Aera saat ini tengah duduk dilantai depan ruang kelasnya, sendirian sambil menatap nanar lembar kuis yang ada ditangannya. Sebuah coretan angka dengan warna merah itu membuat dirinya mengacak rambutnya frustasi.
Aera kesal, tetapi tidak bisa menyalahkan dosen maupun soal yang terlalu sulit. Karena pada dasarnya, Aera lah yang salah. Dia tidak belajar tadi malam. Salah besar karena ia menganggap dosen semacam Pak Hong akan memberikan soal kuis yang gampang dan mudah dinalar. Kenyataannya, soal kuis yang diberikan pak Hong bahkan lebih susah dari soal kuis Bu Joo, si dosen killer nomer 1 di prodinya.
Bagaimana sekarang? Kuis pertama mata kuliah Pak Hong dan ia sudah mendapatkan nilai minus. Diawal pertemuan, Pak Hong sudah memperingatkan bahwa nilai yang ia ambil untuk kartu hasil studi sebagian besar dari nilai kuis— 50% kuis, 25% kehadiran dan sisanya dari ujian.
Okay, Aera boleh panik.
"Aera? Ngapain disini sendirian?" Suara itu sontak membuat Aera mendongak dan dengan cepat menyembunyikan kertas kuisnya. Ia malu.
"Eh kak Jimin.." Aera menyengir mendapati Jimin yang sudah berdiri dihadapannya sambil melongokan kepalanya mencoba mengintip apa yang disembunyikan Aera.
"Apaan tuh?"
Jimin ikut mendudukan dirinya disebelah Aera, sedangkan Aera segera menyerongkan tubuhnya guna menghindarkan kertas dibelakang punggungnya dari pandangan Jimin.
"Eh bukan apa-apa kak hehe." Aera menggeleng cepat.
Jimin semakin penasaran dengan apa yang disembunyikan Aera. Oleh karena itu, ia mencoba merebut kertas kuis dibelakang punggung gadis yang duduk dihadapannya.
"Kak! Bukan apa-apa serius!— Ih geli kak hahaha."
Jimin yang belum juga dapat meraih benda yang disembunyikan Aera, akhirnya memilih jurus lain. Menggelitiki pinggang Aera hingga gadis itu menggeliat kegelian. Saat gadis itu mulai lengah, Jimin menyahut kertas kuis ditangan.
"Eh! Yahh kak balikin!"
"Lah nilai apaan nih?" Jimin mengerutkan dahinya kala melihat dua digit angka dengan warna merah yang tertulis di ujung kertas. Sepersekian detik kemudian, ia terbahak dan membuat Aera cemberut sembari menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Kak Jimin, gue malu kak." Rengek Aera.
Bukannya berhenti tertawa, pemuda itu justru sampai terjungkal ke belakang sambil memegangi perutnya.
"Kok bisa sih dapet nilai segini? Udah kek ukuran sendal. Lo nggak belajar ya?" Ucap Jimin disela tawanya dengan tubuh yang setengah berbaring di lantai.
"Ih gausah ngeledek deh, sini balikin!" Aera mencoba merebut kembali kertas kuisnya dari Jimin. Masa bodoh dengan wajahnya yang mungkin sudah memerah karena malu, yang penting ia harus mendapatkan kertas keramat itu kembali.
"Ciee.."
Aera lantas menoleh, mendapati Hyorin yang berdiri sambil menutup mulutnya. Begitu pula Jimin juga ikut menoleh kesumber suara. Saat Jimin lengah, Aera segera menyahut kertasnya lalu bangkit berdiri setelah sempat meraih tasnya.
"Kalian pacaran ya?" Tanya Hyorin dengan tersenyum jail yang membuat Aera melotot.
"Eh bukan kak!" Bantah Aera namun justru mengundang kekehan dari Hyorin.
"Udah Ra, gausah malu-malu gitu sama gue. Kek sama siapa aja, gue kan temen deket kakak lo." Hyorin menaik turunkan alisnya bermaksud menggoda Aera.
"Astaga, serius bukan kak.."
"Masih otw sih Rin." Sahut Jimin yang masih terduduk di lantai.
"Tuh kan, berarti cuman belum aja. Ciee Aera, jangan lupa pj ya kalo udah jadian." Seusai berucap, Hyorin pergi begitu saja menyisakan Aera yang menghela napas lalu memandang sebal kearah Jimin.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Crazy Brother - jjk
FanfictionAwalnya, Aera pikir tidak masalah memiliki saudara tiri seperti Jungkook. Namun, setelah bertemu dan tinggal berdua dengan Jungkook membuat Aera menarik perkataannya. Dia, pemuda yang selalu menatapnya sengit. Jeon Jungkook. Sosok sempurna yang memb...
