Aera hanya dapat duduk terdiam dibangku halte sambil memandangi ponselnya yang telah kehabisan baterai. Rasanya Aera ingin melemparkan benda pipih digenggamannya yang tidak dapat membantunya sama sekali di situasi seperti ini.
Aera bingung harus pergi kemana, ia masih belum hafal jalanan dikota ini. Ia hanya tau jalanan dari rumah ke kampus dan begitu sebaliknya. Sebenarnya Aera itu merupakan tipikal orang yang susah mengingat jalan, sehingga disituasi seperti ini ia hanya dapat berdiam diri di halte menunggu penolongnya datang.
Untung tadi ia sempat memberitahu Lia dengan menjelaskan sekelilingnya sebelum ponselnya tiba-tiba mati karena kehabisan baterai.
"Tau gini gue mending mesen ojol aja tadi, mana nggak ada taksi lewat juga." Gerutu Aera sambil menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri berharap menemukan taksi ataupun ojek yang lewat. Ya, setidaknya ia masih tau nama kompleks rumahnya walaupun tidak tau arah jalannya dari sini.
Kalau tau ia akhirnya akan terlantar dipinggir jalan seperti ini, Aera tidak akan mencoba-coba naik bis sendirian. Setidaknya ia perlu teman yang akan membangunkannya kalau tertidur di dalam bis agar tidak terlewat lagi. Cukup sekali ini saja.
Lama termenung dan mengasihani nasibnya sendiri di bangku halte, Aera tidak menyadari bahwa seseorang sudah berdiri tepat dihadapannya. Sosok itu berjalan lebih dekat hingga Aera yang sedang menunduk dapat menangkap kaki yang hanya beralaskan sandal tidur dihadapannya.
Aera sontak mendongak, dan mendapati pemuda yang sama sekali tidak terpikir olehnya akan datang dan menjemput dirinya. Sosok itu menatap Aera dengan pandangan datarnya seperti biasa.
"Ayo!"
Setelah berucap singkat dengan nada ketus yang terlalu kentara, pemuda itu langsung melangkah menjauh membuat Aera tergopoh-gopoh menyusulnya.
"Jungkook! Tungguin gue!"
Seolah tuli, Jungkook terus melanjutkan langkah lebarnya menuju mobilnya yang terletak lumayan jauh dari halte. Dari penampilan Jungkook, Aera yakin kalau pemuda itu sebelum datang kesini sedang tiduran di rumah.
Apakah Lia tadi memberitahu Jungkook?
"Lo kok bisa tau gue ada disini?" Tanya Aera saat dirinya sudah duduk manis dijok mobil Jungkook tepat disebelah pemuda itu yang berada dibalik kemudi.
"Ceroboh banget jadi orang." Bukannya menjawab pertanyaan Aera, Jungkook justru membuat gadis itu mencebik, kesal akan perkataannya.
"Yakan gue juga baru disini, nggak tau rute bis." Elak Aera dengan bibir cemberut.
"Tau gitu ngapain nekat naik bis sendiri? Tolol!" Sahut Jungkook dengan nada santai namun mampu membuat Aera panas, menahan mati-matian agar tidak mencekik leher sosok yang tampak fokus mengemudi disebelahnya.
Aera memilih diam, tidak menyahuti perkataan Jungkook dan mengatupkan bibirnya rapat sambil bersedekap dada.
Saat ini jam sudah menunjukan pukul 5 sore, dan artinya ia sudah terlalu lama terdampar di halte seperti orang hilang tadi. Aera mendesah lelah lalu menyandarkan kepalanya dan menatap jalanan dari kaca sampingnya. Matanya menyipit saat menangkap sebuah keramaian di pinggir jalan.
"Eh eh mau ada pasar malem ya? Mampir dong!"
Masih dengan mata yang mengamati keramaian itu, kedua tangan Aera menarik-narik lengan jungkook membuat pemuda itu menatap lengannya sebentar sebelum beralih melirik sekilas apa yang dilihat Aera.
Merasa tidak mendapat respon dari Jungkook, Aera menoleh. Ia mendengus saat mendapati Jungkook yang memilih acuh dan tetap fokus menyetir dengan pandangan lurus ke jalanan di depannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Crazy Brother - jjk
Fiksyen PeminatAwalnya, Aera pikir tidak masalah memiliki saudara tiri seperti Jungkook. Namun, setelah bertemu dan tinggal berdua dengan Jungkook membuat Aera menarik perkataannya. Dia, pemuda yang selalu menatapnya sengit. Jeon Jungkook. Sosok sempurna yang memb...
