40. Fooled

4.9K 693 58
                                        

Entah apa yang membawa Aera hingga melangkahkan kakinya mendekat pada sosok yang tengah duduk disalah satu bangku taman kampus dengan kedua telinga yang tersumpal earphone. Pemuda itu terlihat memejamkan mata, terlalu hanyut dengan pikirannya sendiri hingga tidak menyadari Aera yang sudah mengambil duduk disebelahnya.

Tak ingin mengganggu pemuda disampingnya, Aera memutuskan untuk tetap diam setelah sempat melirik tangan yang masih diikat perban seperti terakhir mereka bertemu. Gadis itu mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, mengamati warga kampus yang berlalu-lalang.

Jimin, yang merasakan ada sesuatu disebelahnya pun menoleh, lantas terkejut mendapati gadis berambut pendek yang tengah asik memerhatikan kebisingan disekitar mereka sudah duduk disampingnya. Dengan tangan kirinya, Jimin melepas earphone dari kedua telinganya.

"Aera, sejak kapan lo disini?" Tanya Jimin membuat Aera menoleh lalu menampilkan cengirannya.

"Dari sejam tadi." Jimin melongo.

"Bohong ya? Orang gue gak ada lima belas menit disini." Selidik Jimin lalu mendapati Aera yang cekikikan.

"Becanda kak, baru aja kok. Tadi gue gak sengaja lewat trus liat lo sendiri disini jadi gue samperin deh." Ucap Aera dengan tersenyum lebar hingga menampilkan gigi putihnya.

Gadis itu menopangkan kedua tangannya disisi badan, dengan kaki yang diayun-ayunkan. Jimin yang melihatnya ikut tersenyum, lantas memiringkan kepalanya sedikit untuk melihat raut wajah Aera yang terlihat sedang bahagia.

"Ada yang lagi seneng nih? Hayo abis menang lotre ya lo?"

Aera mendelik, membuat Jimin tertawa setelahnya. Tawa yang terdengar renyah ditelinga Aera.

"Spill dong! Gak biasanya lo sampe senyum-senyum sendiri gini. Gue tembak dulu juga keknya biasa aja lo Ra."

Kedua mata Aera sontak menyipit.

"Kapan lo nembak gue kak? Bukannya dulu lo bilang cuma mau ngasih tau perasaan lo ke gue ya?" Goda Aera membuat Jimin menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Mm.. ini lo ngode minta gue tembak apa gimana?"

"Eh bukan gitu maksud gue kak!" Aera panik. Ia menegakan punggung menghadap Jimin dengan menggoyangkan kedua tangannya didepan seolah memberitahu bahwa yang dikatan Jimin tidak benar.

Jimin terbahak melihat ekspresi Aera. Sedangkan gadis itu berganti menatap Jimin dengan raut wajah kebingungan.

"Gue becanda Ra.. gak usah panik gitu." Aera merengut, lalu membuang muka. Kesal dengan Jimin yang suka sekali menjahilinya.

Beberapa detik kemudian, Aera tidak mendengar tawa Jimin lagi. Dari sudut matanya, ia melihat Jimin yang tengah tersenyum miris sembari menatap lurus kedepan.

"Gue tau kalo hati lo bukan buat gue Ra." Seketika Aera menoleh.

"Dari awal gue udah paham lo cuma nganggep gue sebagai kakak lo sendiri. Gue aja yang baper tiap deket lo." Jimin terkekeh pelan. Ia pun menoleh, membalas tatapan Aera.

"Kalo gue bisa milih, gue bakalan milih diposisi Jungkook Ra."

Deg!

Aera merasa jantungnya seolah berhenti berdetak saat mendengar Jimin menyebutkan nama itu. Ia mendadak gugup.

"Setidaknya kalo gue jadi Jungkook, gue udah resmi berstatus sebagai kakak lo. Jadi gue nggak akan terlalu sakit hati pas tau, lo sebenernya cuma nganggep gue kayak kakak lo sendiri."

Aera bingung. Kenapa orang-orang jadi suka sekali menyimpulkan sesuatu dari pandangan mereka sendiri tanpa ingin menanyainya terlebih dahulu.

Bagaimana kalau Aera sebenarnya tidak menganggap Jimin sebagai kakaknya sendiri, namun sebagai layaknya seorang laki-laki?

My Crazy Brother - jjkCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang