Jungkook sinting— itu yang Aera pikirkan akan sosok dengan lengan penuh tato itu. Si berandalan yang sialnya juga si multitalent. Aera tidak akan lupa bagaimana Jungkook menciumnya dengan paksa kemarin malam, tak mengindahkan status mereka sebagai saudara. Jungkook sudah melewati batas. Bagaimana bisa pemuda itu mencium dirinya yang notabenenya adalah saudaranya sendiri.
Aera harus menjauhi Jungkook. Berada didekat pemuda itu hanya akan membawa malapetaka baginya, melihat bagaimana pemuda itu makin lama makin kurang ajar padanya. Haruskah Aera melaporkan Jungkook pada Sunmi? Tidak! Ia tidak ingin memperkeruh masalah ini. Pada awalnya Aera selalu berpikir, semua yang terjadi hanyalah sekedar kelabilan tingkah Jungkook saja dan keisengan pemuda itu. Namun sekarang Aera yakin seratus persen, Jungkook sudah tidak waras.
Dan hari ini, pagi ini, Aera sudah bertekad tidak akan mau bertegur sapa ataupun sekedar menengok pemuda itu. Ia akan berangkat ke kampus sendiri. Masa bodoh kalau Jungkook memaksanya untuk berangkat bersama seperti biasa, Aera akan tetap menolak dengan tegas.
Namun, angannya tadi tidak sepenuhnya terjadi. Tidak ada Jungkook yang biasanya sudah mengerling nakal padanya di pagi hari. Tidak ada Jungkook yang memaksanya untuk mengantar dirinya ke kampus. Tidak ada Jungkook dirumah?
Aera ingin bertanya pada Sunmi saat sarapan, namun egonya terlalu tinggi dan tidak ingin begitu peduli tentang pemuda kurang ajar itu. Terlebih melihat gerak-gerik Sunmi yang seakan tidak ingin diganggu membuat Aera berbikir ulang untuk menanyakan Jungkook. Aneh, mamanya terlihat dingin, membuat Aera mengingat bagaimana cara wanita itu kalau sedang marah padanya. Tapi apa yang telah ia lakukan?
"Bi, Jungkook berangkat dari pagi ya?" Tanya Aera yang sudah mensejajari bibi Choi. Astaga, ingatkan Aera siapa tadi yang berniat tidak peduli pada sosok saudaranya itu.
"Eh iya nak Aera, nak Jungkook pagi-pagi banget udah keluar rumah tadi." Jawab bibi Choi.
Aera hendak bertanya lagi namun tertahan setelah mendengar suara Sunmi yang menyela.
"Aera, mama besok pulang." Setelah berkata demikian, Sunmi berlalu begitu saja meninggalkan Aera yang terbengong.
Besok? Bukankah mamanya akan pulang 2 hari lagi?
"Bi!"
Bibi Choi yang sibuk membereskan piring di meja menoleh.
"Mama kenapa sih bi?" Tanya Aera penasaran.
Bibi Choi tampak menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri seolah memastikan tidak ada orang lain yang akan mendengar ucapannya.
"Bibi gak tau nak Aera, tapi.. tadi bibi sempat liat nak Jungkook pas mau keluar rumah lagi ngomong sama mamanya nak Aera. Bibi gak tau bahas apa yang jelas, kayaknya mereka lagi ngomongin hal serius. Trus mamanya nak Aera tiba-tiba ngebentak nak Jungkook sampe bibi kaget, bibi langsung simpulin kalo mereka lagi berantem, apalagi nak Jungkook abis dibentak langsung pergi gitu aja. Nak Aera sih jam segini baru bang—"
"Bi Choi!" Panggilan tersebut membuat bibi Choi yang sedang menceritakan apa yang tadi terjadi, terkejut. Begitu pula Aera yang sedari tadi menyimak dengan serius cerita bibi Choi.
Disana sudah tampak Sunmi yang berdiri sambil bersedekap tangan memandang mereka berdua datar.
"Kamu tolong buatkan saya teh hangat."
"Baik."
Bibi Choi tergopoh-gopoh kembali ke dapur. Meninggalkan Aera yang menatap Sunmi curiga.
"Ma! Mama kenapa sih dari tadi kayak uring-uringan."
"Nggak, perasaanmu aja." Sunmi hendak beranjak namun kembali membalikan badannya menatap Aera.
"Mulai sekarang, kamu kalau mau pergi sama supir pribadi. Mama udah minta mantan supir papa kamu yang tinggal disini buat antar jemput kamu dari kampus ataupun mau jalan-jalan keluar."
KAMU SEDANG MEMBACA
My Crazy Brother - jjk
FanficAwalnya, Aera pikir tidak masalah memiliki saudara tiri seperti Jungkook. Namun, setelah bertemu dan tinggal berdua dengan Jungkook membuat Aera menarik perkataannya. Dia, pemuda yang selalu menatapnya sengit. Jeon Jungkook. Sosok sempurna yang memb...
