dengan pandangan kosong, mencoba menanggulangi perasaan yang datang begitu mendalam. Hanya ada keheningan yang menyelimuti.
Di sampingnya, Reyhan, yang sebelumnya terbaring tak bergerak, kini sudah terbangun. Kondisinya juga masih lemah, namun dengan segera, dia menyadari ketegangan di wajah Arel. Reyhan meraih tangan Arel dengan lembut, mencoba memberikan kekuatan meskipun dirinya sendiri sedang berjuang untuk sembuh.
"Arel... lo nggak sendiri. Gue ada di sini, selalu ada," kata Reyhan, suaranya pelan, namun penuh dengan ketulusan. Dia berusaha memberikan semangat dengan menatap Arel yang masih terdiam. "Lo kuat, Arel. Lo pasti bisa. Kita akan hadapi semua ini bareng-bareng."
Arel hanya bisa menatap Reyhan dengan tatapan kosong, tanpa kata. Sungguh, perasaan itu terlalu berat untuk dijelaskan dengan kata-kata. Semua yang terjadi—kecelakaan yang memisahkan mereka dari dunia yang familiar, dan kehilangan yang datang begitu cepat—membuat Arel merasa seperti ada yang hilang dari dirinya, sesuatu yang tak bisa dia temukan lagi.
Namun, tiba-tiba pintu kamar rumah sakit terbuka. Sarah masuk, mengenakan pakaian hitam sederhana yang membuatnya tampak semakin murung. Matanya yang merah, seakan menandakan bahwa dia baru saja melalui hari yang sangat berat. Sarah baru saja menghadiri pemakaman orang tua dan adik Arel yang tiba-tiba pergi.
Saat Sarah melihat Arel, dia berhenti sejenak. "Arel..." suaranya hampir tak terdengar, tapi itu cukup untuk membuat Arel menoleh ke arah sahabatnya. Dalam tatapan itu, rasa kehilangan itu semakin mendalam. "Gue... gue nggak tahu harus bilang apa. Gue cuma bisa bilang, gue di sini. Gue nggak pernah pergi."
Arel tidak mampu menahan air mata yang kini mengalir begitu saja. "Kenapa... kenapa semuanya jadi kayak gini, Sarah?" suaranya tercekat. "Kenapa mereka harus pergi?"
Sarah hanya bisa memeluk Arel erat, membiarkan temannya menangis sepuasnya. Tidak ada kata-kata yang bisa menenangkan hati Arel saat itu. Hanya kehadiran sahabatnya yang sedikit memberi ketenangan dalam kekosongan yang dirasakannya.
***
Kakek dan nenek Arel datang ke rumah sakit beberapa jam kemudian. Mereka tidak bisa berlama-lama di rumah sakit karena harus segera pergi ke tempat pemakaman orang tua Arel dan adiknya. Arel, meskipun dalam kondisi lemah, merasa sangat terikat untuk pergi ke sana. Makam orang tuanya dan adiknya terletak di Jakarta, bersebelahan—sebuah tempat yang kini dipenuhi tanah basah dan kenangan yang terpendam.
Dengan tubuh yang masih gemetar dan penuh rasa sakit, Arel dipapah oleh kakek dan neneknya menuju mobil. Mata Arel terpejam, menghindari kenyataan yang begitu pahit. Dia tahu, dia tidak akan pernah bisa kembali ke masa lalu—ke masa ketika orang tuanya masih ada di sisinya, memberi kasih sayang dan melindungi dirinya. Tapi hari itu, tanah basah yang menutupi makam orang tuanya adalah kenyataan yang harus dia terima.
Perjalanan ke makam terasa sangat lama, seolah waktu berjalan dengan lambat. Setiap detik terasa semakin menekan dada Arel. Dia memegang erat tangan kakeknya, meskipun perasaan yang memenuhi dirinya justru semakin menyesakkan. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Bagaimana dia bisa melanjutkan hidup tanpa mereka?
Sesampainya di pemakaman, Arel merasakan angin dingin yang menyapu wajahnya, membawa rasa hampa yang semakin dalam. Tanah di atas makam orang tua dan adiknya masih basah, bekas hujan yang turun semalam. Arel menatap tanah itu tanpa bisa mengalihkan pandangannya. Rasanya, dunia yang ada di hadapannya begitu jauh. Semua kenangan tentang orang tuanya, tentang tawa mereka, dan semua cinta yang diberikan, kini hilang begitu saja, terkubur bersama tanah yang dingin itu.
Kakeknya berdiri di samping Arel, tidak berkata apa-apa. Hanya ada bisikan angin yang menggetarkan suasana, menambah kesepian Arel yang kini terasa lebih dalam dari sebelumnya.
Arel memejamkan matanya dan mencoba mengingat semua kenangan indah bersama orang tuanya. "Kenapa mereka harus pergi?" Arel berpikir dalam hati. "Kenapa nggak gue aja?"
Tetesan air mata yang semula tertahan kini turun begitu deras, mengalir tanpa bisa dihentikan. Arel ingin berteriak, ingin meluapkan segala kesedihannya, tapi dia hanya bisa diam, melihat tanah yang menutupi orang tuanya. Semua yang dia sayangi kini terkubur di bawah sana, dan dia tidak bisa berbuat apa-apa.
Kakeknya merangkul Arel, menariknya dekat ke dadanya, mencoba memberikan kenyamanan meskipun rasa sakit itu tetap ada. "Mereka tetap ada di hati kita, Arel. Kita harus bertahan, mereka ingin kita kuat."
Arel tidak menjawab. Tatapan kosongnya tetap menatap makam itu, seakan dia tidak lagi memiliki arah. Semua harapan, semua impian, seolah ikut terkubur di sana bersama orang tuanya.
Di saat itu, Arel merasa betapa kosongnya dunia ini tanpa mereka. Hatinya terasa hancur, dan dia merasa tidak ada lagi yang bisa mengisi kekosongan itu. Dunia terus berputar, tapi dia merasa seolah semuanya telah berhenti.
***
Setelah pemakaman selesai, Arel kembali ke rumah sakit dengan kakek dan neneknya. Di dalam mobil yang sepi itu, Arel kembali terdiam. Tidak ada yang bisa menghibur, tidak ada yang bisa membuatnya merasa lebih baik. Semua yang dia rasakan hanyalah kesedihan dan kehilangan yang mendalam.
Saat tiba di rumah sakit, Reyhan sudah menunggu di sana. Meski masih lemah, dia melihat Arel yang kembali dengan tatapan kosong. "Lo pasti capek," kata Reyhan pelan, "Tapi lo nggak sendirian, Arel. Gue di sini."
Arel hanya mengangguk pelan, menatap Reyhan yang kini duduk di kursi roda. Meskipun keadaan mereka berdua rapuh, ada sedikit kenyamanan di sana. Mungkin ini satu-satunya hal yang bisa mengingatkan Arel bahwa dia tidak benar-benar sendiri.
Namun, di dalam hati Arel, kekosongan itu terus ada. Semua yang hilang, semua yang telah pergi, meninggalkan luka yang sangat dalam.
KAMU SEDANG MEMBACA
REL & HAN (END)
Teen FictionReyhan Alexander adalah cowok tampan dengan kepribadian yang bikin banyak cewek terpikat. Sebagai anak dari seorang pengusaha sukses, Reyhan sering terlihat menikmati hidup dengan caranya sendiri. Dia suka melakukan hal-hal spontan seperti keliling...
