Sepertinya Jungkook hanya sedang berhalusinasi. Dalam tidurnya selama beberapa hari terakhir, ia selalu merasakan usapan lembut dipunggung tangannya dan bisikan lirih dari gadis yang dicintainya. Rasanya sangat nyata, hingga di alam bawah sadarnya, Jungkook ingin membuka matanya lebih cepat. Ia sadar sudah tertidur cukup lama dan jiwanya seakan terdampar ditempat asing ini.
2 hari? Ataukah 4 hari?
Ia masih bergulat dengan kesadarannya sendiri. Mencoba mencari jalan dimana letak pintu keluar dari sebuah hamparan rumput indah yang ditempatinya kini. Pemandangan yang sangat indah, suasana disini pun sangat damai. Terlebih dengan sosok mamanya yang berada disampingnya.
Ia bahagia bisa melihat mamanya dari dekat, dengan jubah putih dan wajah yang tampak bersinar. Tersenyum dan memberikan usakan dirambutnya sama seperti saat Jungkook kecil, seakan memberitahu bahwa dirinya sudah menjadi anak yang baik. Bukankah ini yang diharapkan Jungkook? Bertemu lagi dengan mamanya dan mungkin akan tinggal selamanya bersama mamanya disini? Rasa rindu Jungkook pada mamanya sudah sedikit terobati.
Namun, bukan ini yang sekarang Jungkook inginkan. Ada seseorang yang menunggunya. Seseorang yang mengharapkan dirinya. Seseorang yang mungkin sekarang tengah merindukan dirinya layaknya Jungkook merindukan mamanya. Entahlah, Jungkook merasa ada yang mengganjal dihatinya. Oleh karena itu, pemuda itu memilih berjalan menjauh. Meninggalkan mamanya yang menatapnya dengan raut kecewa.
Jungkook melangkahkan kakinya perlahan, menuju sebuah cahaya yang cukup menyilaukan mata. Dari arah cahaya itu, ia kembali mendengar suara itu. Suara parau yang memanggil namanya, yang menyuruhnya untuk membuka mata. Dan tanpa pikir panjang, Jungkook mempercepat langkahnya. Menembus cahaya itu.
Terlalu terang, matanya yang baru saja terbuka sedikit masih mencoba beradaptasi dengan cahaya yang baru saja menembus retinanya. Pening perlahan melanda, membuat Jungkook kembali memejamkan matanya. Berusaha meredamnya. Rungunya menangkap suara yang mulanya terdengar samar perlahan menjadi jelas.
Jungkook kembali membuka kedua matanya, dan pandangannya sudah lebih membaik dari sebelumnya yang hanya seperti berisi kabut. Ia melirik ke tempat dimana suara itu berasal. Seorang gadis yang menelungkupkan kepalanya disamping tangan kanannya yang digenggam erat.
Jungkook mencoba menggerakan jemari tangannya. Memaksa persendian yang terasa kaku itu untuk bergerak membalas genggaman tangan gadis yang sepertinya tengah terlelap namun masih memanggil-manggil namanya lirih seakan sedang mengigau.
Pergerakan kecil dari jemarinya itu rupanya langsung membangunkan si gadis. Mengerjap-ngerjapkan matanya seraya memandangi jemari digenggamannya yang tadi terasa bergerak.
"A-aera?"
Deg!
Suara itu, suara yang dirindukan Aera selama satu bulan ini.
Aera sontak menoleh, menatap Jungkook yang sudah membuka matanya. Tatapannya sayu. Seketika bulir bening menetes dari pelupuk Aera.
Ia merasa lega. Sungguh lega. Penantiannya, doanya, ternyata tidak sia-sia. Jungkook sudah bangun. Pemuda itu rupanya sudah merasa lelah tertidur layaknya seorang putri tidur.
"Kak..." Aera refleks memeluk Jungkook, tidak terlalu erat. Karena ia takut menyakiti Jungkook.
Setelahnya, ia langsung memencet tombol panggilan disebelah kasur rumah sakit yang ditempati Jungkook.
"Kak... Maafin gue." Hanya kata itu yang mampu Aera ucapkan.
Rasa bersalahnya, rasa menyesalnya, terpupuk menjadi satu. Ada banyak kalimat yang ingin ia utarakan, namun hanya kata maaf itu yang mampu terucap.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Crazy Brother - jjk
Fan-FictionAwalnya, Aera pikir tidak masalah memiliki saudara tiri seperti Jungkook. Namun, setelah bertemu dan tinggal berdua dengan Jungkook membuat Aera menarik perkataannya. Dia, pemuda yang selalu menatapnya sengit. Jeon Jungkook. Sosok sempurna yang memb...
