Arella melangkah masuk ke kampus dengan perasaan campur aduk. Liburan yang terasa singkat sudah berakhir, dan dia kembali ke rutinitas kuliah. Begitu sampai di aula kampus, dia langsung bertemu Sarah yang sedang duduk di salah satu bangku sambil sibuk dengan handphone-nya.
Sarah langsung mendongak begitu melihat Arella datang. "Lu, akhirnya balik juga! Gue kira lu bakal betah di rumah kakek nenek lu."
Arella tersenyum lebar. "Ya, gimana, liburannya lama banget. Tapi, gue kangen juga sama kampus ini."
Sarah tertawa kecil. "Iya, iya, gue tahu. Lu pasti kangen sama Reyhan juga kan?"
Arella sedikit terkejut, tapi hanya bisa tertawa canggung. "Ah, udah, jangan ngomongin dia terus."
Sarah cuma mengangkat bahu sambil tersenyum nakal. "Gue cuma nanya aja."
Lalu, tiba-tiba Sarah berdiri. "Eh, gue ada urusan dulu, ya. Nanti kita ngobrol lagi. Lu mending pergi sama temen-temen lu dulu deh, gue duluan, ya?"
"Yaudah, hati-hati," jawab Arella, sambil mengangguk.
Setelah Sarah pergi, Arella kembali menatap sekeliling. Matanya tiba-tiba tertuju pada seseorang yang membuat jantungnya berdebar sejenak. Nauval. Laki-laki itu sedang berdiri di dekat pintu masuk, terlihat sedang bercakap-cakap dengan temannya. Begitu melihat Arella, matanya langsung tertuju padanya.
Arella berjalan mendekat, namun belum sempat menyapa, Nauval lebih dulu membuka suara. "Arel, lu di sini?"
Arella tersenyum lebar dan mengangguk. "Iya, gue baru balik. Lu, udah lama gak ketemu."
Nauval tersenyum ramah, ekspresinya selalu tampak tulus dan hangat. "Iya, gue tahu, lu pasti sibuk kan? Kalau gitu, yuk kita ngobrol sebentar. Gue mau cerita beberapa hal."
Arella sedikit terkejut, tapi langsung mengangguk. "Oke, yuk."
Mereka berdua berjalan ke taman kampus yang agak sepi. Suasana di sana cukup tenang, hanya terdengar suara angin yang berdesir. Nauval duduk di bangku panjang dan Arella duduk di sebelahnya, keduanya terdiam sejenak sebelum akhirnya Nauval membuka percakapan.
"Arel, gue mau ngomong tentang Yasmin."
Arella langsung menatapnya dengan serius. "Tentang Yasmin? Emang kenapa?"
Nauval menarik napas panjang, tampak lebih serius dari biasanya. "Gue sadar, Arel, gue banyak salah dalam hubungan gue sama Yasmin. Waktu SMA, dia suka naro surat di loker gue. Gue gak ngerti waktu itu kenapa dia ngelakuin itu. Gue kira dia cuma temen biasa yang peduli sama gue. Tapi lama-lama, gue ngerasa dia beneran perhatian."
Arella mengangguk pelan, masih mencoba mencerna kata-kata Nauval. "Terus, apa yang lu rasain waktu itu?"
"Gue cuma ngerasa dia ada buat gue. Gue gak pernah mikir lebih jauh soal perasaan. Ya, akhirnya gue pacaran sama dia," jawab Nauval pelan. "Tapi, Arel, gue salah. Gue cuma pacaran sama dia karena gue ngerasa dia perhatian, bukan karena cinta."
Arella terdiam sejenak. "Lu cuma gak mau nyakitin Yasmin, kan?"
"Iya, Arel," jawab Nauval dengan suara lebih berat. "Tapi, waktu gue bilang mau putus, dia ngaku kalau dia sakit keras. Gue gak tahu harus ngapain lagi waktu itu. Gue ngerasa gak tega ninggalin dia dalam keadaan kayak gitu. Jadi gue coba buat cinta dia, buat ngebahagiain dia."
Arella sedikit terkejut. "Sakit keras? Dia bohong?"
Nauval menunduk, menghela napas panjang. "Iya, Arel. Gue baru tahu beberapa waktu lalu kalau Yasmin cuma bohong soal sakitnya. Dia cuma takut gue ninggalin dia, jadi dia bikin alasan itu. Dan akhirnya, gue putusin dia. Karena gue tahu itu gak bener."
Arella mengerutkan kening, merasa kasihan sekaligus bingung. "Jadi lu beneran gak cinta sama Yasmin?"
Nauval menatap Arella dengan mata yang penuh penyesalan. "Gue gak tahu, Arel. Waktu itu gue takut. Gue takut kehilangan dia. Tapi, sekarang gue sadar, gue gak pernah cinta sama Yasmin. Gue cuma gak mau ngecewain dia, makanya gue terusin hubungan yang sebenarnya gak sehat."
Arella menggenggam tangan Nauval, merasa bersimpati. "Gue ngerti, kok. Lu gak salah, Nauval. Kadang kita suka terjebak dalam perasaan bersalah."
Nauval tersenyum pahit. "Iya, gue tahu. Tapi yang paling berat itu, gue baru sadar semuanya terlalu terlambat. Yasmin juga udah gak bisa gue bantu lagi. Kita putus, Arel. Gue rasa itu yang terbaik buat kita berdua."
Arella menatap Nauval dengan penuh pengertian. "Kadang, kita harus memilih yang terbaik buat diri kita, bukan cuma buat orang lain."
Nauval mengangguk pelan. "Iya, Arel. Gue ngerti itu sekarang."
Suasana menjadi hening sejenak. Arella merasakan ketulusan dalam hati Nauval, dan merasa lega bisa mendengar ceritanya.
"Jangan terlalu nyalahin diri lu, Nauval," kata Arella. "Lu juga manusia, gak sempurna."
Nauval tersenyum, merasa sedikit lebih ringan setelah berbicara dengan Arella. "Makasih, Arel. Gue gak tahu kalau bisa ngomong kayak gini."
Arella membalas senyumannya. "Selalu ada waktu buat teman."
***
Hai hai hai👋
Gimana part ini, Seru atau kurang nih?
Maaf banget kalo masih banyak typo dan masih berantakan banget di tambah ceritanya gawur.
Terimakasih buat kalian yang udah mau nunguin aku up🥰
Maaf banget udah 2 Minggu telat up karna tugas yang menumpuk😭
Kalian tetap jaga kesehatan ya..
Love you all
Salam hangat
Alenaf19
-31 Maret 2022
KAMU SEDANG MEMBACA
REL & HAN (END)
Teen FictionReyhan Alexander adalah cowok tampan dengan kepribadian yang bikin banyak cewek terpikat. Sebagai anak dari seorang pengusaha sukses, Reyhan sering terlihat menikmati hidup dengan caranya sendiri. Dia suka melakukan hal-hal spontan seperti keliling...
