"Gue masih inget gimana juteknya Jungkook pas gue sama dia pertama kali ketemu."
Aera tengah berjalan beriringan dengan Hyorin setelah tidak sengaja bertemu dengan kakak tingkatnya itu yang baru keluar dari ruangan dosen. Katanya, Hyorin baru saja berdiskusi dengan dosen pembimbingnya.
"Padahal gue cuma tanya dimana gedung B, eh dia ketus banget jawabnya. Nggak sampek situ doang, gue mulai sering ketemu sama kakak lo karna kita se-UKM. Lo tau kan kalo Jungkook ikut band kampus? Nah dia jadi vokalis bareng gue."
Aera mengangguk-anggukan kepalanya seakan paham dengan yang dibicarakan Hyorin, padahal sejak awal ia tidak ada minat sama sekali untuk menyimak perkataan Hyorin. Aera merasa jenuh dengan topik obrolan yang selalu kakak tingkatnya itu bawakan saat mereka bertemu. Tentang bagaimana kedekatan dirinya dengan Jungkook.
Aera tidak butuh mendengarkan hal tersebut. Tidak ada untungnya untuk Aera mengetahui seberapa jauh kedekatan kakak tingkatnya yang anggun itu dengan Jungkook. Rasanya, ia ingin cepat-cepat berpisah dengan Hyorin agar tidak mendengarkan cerita membosankan yang entah benar atau tidak dari bibir kakak tingkatnya itu.
"Oiya, gue sempet ngerasa sih kalo kakak lo kayaknya suka sama gue."
Dan perkataan Hyorin yang satu itu membuat Aera diam-diam memutar bola matanya.
"Sering banget gue mergokin Jungkook lirik-lirik gue gak jelas, duduk deket-deket gue pas mau ngeband, trus diem-diem perhatian ke gue kayak waktu dia ngasih minuman ke gue, gimana gue nggak ke pd an coba? Jarang banget Jungkook begitu sama cewek—"
"—lagi, sekarang dia juga nggak sejutek dulu kalo sama gue, malah kayak nyaman banget ngobrol bareng gue."
Aera sekuat mungkin menahan mulutnya agar tidak menguap. Sungguh ia tidak berbohong kalau cerita Hyorin sudah mirip dongeng pengantar tidur baginya.
"Trus pernah juga dia—"
"Eh kak! Gue ke perpus dulu ya, baru inget tadi ada yang ketinggalan disana." Aera memotong ucapan Hyorin seraya berbalik arah dan berjalan berlawanan arah dengan perempuan itu.
"Iya hati-hati ya, ketemu lagi nanti!" Seru Hyorin dengan senyum lebarnya sembari melambaikan tangannya pada Aera.
Sebenarnya Aera tidak benar-benar akan ke perpustakaan, hanya alasan saja. Gadis itu lantas menghela napas lega karena berhasil terlepas dari Hyorin. Kenapa tidak dari tadi saja ia beralasan pergi ke perpustakaan. Setelah ini, Aera sepertinya harus segera menghindar kalau melihat sosok kakak tingkatnya itu sebelum menghampiri dirinya dan berakhir mendengarkan cerita Hyorin yang mirip sebuah bualan bagi Aera.
Aera terus melangkahkan kakinya entah kemana. Hingga ia melewati segerombolan pemuda yang tampak asik bercanda, dari tampilannya Aera yakin mereka kakak tingkatnya.
"Kiw cantik!" Celetuk salah satu diantara mereka dan ada lagi yang sengaja bersiul kala Aera melewati mereka.
Aera mempercepat langkahnya, namun belum terlalu jauh melewati gerombolan pemuda tadi, seseorang tiba-tiba merangkul bahunya membuat Aera tersentak. Gadis itu menoleh dan seketika merasa tenang melihat si pelaku. Jimin.
Rupanya hal yang dilakukan Jimin cukup untuk membuat gerombolan tadi terdiam dan berhenti menggoda Aera.
"Thanks kak." Jimin mengulas senyum manisnya sebagai balasan dari ucapan Aera.
Lengan Jimin seolah nyaman bertengger dipundak Aera, terlihat dari bagaimana pemuda itu masih betah merangkul Aera walaupun jarak mereka dengan gerombolan pemuda tadi sudah lumayan jauh.
Disisi lain,
"Jung, adek lo lagi deket sama seseorang ya?" Tanya Hoseok sembari memperhatikan sesuatu yang berjarak lumayan jauh darinya. Terlihat samar, namun ia tau siapa itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Crazy Brother - jjk
FanfictionAwalnya, Aera pikir tidak masalah memiliki saudara tiri seperti Jungkook. Namun, setelah bertemu dan tinggal berdua dengan Jungkook membuat Aera menarik perkataannya. Dia, pemuda yang selalu menatapnya sengit. Jeon Jungkook. Sosok sempurna yang memb...
