Matahari baru saja terbit ketika Arel terbangun dari tidurnya di rumah kakek dan neneknya. Suara burung berkicau samar terdengar dari luar, menambah suasana pagi yang tenang. Dengan semangat, dia bangkit dari tempat tidur, melipat selimut, dan mengganti pakaian olahraga yang sudah disiapkan semalam.
Setelah rapi, Arel keluar dari kamar dan berjalan menuju dapur. Di sana, bundanya sedang membantu neneknya memasak. Aroma bubur ayam yang harum menguar di udara.
"Pagi, Bunda, Nenek. Lagi masak bubur ayam, ya?" Arel menyapa sambil tersenyum.
"Iya, Kakak. Kevin pasti senang nih," jawab Bundanya dengan nada riang. Neneknya menimpali sambil menoleh dari panci, "Kamu nggak sarapan dulu, Rel?"
Arel menggeleng kecil. "Nggak dulu, Nek. Mau jogging dulu sama Reyhan."
Sambil menunggu bubur matang, Arel melangkah ke ruang keluarga. Di sana, Ayah dan Kakeknya sedang duduk di lantai, menemani Kevin bermain dengan truk-trukan.
"Kevin, semangat banget mainnya," sapa Arel sambil jongkok di samping adiknya.
Kevin menoleh dengan antusias. "Kakak mau main juga?"
"Nanti aja, ya. Kakak mau lari pagi dulu," jawab Arel sambil mengusap kepala adiknya dengan sayang. Dia lalu menoleh ke Ayah. "Ayah, Sarah di mana?"
"Di taman belakang, katanya lagi baca buku," jawab Ayah sambil menunjuk arah pintu belakang.
Arel menuju taman dan mendapati Sarah duduk santai di bangku taman, menikmati suasana pagi sambil membaca novel.
"Sarah, pagi-pagi udah serius aja baca buku?" Arel menyapa sambil duduk di sebelahnya.
Sarah menutup bukunya sejenak. "Udara di sini enak banget buat baca. Eh, lu mau jogging sama Reyhan, kan?"
"Iya. Gue pergi dulu, ya. Siang nanti kita bisa jalan bareng," jawab Arel sambil bangkit.
Sarah mengangguk. "Hati-hati, Rel. Jangan lupa cerita serunya nanti."
***
Rumah Reyhan hanya bersebelahan dengan rumah kakek dan nenek Arel. Ketika Arel keluar gerbang, dia melihat Reyhan sudah berdiri di depan rumahnya, menunggu dengan gaya santai memakai kaos olahraga dan celana pendek.
"Pagi, Rel," sapanya dengan senyum lebar.
Arel tersenyum balik. "Pagi juga. Tumben lu duluan siap."
"Ya gue nggak sabar mau lihat lu ngos-ngosan," Reyhan menggoda sambil tertawa kecil.
Arel mendekat. "Jangan mimpi. Kali ini gue bakal bikin lu susah napas."
Fanny tiba-tiba muncul dari pintu rumah. "Bang Reyhan, udah pergi aja. Kak Arel, kalo nanti capek jangan pingsan ya, hahaha!"
"Halah, nggak mungkin," Arel membalas dengan ekspresi percaya diri sambil melambaikan tangan ke Fanny.
***
Mereka mulai jogging di sekitar komplek perumahan. Udara pagi yang segar membuat langkah mereka terasa ringan. Arel terlihat lebih percaya diri, mampu mengimbangi langkah Reyhan tanpa terlihat kelelahan.
"Rel, lu beneran rajin jogging di Bogor?" tanya Reyhan sambil melirik Arel.
"Iya," jawab Arel dengan nada bangga. "Kevin suka ngajak gue tiap pagi, jadi gue sering nemenin dia."
Reyhan mengangguk. "Pantes. Lu sekarang udah beda. Dulu lari lima menit aja udah megap-megap."
Arel tertawa kecil. "Makanya, gue latihan biar nggak kalah terus sama lu."
Mereka terus berlari mengitari komplek, bercanda sepanjang jalan. Reyhan beberapa kali mencoba mempercepat langkahnya untuk menguji Arel, tapi Arel tetap bisa mengimbanginya.
Setelah beberapa putaran, mereka berhenti di taman kecil dekat komplek. Reyhan membeli dua botol air mineral dari pedagang keliling, lalu menyerahkannya ke Arel.
"Thanks," kata Arel sambil membuka botolnya.
"Gue nggak nyangka lu bakal sekuat ini," ujar Reyhan sambil tertawa kecil. "Tadinya gue kira lu bakal nyerah di putaran kedua."
Arel meminum airnya sambil menyeringai. "Gue udah bilang, gue nggak mau kalah lagi. Jadi, lu harus lebih sering latihan, Han."
Reyhan duduk di bangku taman dan menepuk tempat di sebelahnya. Arel ikut duduk, keduanya menikmati udara pagi yang masih segar.
"Rel," Reyhan memulai dengan nada serius. "Lu sekarang kelihatan lebih tenang. Bogor ngasih pengaruh positif, ya?"
Arel mengangguk sambil tersenyum. "Iya. Gue banyak belajar ngatur waktu, latihan, dan menikmati hal-hal kecil. Jadi lebih santai aja."
Reyhan tersenyum kecil, lalu menatap langit yang mulai cerah. "Baguslah. Gue seneng lu ada di sini lagi."
Arel tertawa kecil untuk mencairkan suasana. "Eh, ngomong-ngomong, pacar lu orangnya kayak gimana sih?"
Reyhan mengalihkan pandangannya sambil tersenyum tipis. "Nanti juga lu kenal."
Arel mengangkat alis, tapi memutuskan untuk tidak mendesak. Mereka melanjutkan obrolan santai, sesekali tertawa lepas mengingat kenangan-kenangan lucu yang pernah mereka alami.
Setelah jogging, mereka berjalan kembali ke rumah masing-masing. Arel merasa puas dengan pagi itu. Meski sederhana, momen bersama Reyhan selalu punya arti tersendiri baginya. Di benaknya, dia sudah menantikan cerita-cerita seru yang mungkin akan hadir di hari-hari berikutnya..
***
Hai hai gimana part yang ini?
semoga kalian suka yaa
maaf kalo masih berantakan
Jaga kesehatan ya
Love you all
Salam hangat
Alenaf19 🍓
_11 Januari 2023
KAMU SEDANG MEMBACA
REL & HAN (END)
Novela JuvenilReyhan Alexander adalah cowok tampan dengan kepribadian yang bikin banyak cewek terpikat. Sebagai anak dari seorang pengusaha sukses, Reyhan sering terlihat menikmati hidup dengan caranya sendiri. Dia suka melakukan hal-hal spontan seperti keliling...
